Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 65 - Levin's Feeling



Kenzo kini sedang berada di markas tempat ia, Davin, dan rekan-rekan mereka lainnya berkumpul. Tempat itu sudah mulai jarang didatangi oleh Davin, namun pria itu diam-diam masih tetap mengurus bisnis undergroundnya walau istrinya sudah melarangnya.


Kenzo menatap sosok Ansell yang sedang duduk di atas kursi dengan sebuah komputer di depannya.


Sudah lama pria itu tidak terlihat. Biasanya ia akan menganggunya serta menculik anak kembar Davin ke Mansionnya.


"Bagaimana buruanmu di Berlin?" Tanya Kenzo sambil duduk di atas sofa empuk ruangan megah, mewah dan canggih tersebut.


Ansell menoleh pada Kenzo. "Kau tau?" Tanya Ansell.


"Iya, Davin yang memberi tau." Jawabnya.


Ansell mendecak. "Si sialan itu selalu menggangguku." Ujarnya dan Kenzo tau persis siapa yang dia maksud.


Dia adalah Lucas. Pria yang memiliki kemampuan hebat seperti yang Ansell miliki. Mereka tidak pernah akur. Entah kenapa mereka selalu seakan berlomba siapa yang paling hebat dan siapa yang akan menang.


"Siapa yang kalian buru?" Tanya Kenzo. Entah kenapa dua pria itu harus memburu hal yang sama.


"Kau tidak perlu tau." Jawab Ansell kembali fokus pada komputernya.


Kenzo pun hanya diam. Ia juga tidak terlalu peduli urusan mereka.


"Bagaimana dengan Desmond?" Tanya Kenzo lagi.


"Levin benar, mantan kekasihmu itu adalah bawahannya, bahkan sejak sebelum kalian bertemu." Jawab Ansell.


"Kau menemukan datanya?" Tanya Kenzo.


"Lihat ke layar!" Kenzo menoleh pada sebuah layar sebesar 98 inci yang menyatu dengan dinding. Ansell menampilkan sebuah lampiran ke layar besar tersebut yang dikontrol dari komputer miliknya.


"Dia diambil oleh Desmond dari sebuah panti asuhan ketika umurnya 13 tahun. Pria itu sejak dulu sering mengambil anak terlantar untuk dirawat dan akan dijadikan sebagai bawahannya. Begitupula Damian, ia juga diambil dari panti asuhan ketika umurnya 15 tahun."


"Sepertinya dia memang memerintahkan wanita itu untuk mendekatimu." Ujar Ansell lagi.


"Lihat ini!" Ansell menampilkan sebuah foto bangunan yang sangat Kenzo kenali dulu dan sebuah gambar dokumen-dokumen pembelian dan identitas.


"Bangunan ini dibeli atas nama Annelise Montiva. Itu adalah nama aslinya dari data panti asuhan, sebelum Desmond memberikan identitasnya yang sekarang."


Ansell menampilkan sebuah lampiran dokumen lagi. "Damian memiliki seorang adik perempuan. Mereka berdua tinggal di panti asuhan setelah kedua orangtua mereka meninggal karena kecelakaan."


"Dimana adik perempuannya?" Tanya Kenzo.


"Meninggal, sebulan sebelum Desmond membawanya. Adiknya mengalami pelecehan seksual dan penganiayaan yang dilakukan oleh tiga orang pekerja laki-laki di panti asuhan itu." Ansell melampirkan beberapa foto seorang anak perempuan yang terlihat cantik serta beberapa foto Damian dan keluarganya waktu ia masih kecil.


"Aku hanya menemukan penelitian yang dilakukan Adam Alterio, tapi tidak ada bukti yang mengatakan bahwa dia berkhianat." Ujar Ansell.


"Lalu Desmond yang menciptakan bukti palsu?" Tanya lagi.


"Mungkin saja dia. Nyatanya yang lebih diuntungkan setelah kematian Adam Alterio adalah Kau dan Desmond, walaupun uang kalian harus hangus karena project nya tidak selesai." Ujarnya.


"Tapi aku menemukan hal yang aneh." Ansell melampirkan lagi beberapa dokumen dan foto di layar besar tersebut.


"Desmond telah menginvestasikan dana besar sejak 7 tahun yang lalu ke sebuah perusahaan dengan bidang yang mirip dengan perusahaan Adam Alterio." Kenzo bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ia menatap sebuah gedung perusahaan tersebut dengan lekat.


"Sepertinya kau sudah tau apa yang aku maksud." Ujar Ansell menatap reaksi Kenzo.


"Apa dia melanjutkan project itu selama ini?" Tanya Kenzo.


"Mungkin saja." Jawab Ansell singkat sambil menggedikkan bahu.


Sudah 7 tahun dan Kenzo baru mengetahui bahwa Desmond sudah menyiapkan dan melakukan ini semua.


Flashback On


Five years ago


"Kau harus menyelediki Desmond." Kenzo menatap Levin dengan wajah datar.


"Kenapa?" Tanya Kenzo dingin.


"Sepertinya dia telah merencanakan sesuatu." Ujar Levin.


"Dari mana kau tau?"


"Hanya melihat dari pergerakannya." Jawab Levin santai. Ia terlihat tidak serius mengatakannya, membuat Kenzo pun menanggapinya dengan tidak serius.


Kenzo pun meninggalkan cermin dalam kamar mandinya dengan wajah datar.


Flashback Off


Kenangan itu kembali lagi di kepalanya. Kata-kata Levin kala itu ternyata benar-benar memilik makna dan itu terjadi hari ini. Apa memang Levin sudah mengetahuinya sejak awal, atau pria itu hanya memiliki firasat yang bagus.


Bersambung....