
Kenzo Edzard Duanovic, lelaki tampan yang terlihat sangat menarik di antara hiruk pikuk club yang ia datangi. Tubuhnya yang tegap dan gagah dengan rahang kokoh dan wajah yang terpahat indah.
Kenzo menikmati duduk santainya di atas sofa dengan dua gadis yang bergelayut manja di kedua sisinya. Kedua gadis tersebut dengan semangat menggoda Kenzo. Membelai dada pria itu, hingga menggoda sesuatu di bawah sana dan menggeseknya dengan sengaja.
"Mr. Duanovic." Kenzo mengangkat kepalanya saat seorang bawahannya memanggilnya dengan kepala menunduk takut.
"Ada apa?" tanya Kenzo dingin.
"Sir, bangsal 9 dibobol. Chip yang akan dilelang besok menghilang." ucapnya. Kenzo yang mendengar hal tersebut langsung berdiri dengan wajah mengeras.
"SIAL!!" teriak Kenzo kesal. Rahangnya mengeras, tatapannya menajam dan tangannya mengerat keras. Seperti ada sesuatu yang akan keluar dari dirinya. Aura di sekitarnya terasa mencekam dengan kegelapan tak kasat mata.
Setiap bangsal yang Kenzo punya terpasang dengan keamanan super ketat dan teknologi super canggih. Siapa yang berani bermain dengannya?
"Kamera pemantau?" Kenzo mendesis menakutkan. Bahkan pria di depannya hanya bisa menunduk takut jika ia menjadi sasaran kemarahan kenzo.
"Kamera pemantau error dan tak merekam apapun satu jam sebelum kejadian." jawab pria itu takut.
Grep.
Kenzo dengan tiba-tiba mencekik leher pria tersebut dan menarik wajah pria itu mendekat padanya. Tatapan tajam Kenzo seakan siap mengoyak-ngoyak pria di depannya ini yang bergetar ketakutan.
"Maaf Sir."
"Aku sangat benci ketidakbecusan." desis Kenzo lagi. Namun ada sesuatu yang berbeda, tatapan itu tak sama dengan Kenzo yang sebelumnya. Tatapan ini...... Tatapan haus darah.
Bruk.
Kenzo melempar tubuh pria tersebut ke atas meja hingga meja kaca tersebut pecah, lalu melangkah dingin dengan sarat membunuh. Tangannya gatal. Dia ingin sesuatu yang dapat meredakan amarahnya, dan itu adalah DARAH.
***
Ruangan remang-remang ini dipenuhi dengan suara des*han yang saling menyahut. Di atas ranjang yang kusut itu, terdapat kedua insan yang sedang bergulat panas dengan keringat bercucuran.
Lenguhan-lenguhan memenuhi ruangan tersebut. Hujaman demi hujaman yang diterima sang wanita membuat ia berteriak keras dengan wajah kenikmatan. Sedangkan punggung liat dan tubuh gagah tersebut dengan keras dan kuat menghujam miliknya kasar.
Ia tak mempedulikan bagaimana wanita di bawahnya berteriak kesakitan karena keganasannya. Berulang kali wanita di bawahnya mencapai puncaknya, namun pria itu tetap tak mendapatkan puncaknya dan menggagahi wanita tersebut dengan kasar. Yang ia butuhkan saat ini mencapai puncaknya dengan begitu deras.
"KENZOHH..."
Bunyi penyatuan mereka terdengar begitu jelas. Pinggul Kenzo semakin cepat memompa saat di rasakan puncaknya akan segera datang.
"Aghhh.. ****..." desah Kenzo kasar.
Pinggulnya semakin menusuk dalam-dalam tubuh wanita di bawahnya, saat merasakan miliknya semakin membesar dan menegang.
"Sakithhh.. " wanita tersebut berteriak semakin keras tak dapat menahan sakit yang amat di intinya.
Kenzo tak peduli dan semakin memompa tubuhnya kencang, lalu menjambak keras rambut wanita tersebut untuk mendongak.
Dua gerakan menusuk terakhir, Kenzo Menyemburkan lahar panasnya sambil mendesah nikmat.
Kenzo menarik tubuhnya menjauh membiarkan wanita di bawahnya terbaring lemas dengan nafas ngos-ngosan. Kenzo bangkit, lalu memakai jubahnya dan berjalan ke sebuah lemari kayu.
Membuka pintu lemari kaca tersebut dengan begitu pelan dan mengambil sesuatu dari sana. Menutup kembali pintunya, lalu melangkah kembali menuju ranjang.
Tatapan tajamnya menusuk melihat wanita tersebut yang mulai terpejam kelelahan.
Tangannya mengerat dengan langkah mengintimidasi, mendekati wanita tersebut. Naik ke atas ranjang dan membelai wajahnya dengan gerakan lembut.
Wanita tersebut menggeliat sebentar menikmati elusan lembut yang Kenzo berikan. Hingga...
"AKHH..." suara teriakan lantang menaungi kamar tersebut.
Wanita tersebut melotot dengan mata begitu lebar dan mulut ternganga. Matanya menatap Kenzo yang tersenyum mengerikan dengan tangan yang berada di atas perut wanita tersebut.
"HAHAHA..." Kenzo tertawa senang, lalu melepas belatinya dengan kasar, hingga darah muncrat sampai mengenai wajahnya. Menusuknya lagi ke dada wanita tersebut, hingga wanita tersebut mati di tempat dengan mata melotot.
Kenzo mengoyak perut wanita tersebut dengan belatinya hingga organ dalam wanita tersebut tampak dan keluar dari sana. Wajah Kenzo tersenyum senang seakan mendapatkan hadiah lotre besar.
"HAHAHAHAH..." tawa Kenzo pecah di dalam kamar remang-remang tersebut dengan mayat wanita yang terbaring mengerikan di atas ranjang.
Dia senang. Dia bahagia akhirnya dapat meredam amarahnya dengan sesuatu yang menyenangkan.
***
"Crys.."
"Crys... Kamu di mana?"
"Crys di dapur kak."
Suara teriakan tersebut memenuhi rumah kecil sederhana yang ditinggali oleh seorang gadis dan kakak laki-lakinya.
"Crystal, kamu mencoba memasak lagi?" tanya seorang pria tinggi tampan setelah menemukan adik perempuannya yang berkutat di dapur.
"Kak Aric pikir aku nggak bisa masak?" tanya adiknya itu dengan wajah cemberut kesal.
"Terakhir kali kamu masak, kamu salah membedakan garam dan gula, sehingga saus yang kamu buat terasa saaaaaangat manis." ucap kakaknya dengan wajah menggoda. Crystal yang mendengar hal itu semakin cemberut dan memukul perut kakaknya kencang.
"Awss... Kenapa dipukul? Shhh...." tanya Aric sambil meringis mengusap perutnya yang terasa ngilu.
"Habisnya kakak ngejekin Crys terus." ucap Crys kesal sambil mengaduk masakannya malas.
"Iya, maafin kakak deh." ucap Aric lembut, lalu mengusap-usap rambut adiknya dengan lembut sambil menepuk kecil puncak kepala adiknya dengan senyum penuh kasih sayang.
Allaric Vian Alterio adalah sosok kakak yang sangat mengagumkan di mata Crystal Letta Alterio.
Crystal suka saat kakaknya mengusap kepalanya seperti ini. Ia merasa nyaman dan hangat. Semenjak ayah dan ibu mereka pergi, Crystal yang saat itu berusia 10 tahun begitu terpukul hingga drop. Ia merasa kesepian dan hanya kakaknya yang ia punya.
Kakaknya yang saat itu berusia 15 tahun mencoba lebih tabah dan menenangkan adiknya. Hanya adiknya satu-satunya harta berharga yang ia punya. Nyawapun ia berikan untuk melindungi senyum adiknya yang sangat ia cintai ini.
"Kamu kuliah siang hari ini?" tanya Aric sambil duduk di kursi meja makan yang sangat dekat dengan dapur. Ya, rumah mereka yang sangat sederhana, membuat design di dalampun dengan sangat minimalis.
"Iya. Oh iya kak, aku bakalan mulai kerja part time hari ini." ucap Crys sambil meletakkan makanan yang ia masak ke atas piring.
"Kamu fokus belajar aja, biar kakak yang cari uang buat kita." ucap kakaknya. Tiba-tiba suasana menjadi mellow, mengingat bahwa ekonomi mereka semakin menurun semenjak ayah-ibu mereka meninggal.
"Crys nggak mau ngerepotin kakak sampai banting tulang demi kita. Crys juga mau membantu. Aku sudah dewasa untuk bisa bekerja dan membantu kakak mencari uang untuk kita." ucap Crys dengan kepala menunduk dan tak membalikkan tubuhnya menatap kakaknya. Ia takut air matanya mengalir melihat wajah kakaknya yang begitu ia sayangi dengan tabah dan sabar membanting tulang demi hidup mereka.
"Kakak nggak mau kamu capek. Kuliah sambil kerja tidak mudah Crys. " ucap Aric sambil menatap punggung adiknya yang membelakanginya dengan kepala menunduk.
Crys menghela nafasnya panjang, lalu berbalik menghadap kakaknya dengan wajah berkaca-kaca.
"Aku tau itu tidak mudah. Crys tau setiap kakak pulang kerja sambil kuliah dulu. Aku sedih setiap lihat wajah kakak yang kelelahan, tetapi tetap tersenyum untuk menyambut Crys di rumah. Crys sedih tak bisa melakukan apa-apa untuk kakak." ucapnya dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya. Kepalanya menunduk sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Perlahan Crystal merasakan sebuah pelukan hangat merenggut tubuhnya, membentur dada bidang kakaknya dan mengelus punggungnya naik turun.
"Kamu nggak perlu melakukan apapun untuk kakak, yang kakak mau hanya kamu dapat hidup bahagia." tangisnya semakin pecah mendengar ucapan kakaknya yang begitu ia sayangi. Satu-satunya yang ia punya saat ini. Tangannya memeluk erat tubuh kakaknya, menenggelamkan wajahnya yang penuh air mata ke dalam dada bidang Aric.
"Bagaimana Crys bisa bahagia, jika orang yang sudah membuat keluarga kita hancur seperti ini masih bisa hidup dan bersenang-senang di dunia." batinnya berteriak marah. Dendam yang selama ini ia pendam sebentar lagi akan ia wujudkan. Orang itu... Dia akan merasakan bagaimana rasanya sakit namun tak berdarah yang sesungguhnya.
Bersambung....
Cerita Kenzo perdana Part satu.
semoga suka.
bye.π