Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 53



Duanovic's Mansion | 08.00 PM


Levin menatap Crystal yang terbaring di sampingnya dengan wajah lelah dan polos. Setelah menghabiskan waktunya dengan Nath di taman, gadis itu kembali ke kamarnya karena kelelahan, lalu mandi dan tidur dengan sangat cepat.


Gadis itu tidak sadar bahwa kini ia menyandarkan wajahnya di dada bidang Levin yang begitu nyaman. Tangannya juga memeluk tubuh Levin seperti sebuah guling.


Mata Levin menatap wajah Crystal yang berada di dekapannya itu dengan senyum hangat. Tangannya perlahan merambat naik guna mengelus pipi mulus Crystal dengan jemarinya.


Crystal terlihat menggeliat karena merasa tidurnya terusik, sampai akhirnya mata itu perlahan mengerjap pelan dengan wajah ngantuk. Dengan mata yang sedikit terbuka, Crystal mendapati Levin yang tengah menatapinya dengan sorot lembut. Kening Crys mengernyit.


"Ada apa?" tanya Crys dengan suara serak dan matanya yang enggan terbuka.


"Tidak ada."


Crystal mendengus. "Aku ngantuk, jangan menggangguku." ujar Crys dengan nada kesal dan mata tertutup. Perlahan ia mulai kembali terlelap didekapan pria itu.


Levin semakin tersenyum manis melihat ekspresi menggemaskan Crystal ketika tidur. Gadis ini, entah sihir apa yang dia gunakan sehingga berhasil melembutkan hati Levin yang keras seperti batu.


Sejak awal dia hanya berniat untuk mempermainkan gadis itu, namun lama kelamaan ialah yang telah jatuh oleh pesonanya tanpa gadis itu harus melakukan apa-apa.


Keberaniannya ketika menantang kesabaran Kenzo, ucapannya yang selalu frontal tanpa ia sadari, wajahnya yang menangis dan senyumnya yang hangat dan tulus, Levin selalu membayangkan itu di dalam kepalanya, sampai rasa tamaknya muncul untuk menguasai tubuh Kenzo selamanya.


Crystal seperti penerang dalam hidupnya yang suram dan gelap. Gadis itu membuat dirinya mulai memikirkan hal-hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Membuatnya ingin merasakan apa itu kasih sayang, bahagia dan tertawa.


Ia ingin Crystal di sisinya untuk selamanya. Ia ingin gadis itu berada di pelukannya. Entah ini cinta atau sekedar obsesi belaka, namun satu hal yang Levin yakini di dalam dirinya yaitu Crystal hanyalah miliknya.


Flashback On


Kenzo kecil terlihat berlari dengan wajah gembira sambil membawa setangkai bunga di tangannya. Dengan langkah kecilnya, ia masuk ke dalam rumah sederhananya yang nyaman.


"Ibu."


Saat kakinya ingin masuk ke dalam kamar Ibunya, langkahnya terhenti ketika mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar ibunya.


Matanya mengintip dari celah pintu dan melihat Ibunya dengan pria asing tak dikenal sedang bergumul panas di atas ranjang dengan tubuh polos mereka.


Kenzo kecil terlihat tidak mengerti apa yang sedang ibunya lakukan dengan pria tersebut di dalam kamar, tetapi dia tau bahwa dia tidak boleh mengganggu ibunya saat ini.


Kenzo pun meletakkan bunga cantik yang ia dapat saat ia bermain di taman ke atas meja, lalu berjalan ke arah dapur. Ia menaiki kursi meja makan dengan sedikit kesusahan, lalu membuka penutup tudung saji untuk mencari makanan.


Matanya lesu ketika tidak mendapati makanan apapun di dalam sana. Sampai akhirnya terdengar bunyi dari dalam perutnya, membuat Kenzo mengelus perutnya yang kelaparan.


Kenzo hanya tinggal bersama ibunya di rumah sederhana tersebut. Dia tidak tau siapa ayahnya dan ibunya juga tidak pernah membahas hal itu padanya. Ibunya sering sekali tidak pulang ke rumah, meninggalkan anaknya yang masih kecil di dalam rumah sendirian, kelaparan dan kesepian.


Sejak bayi dia sudah dititip oleh ibunya pada tetangga mereka dan ibunya akan membayar mereka. Sampai akhirnya ketika Kenzo mulai beranjak umur 4 tahun, Ibunya sudah tidak lagi menitipkannya dan meninggalkannya seorang diri di rumah.


Tetangga yang mengurusnya sejak bayi merasa iba melihat anak laki-laki tersebut hidup mandiri dan akhirnya ia beberapa kali mengunjungi Kenzo di dalam rumah untuk memberinya makan. Kenzo sangat menyayangi ibunya, karena hanya ibunyalah yang ia punya.


Kenzo kecil sering kali melihat ibunya membawa pria-pria asing ke dalam rumah dan menghabiskan malam di dalam kamar, menghiraukan kehadiran Kenzo di rumah tersebut.


Sampai akhirnya Kenzo mulai beranjak remaja, ibunya bertahan pada satu pria dan memilih pria tersebut untuk tinggal bersama mereka. Dari situlah hidup suram Kenzo semakin memburuk dan hancur.


"Ibu ampun, Kenzo salah apa?"


Akh..


Ibunya dan pria itu mulai sering memukulinya tanpa alasan yang jelas, bahkan mengurungnya di dalam kamar selama beberapa hari tanpa makan dan minum. Tubuhnya semakin lama semakin kurus tak terawat. Suara tangisan Kenzo tak mereka hiraukan dan terus melanjutkan aksi mereka untuk menghancurkan tubuh rapuh itu.


"Kita jual saja dia."


"Tetapi dia masih kecil."


Ibunya mengangkat sebelah bibirnya ke atas dengan senyum miring. "Baiklah."


Kenzo kehilangan semangat hidupnya semenjak hari itu. Senyumnya hilang beserta raganya. Ibunya dan pria itu sering sekali membawa pria-pria maupun wanita paruh baya ke dalam kamarnya. Orang-orang tersebut memakai tubuhnya dengan cara mengerikan dan menyakitkan layaknya hewan.


Ia terlihat seperti mayat hidup. Ia terkurung di kamarnya dengan pandangan kosong dan tubuh yang penuh luka. Air matanya bahkan sudah tidak bisa keluar lagi. Saat orang-orang itu datang untuk memakai tubuhnya, Kenzo hanya diam dengan pandangan kosong tak bernyawa. Ia seperti sudah kehilangan seluruh indranya untuk merasakan rasa sakit apapun.


Seorang anak yang harusnya melewati masa remajanya dengan indah dan tumbuh bahagia bersama teman seumurannya yang lain harus merasakan hal keji ini seorang diri. Entah alasan apa yang membuatnya harus merasakan ini semua, ia selalu bertanya hal itu di dalam hatinya.


"Apa kau akan hidup seperti ini terus?" Kenzo menatap dirinya di depan cermin dengan tatapan kosong. Bayangannya seakan berbicara pada dirinya yang bahkan tak buka mulut sama sekali.


"Haha, harusnya kau bunuh mereka. Mereka tidak pantas hidup."


Kenzo terdiam dengan tatapan kosong seperti dihipnotis oleh sesuatu. "Kau siapa?" tanya Kenzo.


"Aku adalah kau. Kaulah yang menciptakan aku." kata bayangan dirinya.


"Kalau kau tidak bisa membunuh mereka, biar aku yang lakukan."


Tanpa sadar sesuatu di dalam dirinya telah bangkit. Sesuatu yang dibangkitkan dari segala rasa sakitnya yang telah menumpuk. Sesuatu yang bangkit untuk melindungi dirinya yang lemah tak berdaya.


Sampai suatu malam, seorang wanita paruh baya datang ke dalam kamarnya dengan wajah penuh nfsu. Kenzo melihat wanita tersebut dengan pandangan dingin dan datar*.


"Aku punya mainan baru kali ini." kata wanita itu tersenyum nakal dan Kenzo hanya terdiam.


Wanita itu mengeluarkan beberapa alat-alatnya yang selalu membuat Kenzo kesakitan setiap saat ia melakukan hal itu. Kenzo telah melewati hari-harinya seperti di neraka, maka ia akan membawa orang-orang tersebut juga ke neraka yang sama dengannya.


Di belakang punggungnya, ia menggenggam erat sebuah pisau buah yang ia ambil dari dapur. Pisau kecil dan sedikit tumpul yang pastinya akan membuat korbannya berteriak kesakitan dan akhirnya mati dengan perlahan-lahan.


Saat wanita paruh baya itu mulai melucuti bajunya dan merangkak ke arah Kenzo, ia menunggu dengan sabar sampai akhirnya wanita itu mendekatkan wajahnya. Saat itu pula tangannya melayang dan menikam leher wanita itu dengan senyum puas.


AKHH


Mata Kenzo berkabut penuh aura membunuh dan haus darah. Matanya yang tadinya kosong sudah berubah menjadi penuh gairah untuk melihat darah membanjiri tangannya.


Telinganya seakan tuli mendengar teriakan tersebut dan terus menikam wanita itu dengan tatapan tak berbelas kasih sampai darah kotor itu mengenai wajahnya yang tersenyum kesenangan.


Saat itulah Levin menguasai tubuh Kenzo untuk pertama kalinya dan saat itu jugalah tangan Kenzo menjadi kotor dengan darah.


Setelah melihat wanita itu terkapar tak bernyawa dengan darah yang menyelimuti tubuh polosnya, Levin beranjak berdiri dan keluar dari kamarnya dengan tubuh penuh darah.


Ia berjalan menuju kamar ibunya dan mendapati suara-suara deshan yang sudah sangat sering ia dengar dari dalam sana. Ibunya tengah bergelut panas dengan pria itu sampai mereka tidak sadar bahwa anak yang mereka siksa baru saja membunuh orang di dalam kamarnya*.


Levin tersenyum miring lalu berjalan menuju dapur dan melangkah ke arah pipa gas rumahnya. Ia mengambil pisau dapur dan menusuk pipa tersebut hingga menghasilkan suara gas bocor.


Ia menyulut api dan perlahan membakar gorden dapurnya dengan senyum sinis. Setelah itu, ia keluar dari sana dan menutup pintu dapur. Ia berjalan menuju pintu depan, mengambil kunci rumahnya dan mengunci pintu tersebut dari luar.


"Burn in hell."


Setelah ia melangkah menjauh dari rumah penuh mimpi buruk itu. Beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan dari rumahnya yang mulai terbakar dilalap api yang begitu besar.


Terdengar suara teriakan nyaring penuh kesakitan dari dalam rumahnya. Levin tertawa begitu puas dengan kematian yang ia pilih untuk orang yang begitu ia benci. Ibunya mati dengan kematian paling menyakitkan yaitu terbakar hidup-hidup.


Flashback off.


Bersambung...


Next Up : lusa.


akhirnya kalian tau masa lalu Kenzo😌