Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 31



Kenzo melangkah masuk ke dalam Mansionnya dengan Crystal yang berada digendongannya. Crystal terlihat sangat pasrah di dalam dekapan Kenzo dengan wajah sembab. Tenaganya benar-benar habis sekarang, bahkan untuk mengangkat tangannya saja ia tidak bisa.


Jika saja Kenzo terlambat satu menit saat itu, mungkin saja James sudah berhasil memperkosanya di dalam toilet tersebut.


Kenzo menaiki satu-persatu anak tangga dan melangkah ke arah kamar gadis itu. Rose yang menyambut kedatangan mereka langsung dibuat terkejut saat melihat keadaan Crystal yang terlihat lemah.


Kenzo menghiraukan raut panik dan khawatir dari wanita paruh baya tersebut dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar gadis itu.


"Panggil dokter!" ujar Kenzo pada Rose.


Rose mengangguk dan pamit undur diri untuk menelepon dokter. Kenzo membaringkan tubuh lemas Crys di atas ranjang.


"Ganti pakaianmu!" ujar Kenzo dingin dan datar dengan pandangan tajam.


Crystal mencoba untuk duduk di atas ranjang sambil meringis kecil. Dengan perlahan, gadis itu menggeser tubuhnya ke tepi ranjang dan mencoba bangkit dari ranjang tersebut.


Saat kakinya menapak lantai, tubuh Crys langsung limbung ke tanah karena kakinya yang masih bergetar tak bertenaga.


Kenzo yang sejak tadi berdiri memperhatikan pergerakan gadis itu langsung mendecih. Ia melangkah mendekati Crystal yang terduduk diam sambil menahan tangis.


"Kau tidak punya mulut untuk meminta bantuan orang lain?" tanya Kenzo dingin sambil berjongkok dan kembali menggendong tubuh gadis itu dan mendudukkannya di atas ranjang.


Crystal terdiam tak membuka mulut. Setelah itu Kenzo berjalan ke arah lemari dan mengambil asal piyama yang ada disana.


"Pakai ini!" titah Kenzo sambil melempar piyama tersebut ke samping Crys.


Kenzo berjalan ke arah balkon dan berdiri di sana sambil membelakangi gadis itu. Crystal tertegun ketika menyadari bahwa pria itu pergi dari sana untuk memberikannya ruang saat berganti pakaian.


Crystal menatap punggung lebar Kenzo dengan lekat, lalu melepas jas pria itu dari tubuhnya. Gaunnya yang sobek cukup parah, memudahkannya untuk melucuti gaun tersebut dari tubuhnya.


Crystal lebih dulu memakai celana tidur pendeknya, lalu memakai piyamanya. Jarinya mencoba membuka kancing piyama tersebut dengan susah payah. Tenaganya terkuras habis, bahkan untuk membuka kancing tersebut saja ia kesulitan. Tangannya bergetar diiringi rasa ngilu dari lebam di pergelangan tangannya.


Crystal berusaha sangat keras hingga sekian lama akhirnya satu kancing atas sudah terbuka. Jarinya mencoba membuka sisa kancing di bawahnya lagi, namun rasanya ia ingin menangis karena terasa sangat sulit.


Ia ingin menangis karena ia merasa sangat lemah. Ia ingin menangis karena melakukan hal kecil seperti ini dia kesulitan. Ia ingin menangis karena dia tidak berdaya.


Matanya memanas, namun jarinya masih berusaha mencoba. Akhirnya air matanya menetes, berusaha berkali-kali melakukannya namun tidak berhasil.


Kenzo yang berdiri diam di balkon mulai menangkap suara isakan kecil dari belakangnya.


Dia tau suara isakan milik siapa itu. Kenzo masih bertahan untuk tidak berbalik. Jika memang Crystal butuh bantuannya, dia bisa mengatakannya dengan mulutnya.


Namun suara isakan tersebut semakin mengganggunya dan akhirnya ia berbalik menatap ke arah gadis tersebut.


Mata Kenzo menangkap bahwa Crystal masih belum mengenakan baju atasannya.


Kenzo perlahan berjalan mendekati gadis tersebut yang sedang menangis tertahan dan menemukan


gadis itu sedang berusaha membuka kancing piayamanya dengan tangan gemetar dan air mata


bercucuran. Lelaki itu mengumpat pelan.


Air matanya menetes tanpa henti membasahi pipinya yang merah. Wajah gadis itu perlahan terangkat menatap Kenzo dengan tatapan meluluhkan.


"Aku... Aku sudah berusaha... tapi ini sangat sulit." ujar Crys dengan tangan bergetar hebat dan wajahnya yang penuh air mata.


"Aku tidak bisa melakukannya, hiks." ujar Crys terisak.


"Biar aku yang melakukannya." Kenzo berjongkok, lalu mengambil piyama gadis itu dari tangannya dan membuka kancingnya dengan begitu mudah.


Setelah selesai, ia juga membantu mengenakan piyama tersebut di tubuh gadis itu dan mengancingkannya kembali satu persatu.


Kenzo bisa menangkap lebam di pergelangan tangan gadis itu dengan jelas. Terdapat cakaran juga di bahu, leher serta lengannya. Kenzo yakin cakaran ini karena James yang berusaha merobek kasar gaun yang dikenakan gadis di depannya ini. Terdapat juga bekas cekikan tangan di leher putih Crys.


Namun yang paling membuat Kenzo menggeram marah adalah saat ia melihat sudut bibir gadis itu yang koyak dan mengeluarkan darah. Pipi gadis itu merah dan bengkak.


"Terimakasih." ujar Crystal tulus, namun tidak berani menatap mata Kenzo. Aura pria itu masih terasa sangat menyeramkan sama saat dia mendobrak pintu toilet tadi.


"Apa dia 'menyentuhmu'?" tanya Kenzo dingin dengan mata tajam.


Crys mendongak untuk menatap mata Kenzo yang berkilat marah. Tentu saja pria itu menyentuh tubuhnya. Namun jika kata 'menyentuh' yang dimaksud Kenzo adalah makna lain, maka Crys harus memutar otaknya.


James memang berusaha menciumnya, namun Crys menolak dan memberontak dengan sekuat tenaga sehingga pria itu menamparnya lagi untuk kedua kalinya.


Tapi Crys tidak bisa menghilangkan fakta bahwa tangan James berhasil meraba tubuhnya. Crys bahkan masih bisa merasakan bagaimana tangan James mengelus pahanya saat itu.


Crystal menundukkan kepalanya dan mencoba menghindari tatapan tajam pria dihadapannya.


"Untungnya dia belum sempat melakukan lebih dari itu." ujar Crystal mendesis pelan, namun Kenzo bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


Tangan Kenzo mengepal erat hingga urat-urat tangannya bermunculan. Pintu tiba-tiba terbuka dan muncullah sosok Rose bersama dengan seorang dokter pria bernama Ryan.


Ryan masuk ke dalam kamar gadis itu dan mendekati kedua insan dengan aura mencekam. Kenzo menatap ke arah pria tersebut dengan mata tajamnya.


"Obati dia!" titah Kenzo singkat, padat dan jelas, lalu berjalan meninggalkan kamar tersebut dengan ekspresi wajahnya yang menyeramkan.


Crystal masih menunduk di atas ranjang dengan wajah sedihnya. Perlahan tangannya naik untuk mengusap pipinya yang masih sedikit basah.


Ryan berjalan mendekati gadis tersebut. "Ini kedua kalinya aku mengobatimu dalam jangka waktu kurang dari satu bulan." ujar Ryan yang berhasil membuat Crys mengernyit.


"Ini dokter Ryan, teman dekat Tuan Ansell dan yang mengobati Nona saat nona sakit hari itu." ujar Rose menimpali dan menjawab keheranan Crys.


"Terimakasih." ujar Crys setelah mengangguk paham pada perkataan Rose.


"Tolong bawakan air hangat." ujar Ryan pada Rose dan Rose langsung melenggang pergi dan kembali dengan cepat.


Ryan duduk di kursi yang berada di kamar tersebut dan duduk di samping ranjang. Pria itu menatap wajah dan tangan gadis dihadapannya yang terlihat memprihatinkan.


Ryan masih duduk diam sambil mengamati. "Kau mendapat pelecehan seksual?" tanya Ryan jamblang tanpa basa-basi.


Crys menundukkan kepalanya dan enggan untuk menjawab. Gadis itu tak ingin menatap mata Ryan yang terlihat menyelidikinya.


"Sepertinya bukan ulah Kenzo. Jika dia pelakunya, pasti kau sudah tidak bernafas lagi hari ini." ujar Ryan menimpali.


Rose tiba-tiba datang dengan mangkuk berisi air. Ryan akhirnya membuka kotak obat yang ia bawa, mengambil kapas dan mencelupkannya ke dalam air.


Setelah itu ia membawa kapas basah tersebut ke sudut bibir Crys yang terluka. "Shh." Crystal meringis saat kapas tersebut menekan lukanya.


Ryan dengan ahli mengusapkan kapas tersebut di atas luka gadis itu. Tangan Ryan dengan cekatan juga membersihkan luka cakaran yang terdapat di leher, bahu dan lengannya. Setelah memastikan semua luka tersebut bersih dan pendarahan berhenti, Ryan mengambil salep antibiotik dan mengoleskannya di luka-luka tersebut.


"Apa ada luka terbuka lagi selain ini?" tanya Ryan.


"Tidak." jawab Crys sambil menggeleng pelan.


Ryan pun bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berdiri dihadapan Rose yang memasang wajah khawatir.


"Untuk memar dan lebamnya kompres saja dengan es." ujar Ryan pada Rose.


"Baik, terimakasih dokter." ujar Rose sambil menunduk hormat.


Ryan langsung melenggang pergi dari sana tanpa kata layaknya angin. Setelah pria itu pergi, Rose langsung berjalan mendekati Crys dengan panik.


"Nona, apa yang terjadi?"


Crys menghela nafas lelah. Ia tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini. Crystal mengambil posisi berbaring, menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


"Aku lelah." ujar Crys singkat dengan nada lemas sambil menutup matanya, tanda bahwa ia tidak ingin diganggu. Rose pun menghela nafas pasrah dan membiarkan gadis itu beristirahat.


Bersambung...