Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 57



Crystal terlihat menatap Levin dengan sama lekatnya, namun dengan pandangan terluka. Gadis itu tentu saja sedih mendengar ucapan Levin, namun dia tidak bisa membantahnya karena Levin dan Kenzo memang orang yang tidak pernah memakai perasaan mereka. Sekarang yang bisa Crystal lakukan hanya meyakinkan bahwa ayahnya bukanlah pengkhianat.


"Papaku bukan orang yang seperti itu." kata Crystal tegas dengan penuh keyakinan, lalu pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Levin yang masih terdiam di tempatnya.


...****************...


Duanovic's Mansion | 08.00 AM


Levin menatap sosok Crystal yang duduk dihadapannya sambil memakan sarapan di depannya dalam diam. Gadis itu terlihat jelas masih marah dan kesal dengan perkataan Levin kemarin.


"Aku sudah selesai." kata Crys datar, lalu meminum segelas air di depannya dan hendak beranjak pergi dari meja makan.


"Kau tidak menghabiskan sarapanmu Crys." sambar Nath sebelum Crys bangkit berdiri.


"Aku tidak bisa menghabiskannya." jawab Crys singkat dan hendak bangkit kembali, namun seseorang dengan cepat memotongnya.


"Habiskan!"


Crystal menghentikan gerakannya lagi dan melirik ke arah sumber suara. Levin menatapnya dengan tatapan tajam dan nada dingin yang begitu tak bersahabat.


"Aku kenyang." kata Crys lagi.


"Selesaikan sarapanmu!" kata Levin dengan nada tegas yang benar-benar terdengar tak bisa dibantah.


Perkataan pria itu mutlak, ia tidak suka perkataannya diabaikan ataupun ditolak. Benar-benar jiwa otoriter yang kuat, namun anehnya Crys bersikap santai seakan sudah kebal menghadapi sikap Levin.


Gadis itu malah bangkit berdiri dengan wajah datar, lalu pergi dari sana dengan santai dan masa bodoh dengan ucapan Levin. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti, namun satu hal yang ia yakini, Levin tidak akan menghukumnya sekejam yang Kenzo lakukan padanya.


Suasana meja makan tersebut seketika dingin dan mencekam. Nath yang berada di sana ikut menelan ludah dengan wajah takut ketika melihat raut wajah dan aura Levin yang menyeramkan.


Levin menyelesaikan sarapannya dengan mood yang sudah hancur dan nafsu makannya yang hilang seketika. Kemarahan pria itu benar-benar membuat seluruh seisi Mansion merasakan auranya.


Keadaan Mansion terasa sangat mencekam dan seluruh pelayan maupun pengawal akan mengetahui bahwa mood Tuan mereka saat ini sedang tidak baik dan penyebabnya adalah Crystal.


...****************...


Siang itu Crystal masuk ke dalam ruang kerja Levin yang juga merangkap sebagai perpustakaan. Di ruangan itu terdapat banyak sekali buku-buku yang tersusun rapi. Buku-buku disana adalah buku-buku langka yang bahkan diterbitkan khusus karena permintaan sang pembeli dengan sampul yang mewah.


Crystal menyusuri rak demi rak sambil menatap buku-buku tersebut dengan teliti dan pandangan kagum. Ia yakin uangnya tidak akan cukup untuk membeli satu buku saja di tempat ini. Sampai akhirnya tangannya terulur mengambil sebuah buku yang menarik perhatiannya.


Ia melihat judulnya sebentar, lalu membukanya dengan penuh minat. Membaca lembaran awal buku tersebut sambil berdiri. Tanpa ia sadari, seseorang ternyata masuk ke dalam sana dengan tampang dingin.


Orang tersebut sedikit terkejut melihat keberadaan Crystal di dalam ruangannya. Ya, dia adalah Levin sang pemilik ruangan.


Levin berjalan tanpa suara guna mendekati Crystal yang sangat fokus dengan bukunya. Ia berdiri di belakang gadis itu dan melihat buku apa yang sedang ia baca.


Crystal tersentak kaget ketika sebuah hembusan nafas terasa menampar kulit lehernya. Ia menoleh cepat ke belakangnya dengan wajah terkejut.


"Levin."


Levin dengan sigap memojokkan tubuh Crys hingga punggung gadis itu menabrak rak buku di belakangnya. Crystal menarik nafasnya yang terasa tercekat karena tubuh dan wajah Levin yang begitu dekat dengannya.


Hembusan nafas pria itu semakin jelas menabrak wajahnya. Wajah Levin terlihat dingin tak tersentuh. Jelas sekali pria itu masih marah dan kesal dengan sifatnya tadi pagi.


Crystal mendorong dada Levin dengan tangannya. "Aku hanya bosan dan ingin membaca buku-bukumu." kata Crys dengan nada tak nyaman.


"Ini bukan bukuku." balas Levin dingin.


Ah, apa ini semua buku bacaan Kenzo? Crystalpun mengangguk paham sambil meneguk ludahnya kasar.


"Aku paham, berarti aku tidak harus meminjamnya darimu kan?" tanya Crystal.


Levin terdiam, membuat jantung Crys semakin berdetak kencang tak karuan karena keheningan pria itu, ditambah wajah tampannya yg begitu dekat berada di depannya.


Crystal meneguk ludah kasar. "Hanya sedikit kesal." jawab Crys jujur, namun hal itu malah membuatnya terlihat menggemaskan.


Raut wajah Levin yang awalnya terlihat dingin tak tersentuhpun mulai berubah perlahan. Levin meraih buku di tangan Crys yang berhasil membuat kening gadis itu berkerut.


"Kenapa diambil?" tanyanya heran.


"Kau tidak butuh ini untuk menghilangkan rasa bosanmu."


Kening Crystal semakin mengerut dengan mata memicing. Sampai akhirnya matanya dibuat membulat sempurna ketika sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya.


Levin memangut bibir ranum Crystal yang sudah menjadi nikotin untuknya. Bibir yang selalu ingin ia sentuh setiap saat dan hanya menjadi miliknya. Crystal tentu saja terkejut dengan aksi tiba-tiba Levin, namun ia menyukainya. Ia menyukai bibir pria itu ketika menyentuh bibirnya.


Crystal mencoba menyadarkan diri untuk tidak terhanyut dalam permainan Levin yang tanpa ia sadari, perlahan-lahan mulai membuatnya kecanduan.


Crystal mendorong dada Levin sekuat tenaga, namun pria itu sama sekali tidak berkutik dari tempatnya. Tenaga Crystal benar-benar tidak sebanding dengan Levin. Levin dan Kenzo adalah devinisi monster sesungguhnya - Monster tampan dan cabul.


Levin mendorong tubuhnya semakin memepet tubuh Crystal ke rak buku, guna menghilangkan jarak diantara mereka. Namun sialnya, rak tersebut terguncang hingga salah satu buku diatas kepala mereka terjatuh dan akhirnya mendarat di kepala dua anak manusia tersebut, seakan para penghuni disana tidak suka melihat mereka berbuat mesum.


"Aww." ringis Crystal terkejut, lalu mengelus kepalanya yang terasa sakit. Sedangkan Levin malah tertawa, lalu tangannya ikut terulur mengelus kepala Crys lembut.


Crystal menatap Levin kesal karena menertawainya, padahal pria itu juga tertimpuk buku yang sama dengannya. Crystal menghempaskan tangan Levin dari kepalanya, lalu mendorong tubuh pria itu menjauh.


"Dasar mesum!" ujar Crystal kesal, lalu melangkah pergi dari sana sambil mengelus kepalanya yang masih sakit.


Levin menatap punggung gadis itu dengan senyuman geli. Setelah itu menunduk untuk mengambil buku yang tadi terjatuh dan melemparnya ke tempat sampah dengan begitu santai.


...****************...


Duanovic's Mansion | 08.38 PM.


Levin duduk tegak dengan tangan terlipat di depan dada dan tatapan tajam yang selalu mendominasi wajah tampan tersebut. Di depannya terdapat Damian yang berdiri tegak dengan wajah yang tak kalah dingin dan datar.


"Kau sudah memikirkan rencana untuk misimu?" tanya Levin tanpa berbasa-basi, sikap khas seorang Duanovic.


"Sudah Mr. Duanovic."


"Kapan kau akan bergerak?" tanya Levin lagi.


"Besok malam."


Levin mengulurkan tangannya mengambil sebatang rokok, menyalakannya, lalu menyesapnya.


"Lakukan malam ini." kata Levin santai.


Damian terdiam, ia tidak membuka mulutnya. Levin menghembuskan kepulan asap yg keluar dari mulutnya ke udara. Pria itu menatap tajam pada Damian yang juga menatapnya datar.


"Kau tidak bisa melakukannya sekarang?" tanya Levin dingin, sedangkan Damian masih diam tak bersuara.


"Malam ini atau besok, hasilnya tidak akan berbeda bukan? Kau akan berhasil membawa Allaric kemari. Jadi lakukan malam ini, Crystal sudah terlalu merindukan kakaknya." ujar Levin mutlak tak terbantah, lalu ia menekan puntung rokoknya ke dalam wadah dan membuangnya.


"Aku menantikan kedatangannya besok." ujar Levin sambil bangkit berdiri dari kursinya, lalu keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Damian yang masih tidak bergerak dari tempatnya.


Setelah pintu tertutup, Damian mengeluarkan ponselnya, lalu menarikan jarinya di atas layar untuk menghubungi seseorang. Ia meletakkan ponselnya di depan telinganya, menunggu hingga orang di seberang sana menjawab panggilannya.


"Kita lakukan malam ini!" kata Damian setelah panggilannya tersambung, lalu mematikan ponselnya tanpa mendengar jawaban apapun dari orang yang dia hubungi.


Damian keluar dari ruangan tersebut dengan wajah dingin dan rahang yang mengeras. Tatapan matanya tajam tak tersentuh seperti singa yang siap untuk menerkam mangsanya.


Bersambung...