
Ansell masuk ke dalam kamar Crys dengan langkah cepat. Beberapa penjaga yang bertugas di depan pintu gadis itu sudah masuk ke dalam kamar. Ansell menatap punggung Crys yang duduk di pagar balkon dengan gaun tipisnya dan rambutnya yang terurai.
Ansell melangkah mendekat dengan perlahan. Posisi gadis itu benar-benar sangat berbahaya. Jika ia salah bergerak, tubuhnya akan langsung terjun ke bawah.
"Jangan mendekat!"
Ansell memberhentikan langkahnya saat mendengar suara Crys. Ansell berdiri diam sambil menatap lekat punggung gadis itu. Ansell benar-benar tidak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini.
"Kau ingin mengakhiri hidupmu?" tanya Ansell dengan nada tajam.
Tidak ada jawaban. Crys masih senantiasa duduk di atas pagar hanya dengan badan kakunya.
Ansell mendecak. "Kau tidak ingat kakakmu yang masih berjuang mencarimu?" tanya Ansell lagi.
Crys masih terdiam, namun terlihat bahu gadis itu mulai bergetar dan genggaman tangannya pada besi pagar mengerat.
"Nona, saya mohon turun." ujar Rose khawatir.
"Kau benar-benar akan menyerah sekarang?" tanya Ansell lagi.
Crys masih terdiam tak membuka suara. Namun akhirnya terdengar suara tangis gadis itu sayup-sayup.
Ansell mengisyaratkan para pengawal untuk keluar, sehingga hanya tersisa dirinya dan Rose.
"Kau bisa menceritakan semuanya padaku." ujar Ansell sambil kembali berjalan perlahan tanpa suara.
"Bunuh diri adalah pilihan terburuk yang pernah ada." ucap Ansell masih terus melangkah.
Begitupula tangis Crys yang semakin mengeras. "Aku tidak ingin bunuh diri, hiks." Ansell menghentikan langkahnya setelah mendengar itu.
"Apa?"
"Aku tidak berencana mengakhiri hidupku. Aku tidak bisa meninggalkan Kakakku seorang diri. Setidaknya aku harus menemuinya untuk terakhir kali jika aku berniat bunuh diri. " ujar Crys dengan nada bergetar.
Ansell membuang nafas lega sambil mengelus dadanya. "Lalu kenapa kau duduk di sana? Itu sangat mengerikan." kata Ansell.
"Aku ingin mencoba duduk disini, tetapi setelahnya aku tidak bisa bergerak karena takut, hiks." ujar Crys sambil menangis semakin kencang.
Ansell menggeleng tak habis pikir. "Sangat tinggi, tubuhku tidak bisa bergerak." ujar Crys lagi. Ansell mengusap keningnya heran, lalu melangkah mendekat.
"Lihat aku!" titah Ansell.
"Aku tidak bisa." ucap Crys setengah berteriak.
"Balikkan wajahmu dengan perlahan." bimbing Ansell. Crys mencoba menolehkan kepalanya ke belakang dengan badan kakunya.
Ansell menggeleng saat melihat wajah gadis itu yang dipenuhi air mata. "Aku takut, hiks." ujar Crys menatap Ansell dengan mata berairnya. Bahkan untuk mengusap air matanya saja Crys tidak bisa karena tangannya sibuk menggenggam erat pagar balkon.
Ansell membuang nafas takjub, lalu melingkarkan tangannya di pinggang dan perut Crys. Crys spontan melingkarkan tangannya di leher pria itu. Ansell mengangkat tubuh Crys dengan mudah, lalu menurunkan gadis itu.
Crys berdiri di balkon sambil mengusap air matanya. Ansell menatap Crys naik turun untuk memastikan. "Dimana sandal rumahmu satu lagi?" tanya Ansell saat mendapati satu kaki Crys nyeker tanpa terbalut apapun.
"Saat aku sudah duduk di sana, sandalku langsung terjatuh." jawab Crys.
Ansell lagi-lagi menggeleng takjub. "Biar saya yang carikan Nona." ujar Rose yang dibalas anggukan pelan oleh Crys.
"Saya ketakutan setengah mati saat melihat Nona seperti tadi, jangan mengulanginya lagi Nona, saya hampir mati berdiri." ujar Rose mengusap dadanya naik turun.
"Iya, tidak akan lagi. Maaf." ujar Crys ikut menyesal. Mengingat ia duduk di sana saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang.
"Kalau begitu saya permisi." ujar Rose pamit undur diri, meninggalkan Ansell dan Crys di dalam kamar tersebut.
Crys menatap wajah Ansell sambil mengusapi pipinya yang basah. Ansell berdiri diam hanya menatap lekat wajah Crys. Crys yang merasa terintimidasi oleh tatapan Ansell, perlahan mulai menundukkan kepalanya menatap lantai.
"Te.. terimakasih." ujar Crys terbata-bata. Ada rasa bersalah di hati Crys karena sudah membuat semua orang khawatir.
"Aku tidak akan memberitahunya, tetapi dia pasti akan tau semua kejadian yang terjadi di sini." ujar Ansell yang berhasil membuat tubuh Crys menegang dan wajahnya pucat pasi.
Crys menatap Ansell dengan wajah takut. Ansell menatap Crys lekat. Wajah gadis itu terlihat pucat dan bibirnya bergetar dengan pandangan takut.
"Tolong aku." Crys memohon kepada Ansell dengan sungguh-sungguh.
"Pria itu, dia benar-benar sakit jiwa. Dia melecehkanku pagi ini dan hampir memperkosaku. Aku takut, aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi." ujar Crys panjang lebar dengan wajah panik.
Ansell hanya diam tak bergeming. Hati Crys langsung mencelos mendapati respon diam Ansell. Tidak ada gunanya ia meminta pertolongan pria di depannya itu. Pria ini adalah teman Kenzo, dia pasti akan memihak temannya.
Crys menutup mulutnya dan badannya langsung lemas tak berdaya. Crys menolehkan wajahnya dari Ansell sambil menahan tangis. Mata Crys memanas, namun ia tidak ingin menangis di depan pria itu.
Crys membalikkan badannya membelakangi Ansell, lalu mengusap matanya yang mulai berair. Crys menarik nafas dalam mencoba menangkan hatinya.
Crys menoleh kembali menatap Ansell. "Lupakan yang aku ucapkan tadi." ujar Crys menatap mata Ansell lekat.
"Bagaimana keadaan kakakku hari ini? Dia baik-baik saja kan?" tanya Crys.
Ansell masih diam tak bergeming, namun matanya masih menatap lekat wajah Crys. Crys ikut diam menunggu jawaban.
Ansell memasukkan tangannya ke dalam kantong jas bagian dalam dan memberikan beberapa lembar foto pada Crys.
Crys tersenyum singkat sambil menerima foto tersebut. Crys menatap satu persatu foto kakaknya yang sedang bekerja dengan wajah lelahnya.
Senyum tipis terbit di bibir gadis itu sambil mengusap foto ditangannya pelan. "Terimakasih." ujar Crys sambil menatap Ansell singkat, lalu menatap kembali foto di tangannya.
Ansell tidak menjawab, lalu memutuskan untuk pergi dari sana dalam diam. Crys juga tidak mempermasalahkan sikap Ansell. Ia langsung melangkah ke arah laci nakas dan mengambil sebuah kotak, lalu membukanya. Setelah itu, Crys meletakkan foto-foto kakaknya ke dalam kotak tersebut dan menyimpannya kembali.
***
Crystal POV.
Aku berdiri di depan cermin, menatap diriku sendiri yang terpantul di cermin tersebut. Tanganku terulur mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambutku yang basah.
Setelah beberapa menit dan kurasa rambutku sudah kering, aku bangkit berdiri dan naik ke atas ranjang. Aku berbaring dan bersiap untuk tidur. Mencoba memejamkan mata dan jatuh tenggelam ke alam mimpi.
Namun belum beberapa menit mataku tertutup, tiba-tiba pintu kamarku terbuka dengan keras, menghasilkan suara dentuman yang membuatku langsung terperanjat bangun.
Aku menatap ke arah pintu dimana Kenzo masuk dengan tubuh sempoyongan. Rasa takut langsung muncul dalam diriku ketika ia melangkah mendekat dengan penampilannya yang begitu mengerikan.
Bajunya penuh dengan bercak darah. Jelas itu darah, karena bau amis yang begitu jelas menguar ke penciumanku.
Tubuhku refleks mundur saat Kenzo mulai menaiki ranjangku dengan tingkah anehnya.
Aku mengernyit saat mencium bau alkohol yang begitu kuat saat ia bernafas. Dia mabuk.
"Kau salah kamar, ini bukan kamarmu." ujarku saat tubuhnya jatuh di atas ranjang. Aku yakin efek alkohol membuat ia tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri.
Pria itu mencengkeram selimutku, lalu mencoba duduk di atas ranjang. Kepalanya perlahan terangkat menatapku dan aku dengan sigap bersiap sedia jika ia melakukan hal mengejutkan nantinya.
Mata Kenzo yang terlihat tidak fokus dan sayu, mencoba menatapku lekat dengan senyum miringnya.
Kulihat di wajahnya terdapat darah yang aku yakini adalah darah korbannya. "Kau, gadis kecil sial*n. Kau sudah membangunkannya. Dia seharusnya tidak bangun dan mengambil alih tubuhku. Ini semua salahmu." racaunya.
Aku mengernyit tidak mengerti. "Aku tidak mengerti. Apa yang sudah kulakukan? Siapa yang sudah kubangunkan?" tanyaku bingung menatapnya.
Kenzo tampak tertawa dengan mata tak fokusnya itu. Tiba-tiba tanpa bisa membaca pergerakannya, tangan panjangnya langsung menarik tanganku sekuat tenaga dan menjatuhkan tubuhku di atas kasur, di bawah kukungannya.
"Waktunya bermain."
Bersambung...