Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 46



Crystal membuka matanya lebar, lalu menarik oksigen sebanyak mungkin dengan dadanya yang turun naik seperti orang kehabisan nafas.


Gadis itu menatap ke sekelilingnya sambil mengatur nafasnya dengan kesulitan. Jelas teringat di kepalanya bagaimana ia masuk ke dalam lemari dan Rose menguncinya di dalam sana sebelum wanita paruh baya itu pergi meninggalkannya. Dan kini ia sudah berada di dalam kamarnya entah bagaimana.


Setelah mengatur nafas dengan normal,  ia menyibak selimutnya, lalu duduk di atas ranjang. Namun detik berikutnya, matanya menangkap sosok Kenzo yang duduk tenang di sofa kamarnya dengan wajah datar dan dingin. 


Gadis itu menatap Kenzo lekat dengan sorot kebencian. "Sekelompok orang menerobos masuk dan mencarimu. Musuhmu lagi-lagi hampir membunuhku." katanya penuh amarah.


Kenzo bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke arah ranjang gadis itu dan berdiri di samping ranjang tersebut dengan sorot tajam.


"Kau baik-baik saja?" kalimat tersebut meluncur dari mulut pria itu. Crystal menatap pria di sampingnya dengan raut tak senang.


"Aku akan baik-baik saja jika tidak berurusan denganmu." kata gadis itu tajam, lalu bangkit berdiri dari tempat tidurnya.


"Kau mau pergi ke mana?" tanya Kenzo.


"Menemui Rose." jawab gadis itu singkat dengan nada ketus.


"Percuma, Rose sudah mati, ia terbunuh demi menyelamatkanmu." kata Kenzo dingin dan frontal tanpa memikirkan perasaan gadis itu yang kini terdiam dengan tubuh kaku.


Crystal memegang jantungnya yang seakan tiba-tiba berhenti berdetak setelah mendengar ucapan pria itu. Dadanya terasa begitu sesak dan matanya memanas. Kakinya seakan kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya, sampai-sampai tubuhnya oleng dan hampir terjatuh jika Kenzo tidak menahan tubuh gadis itu sebelum membentur tanah.


Bibirnya bergetar dan akhirnya air matanya turun dengan deras membasahi pipinya. Gadis itu menangis sambil meremas dadanya yang terasa nyeri. Crystal menoleh ke arah Damian dan menatap pria itu dengan wajah penuh kebencian dan air mata.


"Kau membunuhnya." teriak gadis itu di depan wajah Kenzo dengan wajah yang penuh air mata dan sirat penuh luka.


Gadis itu mencoba mendorong tubuh pria itu yang menahan tubuhnya yang kehilangan tenaga. Gadis itu terisak sambil terus mendorong bahkan memukul dada pria itu kencang, namun Kenzo beralih merengkuh gadis rapuh itu ke dalam dekapannya.


Crystal menangis begitu kencang dan akhirnya pukulan tangannya terhenti dan meremas kemeja yang digunakan pria itu dengan erat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kenzo dan menangis sekencang mungkin dengan bayang-bayang sosok Rose yang begitu baik padanya.


Crystal menganggap wanita itu sudah seperti Ibunya sendiri. Wanita itu yang merawatnya di tempat ini dengan penuh perhatian, merawatnya seperti putrinya sendiri. Crystal tidak tau harus bagaimana lagi berada di tempat ini tanpa Rose.


"Hiks, aku membencimu." kata gadis itu dengan isakan lemah di dalam pelukan Kenzo. Sedangkan pria itu kini terdiam, lalu tangannya perlahan mengelus punggung gadis itu naik turun, membiarkan sang gadis menangis sampai puas di dekapannya.


***


Crystal meletakkan setangkai bunga Lily putih di atas tanah yang masih gembur dengan sebuah keramik berisi tulisan di atasnya. Ia menatap makam tersebut dengan wajah sedih.


"Terimakasih sudah menjaga dan merawatku." katanya pelan sebelum akhirnya ia membalikkan badan dan pergi dari sana dengan ekspresi menahan tangis.


Gadis itu masuk ke dalam mobil dimana Kenzo juga duduk di dalamnya. Gadis itu mengusap matanya yang sedikit berair dan menutup pintu mobil dengan pelan.


"Jalan!" ucap Kenzo dingin pada sang supir.


Setelah itu, mobil yang mereka naiki mulai melaju meninggalkan area pemakaman tersebut. Crys sejak tadi hanya terdiam tak membuka suara, bahkan tak berniat sedikitpun untuk berbicara pada Kenzo saat ini.


Namun beberapa saat kemudian, Crys teringat pada sosok Damian yang juga belum ia lihat. Gadis itupun menoleh ke arah Kenzo dengan wajah panik.


"Damian? Dimana dia?" tanya Crystal tiba-tiba dengan wajah khawatir.


"Dirawat."


"Dia terluka?" tanya Crystal semakin khawatir.


"Apakah parah? Aku ingin melihat keadaannya." lanjut gadis itu yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Kenzo. Mata pria itu bersinar nyalang dengan raut tak senang.


"Dia berusaha menyelamatkanku juga saat it.."


"Diam!" perkataan Crys terpotong saat Kenzo membuka suaranya dengan begitu dingin dan tegas.


Crystal pun menyerah pasrah ketika melihat betapa tajamnya tatapan Kenzo padanya. Ia kembali menatap ke luar jendela dan tak berniat membuka mulutnya lagi.


Namun akhirnya suara deringan ponsel Kenzo mendominasi heningnya suasana di antara mereka berdua. Kenzo mengangkat panggilan tersebut ke arah telinganya.


"Tuan Allaric Alterio menghilang dari kediamannya. Kami sudah mencari di tempat ia bekerja dan tempat yang sering ia kunjungi namun tetap tidak menemukannya."


"Belakangan ini kalian bekerja sangat santai, apa kalian sudah bosan hidup? Cari dia sampai dapat!"


Crys melirik ke arah Kenzo yang memasang wajah penuh amarah dengan rahang yang mengeras. Pria itu berbicara dengan lawan bicaranya di telepon dengan penuh peringatan dan aura membunuh


Crys hanya bisa mengernyitkan keningnya karena tidak bisa mendengar percakapan apapun dari orang yang menelepon pria itu.


Setelah itu, Kenzo mematikan sambungan teleponnya dan melempar ponselnya kasar entah kemana. Crystal berpikir bahwa Kenzo sedang memarahi bawahannya karena belum menemukan sekelompok orang yang menerobos Mansionnya.


Crystal menunduk sedikit guna mengambil ponsel Kenzo yang jatuh dengan naas di bawah kakinya. Gadis itu meletakkan ponsel pria tersebut di tengah-tengah mereka tanpa membuat suara sedikitpun.


Ia juga tidak berniat menanyakan hal apa yang membuat pria itu terlihat emosi. Sampai akhirnya mereka tiba kembali ke Mansion, Crystal langsung ke luar dari mobil dan masuk kembali ke kamarnya.


Kenzo menatap punggung gadis itu yang berjalan mendahuluinya dengan tatapan dalam. Dia tau hal ini cepat atau lambat akan terjadi dan yang perlu ia lakukan saat ini adalah mencari kebenarannya dan menyelesaikan semuanya.


***


"Apa kau sebodoh itu untuk menyadarinya sekarang?"


Kenzo berdiri di depan cermin dengan suasana kamarnya yang remang-remang. Ia melihat pantulan dirinya yang seakan bergerak tak seirama dengan badannya saat ini. Saat inilah ia sedang berkomunikasi dengan kepribadiannya yang lain—Levin.


"Kedatangan wanita itu juga membuatmu semakin bodoh." kata Levin menatap Kenzo dengan senyum miring mengejek.


"Apa maksudmu?" tanya Kenzo menatap Levin tajam dengan tatapan tidak senang.


"Damian. Kau tidak berpikir alasan apa yang membuatku membiarkannya menjadi pengawal pribadi gadis itu?" tanya Levin menatap Kenzo menantang.


Kenzo mengerutkan keningnya, namun akhirnya ia menyadari sesuatu. "Dia orang dibalik kejadian ini?" tanya Kenzo menatap Levin lekat.


"Pria itu juga orang dibalik kejadian 10 tahun yang lalu." kata Levin tersenyum lebar namun terlihat menyeramkan.


"Maksudmu dia adalah orang Killian?"


Levin tersenyum miring. "Lalu kedatangan wanita itu, apa kau pikir ini hanya sebuah kebetulan dia kembali di saat seperti ini?" tanya Levin menatap Kenzo miring.


"Nath, tidak ada hubungannya dengan ini." kata Kenzo menatap Levin tajam.


Levin tertawa kencang sambil menatap Kenzo layaknya orang bodoh. "Sampai kapan kau akan diperbudak cinta oleh wanita jal*ng itu." kata Levin tertawa puas.


"Kau bahkan sampai buta untuk melihat semua kenyataan yang ada." lanjut Levin tak berhenti mengejek sedangkan Kenzo kini sudah mengeraskan rahangnya penuh emosi.


"Sebaiknya kau menjaga emosimu atau aku akan kembali menguasai tubuhmu." kata Levin masih menatap Kenzo dengan raut mengejek.


"Gadis bernama Crystal itu, dia benar-benar sangat menarik. Wajah polosnya, bibirnya yang manis dan tubuhnya yang menggoda, rasanya aku ingin pisau indahku menari di wajahnya." kata Levin dengan wajah yang kini berubah menjadi mesum sambil mengingat bayang-bayang sosok Crystal.


"Kau menyentuhnya?" tanya Kenzo mengepal tangannya dengan rahang mengeras.


"Ya, beberapa kali disaat aku berhasil mengambil alih tubuhmu sebentar." jawab Levin santai.


Mendengar hal itu, Kenzo langsung melayangkan tinjunya ke arah kaca dengan begitu cepat dan keras sampai kaca yang menempel di dinding tersebut retak dan serpihannya jatuh ke lantai. Sedangkan sosok Levin yang kini terlihat tidak jelas di kaca yang sudah retak tersebut hanya tertawa sangat puas layaknya iblis.


Bersambung...


Ada yang bisa nebak nama ceweknya? Btw, namanya udah sempat dibahas di chapter 27.


Semoga semakin tercerahkan ya.


Next Up : lusa


Bye 😘