
Di sebuah ruangan kosong yang gelap, hanya terdapat sebuah lampu temaram di atas kepala seorang pria yang sedang terikat di atas kursi.
Pria itu terlihat babak belur dengan banyak lebam dan jejak darah di wajahnya. Matanya tertutup dengan rapat, sampai akhirnya mata tersebut mulai mengerjab perlahan dengan pandangan berkunang-kunang.
Netranya menangkap seorang pria dengan penampilan yang begitu rapi di depannya, namun pandangannya masih buram dengan rasa sakit yang juga menghampiri kepalanya.
Pria yang terikat tersebut adalah Allaric Alterio. Kondisinya terlihat mengenaskan dengan tubuh penuh luka dan tak bertenaga. Kepalanya juga mengeluarkan sedikit darah dan berwarna keunguan akibat pukulan benda keras yang menghantamnya.
"K..kau siapa?"
Perlahan demi perlahan penglihatannya mulai pulih dan jernih. Pria asing dihadapannya terlihat melirik dirinya sambil menghisap rokoknya dengan wajah santai. Kepulan asap mengepul di atas udara ketika mulut pria itu menghembuskan nafasnya.
"Pemandangan yang tidak asing." pria itu adalah Desmond yang kini menatap Allaric dengan senyum miring.
Melihat kondisi Allaric saat ini membuat pikiran Desmond melayang pada kejadian dimana Adam yang juga pernah dia sekap dengan keadaan yang sama seperti anaknya saat ini.
"Mari bekerja sama." kata Desmond frontal sambil menatap Allaric yang tak bertenaga dengan wajah santai.
Allaric mengangkat kepalanya dengan susah payah, lalu membalas tatapan Desmond dengan tatapan memicing tajam dengan raut kebencian.
Desmond tertawa mengejek melihat tatapan penuh permusuhan dari Allaric kepadanya. Tangannya perlahan mengambil sebuah foto yang diulurkan oleh bawahannya.
Desmond memperlihatkan selembar foto tersebut ke depan wajah Allaric dengan sangat dekat. Seketika mata Allaric membulat kaget melihat wajah adiknya—Crystal bersama dengan seorang pria asing yang duduk di sebuah meja makan.
"Adikmu masih hidup, dia diculik oleh pria itu." kata Desmond menunjuk pria asing yang berada di foto tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Kenzo.
"Kalau kau mau menyelamatkan adikmu, bekerja samalah denganku!" kata Desmond sambil menarik foto tersebut menjauh dari pandangan Allaric yang masih belum puas dan belum yakin bahwa itu adalah adiknya yang selama ini ia cari-cari.
Allaric menatap Desmond dengan mata tajam, lalu sudut bibirnya terangkat ke atas. "Bagaimana jika kau menipuku?" kata Allaric menantang.
Desmond ikut menaikkan sudut bibirnya tertantang. "Kalau kau setuju, kau bisa melihat keadaan adikmu dan membuktikan sendiri kebenarannya." ujar Desmond memberikan tawaran yang sangat bagus.
Allaric menatap pria di depannya itu dengan tatapan dalam. Sampai akhirnya...
"Aku setuju."
***
Crystal menatap lembaran demi lembaran foto-foto kakaknya yang berada di amplop cokelat pemberian Davin. Mata sendunya menatap foto-foto tersebut dengan perasaan bersalah. Dialah penyebab semua penderitaan yang kakaknya itu alami.
Ia baru saja selesai menangis di sebuah taman yang menjadi saksi bisu kesedihannya. Ia tidak bisa menangis dihadapan orang lain, namun ia juga tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis, sampai akhirnya taman itu menjadi tempat ia menumpahkan segala kesedihannya.
Di tengah lamunannya, sebuah tepukan kecil di pundaknya menyadarkan Crys dan membuatnya menoleh lemah dengan mata sembab. Ia mendapati Vania yang memasang senyumnya sambil menatapnya lembut.
"Vian selalu mencarimu, untungnya Dave sudah menjaganya." kata Vania sambil duduk di sebelah Crystal dan menatap hamparan tamannya yang luas dan memanjakan mata.
Vania melirik ke arah foto di tangan Crystal. "Keluargamu?"
"Iya, dia kakakku."
Vania mengangguk paham. "Apa terjadi sesuatu dengan kakakmu?" tanya Vania yang menyadari wajah sembab gadis itu, sedangkan Crystal hanya terdiam.
"Aku hanya tidak mengerti, kenapa ini semua bisa terjadi padaku." Crystal meremas amplop tersebut dengan dada sesak dan mata memanas.
"Maaf." kata Vania merasa bersalah.
Crystal menggeleng pelan berusaha untuk terus tegar tanpa penguat. "Bukan salahmu."
"Kenzo dan suamiku pasti akan menolongmu." kata Vania menatap Crystal penuh keyakinan sambil mengamit tangan gadis itu.
Crystal menoleh menatap Vania lekat dengan pandangan sayu tak bertenaga. "Terimakasih." katanya sambil tersenyum tipis.
Suara derap langkah kaki terdengar mendekati kedua perempuan tersebut. Mendengar hal itu, kedua perempuan tersebut langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Levin di sana.
Levin menatap mata merah dan wajah sembab Crystal dengan pandangan dalam. "Waktunya pulang." kata Levin datar.
"Maaf, aku tidak bisa bermain dengan Vian dan Vano hari ini." Ujar Crys pada Vania.
"Tidak apa-apa, aku akan menjelaskannya pada mereka." ujar Vania lembut sambil mengangguk.
"Ayo." desis Crystal pelan dengan suara yang sedikit serak sambil mengangkat kepalanya demi menatap Levin yang juga masih menatapnya dengan pandangan dalam dan tajam.
Crystal tersentak saat tangan dingin Levin menyentuh bawah matanya yang sedikit berair. Jempol pria itu menyapu lembut bawah matanya sambil menatap mata gadis itu lekat. Crystal ikut membalas tatapan Levin dengan sama dalamnya, sampai kedua insan tersebut tidak sadar bahwa Vania sudah meninggalkan mereka.
Levin jelas menangkap wajah sembab Crystal dan matanya yang memerah dengan jejak-jejak air mata yang entah mengapa membuat sesuatu di dalam dadanya terasa nyeri dan sesak ketika melihatnya.
"Aku akan menyelematkannya, jadi jangan buang air matamu!" kata Levin tajam dengan nada dingin, namun entah kenapa Crystal malah merasakan kehangatan dari kata-kata tersebut.
Bibir Crystal bergetar dan matanya malah semakin memerah setelah mendengar perkataan pria itu. Pertahanan gadis itu runtuh seketika, lalu memeluk tubuh pria itu dengan erat.
Crystal seperti menemukan sebuah harapan baru yang membuatnya harus terus bertahan dan Levinlah harapan tersebut. Hanya Levin yang bisa ia harapkan untuk menyelamatkan kakaknya.
Ia menangis di dada Levin, sampai amplop di tangannya terjatuh ke tanah demi meremas jas pria itu erat. Gadis itu tidak menangis karena sedih, ia hanya menangis terharu karena akhirnya ia telah menemukan alasan untuk terus bertahan.
***
Crystal menatap ke arah langit malam dengan taburan bintang dari atas balkonnya. Ia menatap langit tersebut sambil menikmati angin malam yang menusuk-nusuk kulitnya yang terbalut gaun tidur tipis.
Bunyi ketukan pintu berhasil menyadarkan lamunannya. Ia berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukanya dan mendapati sosok Nath dengan senyum manisnya.
"Apa aku boleh tidur denganmu malam ini?" tanyanya dengan wajah polos.
"Ada apa?" tanya Crys heran.
"Tidak ada, aku hanya ingin bicara denganmu sepanjang malam."
Kening Crystal mengerut, namun akhirnya ia mengangguk setuju. Nathalie dengan semangat masuk ke dalam kamar Crys dan berbaring di ranjang besar gadis itu. Crystal ikut berbaring di samping Nathalie sambil membalut tubuhnya dengan selimut.
"Bagaimana perjalananmu dengan Kenzo hari ini?" tanya Nath.
"Biasa saja."
Nath mengerucutkan bibirnya. "Kalian pergi kemana?" tanyanya lagi.
"Menemui rekan bisnisnya." walau menjawab dengan seadanya dan terkesan ogah-ogahan, namun Crystal juga tidak berbohong. Levin memang menemui rekan bisnisnya yaitu Davin.
"Selalu pekerjaan, Kenzo memang tidak seru."
Crystal terdiam, namun ia ingin sekali menanyakan sesuatu hal pada wanita di sampingnya itu. Sesuatu yang terasa mengganjal di pikirannya.
"Apa Kenzo yang memintamu untuk tinggal di sini?" tanya Crystal tiba-tiba.
Nath menoleh, lalu mengangguk. "Iya, karena tidak ada lagi tempat yang bisa aku tinggali."
"Lalu, sampai kapan kau akan tinggal di sini?" Nath terkejut bukan main. Pertanyaan Crystal jelas sekali terdengar seperti tidak menyukai kehadiran Nath di tempat ini.
Crystal hanya ingin melepaskan rasa penasarannya. Ia tidak berniat menyakiti hati wanita itu, namun tanpa sadar kalimat pertanyaan terdengar terlalu sarkasme.
Nath terdiam, membuat Crystal meneguk ludahnya dengan perasaan bersalah.
"Maaf."
Nath tersenyum tipis sambil menatap ke arah langit-langit kamar. "Tidak apa-apa."
"Aku sempat berpikir ingin hidup mandiri dan menghilang lagi dari Kenzo tetapi, sekarang aku sudah tidak bisa."
"Kenapa?" tanya Crys.
"Aku memilih untuk kembali kepadanya. Aku ingin tinggal bersama dengan Kenzo selamanya. Aku menyadari kalau aku tidak bisa kehilangan dirinya lagi."
Bersambung...
Maaf ya semalam aku nggak up karena seharian aku sibuk sampai nggak punya imajinasi buat lanjutin. Untuk menebus kesalahanku, next upnya besok ya.
Like, Vote, Comment dan Share ya, bye😘