Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 54



Duanovic's Mansion | 09.00 AM


Crystal mengunyah sarapannya dengan tenang sambil sesekali melirik diam-diam ke arah Levin. Perlahan semburat merah kembali menghiasi pipinya ketika mengingat kejadian pagi ini.


Flashback pagi ini.


Saat Crystal membuka matanya, betapa terkejutnya dia ketika mendapati sosok Levin yang tengah menatapnya lekat. Pria itu benar-benar berada di sampingnya, di tempat tidur yang sama dengannya sambil menumpukan kepalanya di sebelah tangannya dan menatap wajah tenang Crys yang tertidur.


Crystal spontan menjauhkan tubuhnya dan menarik selimut ke arah dadanya. Matanya membulat dan untungnya dia bisa merasakan bahwa dia masih memakai baju.


"Morning." sapa Levin dengan senyum hangat yang membuat Crys takjub melihatnya.


"Kau tidur di kamarku?" tanya Crys dengan tatapan memicing.


"Iya."


"Why?"


"So what? Ini rumahku, aku bisa tidur di manapun aku mau." jawab Levin santai.


Crystal mendengus. "Berapa lama kau melakukannya?" tanya Crys menatap Levin gugup.


"Melakukan apa?"


"Menatapku tertidur."


"Oh, satu jam."


Tentu saja Crystal kaget mendengarnya. Dia khawatir bukan tanpa sebab. Bagaimana jika ekspresinya ketika tidur sangat jelek? Bagaimana kalau dia mendengkur? Crystal benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu.


"Dasar mesum."


Crys mengambil bantalnya, lalu melempar bantal tersebut pada Levin dengan raut wajah malu. Levin mengambil posisi duduk sambil tersenyum menggoda melihat wajah memerah Crys.


Dengan gerakan cepat ia menarik tangan gadis itu, lalu melemparnya kembali ke atas ranjang untuk berbaring. Crystal tersentak saat Levin menindih tubuhnya dan perlahan-lahan mulai mendekatkan wajahnya.


Entah kenapa Crystal tidak bergerak dan memberontak sama sekali. Tatapan mata pria itu pada bibirnya membuatnya ikut menatap bibir Levin yang menggoda. Dia ingin merasakan bibir itu juga menyentuh bibirnya.


Sampai tinggal beberapa sentimeter lagi bibir mereka akan bertemu, tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan kegiatan manis itu dengan segera.


"Crys, ayo sarapan!"


Lagi-lagi Nathalie yang datang dan menginterupsi kegiatan mereka. Levin mendecak dengan wajah marah sambil menoleh ke arah pintu kamarnya.


"Apa aku bunuh saja dia hari ini." desis Levin tajam yang masih bisa didengar jelas oleh Crys.


Crystal buru-buru memukul dada pria itu setelah mendengarnya. "Kenzo bisa marah besar jika kau membunuhnya."


Crystal selalu merasa aneh jika ia memanggil nama Levin dengan Kenzo maupun sebaliknya. Di matanya, mereka adalah pria yang sama. Ia memang berbicara dengan Levin, namun hatinya merasa ia juga sedang berbicara dengan Kenzo. Wajah merekalah yang membuat Crystal merasa canggung dan aneh.


Levin menatap Crystal dalam setelah mendengar ucapannya. Melihat tatapan Levin yang penuh makna tersebut, Crystal dengan gugup mendorong dada pria itu untuk menjauh.


"Ba.. bangun, lama-lama Nath bisa mendobrak pintu kamarku." kata Crystal sedikit jengkel karena Nath masih saja mengetuk pintu dengan tak sabar.


Levin pun membuang nafas pasrah. Namun sebelum ia beranjak dari atas tubuh Crys, ia mengecup singkat bibir gadis itu dengan gerakan kilat.


"Kalau tidak bisa dibunuh, aku bisa membuangnya ke Antartika." kata Levin sambil bangkit dari atas tubuh Crystal yang sedang tertawa lucu mendengar ucapannya.


Flashback off


Crystal tertawa kembali mengingat kejadian lucu itu.


"Kenapa kau tertawa sendiri?" tanya Nath memasang wajah polosnya.


"Ah, tidak ada, aku hanya mengingat sesuatu yang lucu."


Nath terlihat menatap Crystal dengan tatapan menyelidik. Gadis itu kembali memakan sarapannya sambil tersenyum kecil entah karena alasan apa yang berhasil membuat emosi Nath menyulut.


Ia tidak suka melihat Crystal tertawa bahagia di saat ia malah berada di bawah pengawasan Levin. Nathalie sudah beberapa hari ini menjaga sikapnya dengan sangat hati-hati seperti orang bodoh dan polos.


Dia tidak ingin Levin mencurigainya karena pria itu benar-benar pintar membaca situasi dan gelagat orang. Pria itu bukan orang yang mudah dibodohi, hatinya terlalu dingin untuk itu semua.


Nath benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Crystal merebut hati Levin dengan begitu mudah. Dia semakin membenci gadis itu dari hari ke hari sampai ia merasa muak untuk terus melanjutkan peran sialannya ini.


Ketika mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, tanpa mereka sadari seseorang masuk ke dalam Mansion dan menghampiri mereka dengan wajah datar.


"Selamat pagi Mr. Duanovic."


Crystal menoleh mendengar suara tak asing itu, lalu matanya membulat ketika melihat sosoknya.


"Damian."


Crystal dengan spontan bangkit berdiri dengan wajah kaget ketika ia mendapati sosok Damian yang tiba-tiba memunculkan wujudnya kembali di depan mata Crys.


Levin menatap respon Crystal dengan pandangan tajam. Crystal terlihat sangat-sangat takjub karena tidak menyangka bahwa Damian akan datang kembali ke Mansion ini.


"Kau baik-baik saja?" tanya Crystal dengan raut khawatir sambil menyentuh kedua lengan pria itu erat.


Matanya naik turun meneliti seluruh tubuh Damian yang terlihat baik-baik saja. Diapun menarik nafas lega, lalu menjauhkan kembali tangannya.


"Aku pikir kau tidak akan kembali."


"Crystal, duduk dan makan sarapanmu!" kata Levin dingin.


Crys dengan cepat menoleh ke arah Levin dengan ekspresi bersalah. Dia tidak seharusnya mengacaukan sarapan mereka yang masih berlangsung. Crystal pun kembali duduk di kursinya.


Selama sarapan berlangsung, Damian berdiri di belakang Crystal seperti yang selalu ia lakukan selama ini. Namun yang tidak mereka sadari adalah, Nath yang kini menatap Damian dengan senyum miringnya. Damian ikut menatap wanita itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Nath tiba-tiba datang sambil membawa segelas jus jeruk di tangannya. "Dia siapa?" tanya Nath sambil duduk di sofa sebelah Crys.


"Damian." jawab Crys singkat.


"Dia pengawal di sini?"


"Iya, pengawal pribadiku."


Nath mengangguk-angguk seperti orang bodoh yang baru pertama kali mendengarnya. "Sepertinya kalian dekat."


"Benar, kami dekat."


"Kalian punya hubungan?" tanya Nath memancing. Crystal yang sejak tadi tak menoleh ke arah Nath akhirnya menoleh dengan mata memicing.


"Iya, dia temanku." kata Crys tegas karena sedikit jengkel mendengar pertanyaan Nath yang terdengar seperti mengejeknya.


"Easy girl, aku hanya bertanya."


Crystal terlihat menatap Nath dengan raut wajah tak bersahabat, lalu menolehkan kembali matanya ke arah televisi sambil membuang nafas kasar. Nath terlihat tersenyum puas sambil meminum jus di tangannya.


Di lain sisi


Levin masuk ke ruang kerjanya bersama dengan Damian di belakangnya. Ia duduk di kursi meja kerjanya, sedangkan Damian berdiri dengan tubuh tegap dan gagahnya. Levin meraih rokoknya, lalu menyulutnya dengan api. Damian hanya berdiri dan menunggu dengan sabar.


"Aku ingin kau mencari tau di mana markas Desmond!" titah Levin.


"Ini bukan tugas saya Tuan, tugas saya hanya menjaga Nona Alterio." kata Damian.


Levin tersenyum sinis, lalu menghembuskan kepulan asap dari mulutnya ke udara.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu terus bersama dengannya dan bekerja sama membodohiku dengan diam-diam pergi keluar untuk melihat kakaknya?" Levin tertawa meremehkan, lalu menekan putung rokoknya ke dalam asbak.


Ternyata Levin tau kejadian dimana Damian membawa gadis itu pergi untuk melihat kakaknya diam-diam tanpa persetujuan darinya.


"Tugasmu sudah berubah, kau tidak lagi menjadi pengawal pribadinya." ujar Levin dengan penuh penekanan dan dengan nada tak terbantahkan.


***


Crystal berdiri di samping pintu ruang kerja Levin sambil menyandarkan punggungnya di tembok. Sudah tiga puluh menit dia menunggu di ruang tamu, namun mereka belum keluar dari dalam sana. Akhirnya Crystal memutuskan untuk menunggu di depan ruangan tersebut.


Beberapa menit menunggu, Crystal tersentak saat pintu tersebut terbuka dan menampilkan sosok Damian. Crystal berdiri dengan wajah gembira, namun Damian menatap gadis itu dengan wajah datar dan dingin.


Melihat ekspresi pria itu, bahu Crystal menyusut dengan wajah sedih. Damian melangkah menjauh, membuat Crystal mengernyit.


"Kau mau kemana?" seharusnya Damian mengikutinya, kenapa pria itu malah pergi meninggalkannya?


Damian tetap berjalan dan tak menghiraukan ucapan Crystal.


"Damian."


Crystal melangkah mendekati pria itu, lalu berdiri dihadapannya guna menghalangi jalannya. "Ada apa? Kenapa kau berubah?" tanya Crystal menatap Damian dengan ekspresi menuntut.


Damian berhenti ketika Crystal mencegat jalannya. Pria itu menatap mata Crystal dalam. "Saya bukan lagi pengawal pribadi anda." kata Damian dingin, lalu melanjutkan kembali langkahnya dengan ekspresi datar.


Crystal terdiam di tempatnya dengan tubuh kaku. Tubuhnya seakan tidak bisa bergerak hanya untuk menoleh ke arah Damian yang sudah melangkah jauh.


Wajahnya terlihat shock mendengar ucapan Damian. Beberapa saat ia terdiam, Crystal melangkah cepat ke dalam ruangan Levin dengan wajah kecewa dan marah. Ia membuka pintu tersebut dengan kasar, menampilkan sosok Levin yang duduk santai di kursinya.


"Kau memecat Damian?" cerca Crystal langsung dengan wajah emosi. Levin terlihat menoleh menatap gadis itu dengan wajah tak bersalah.


"Tidak."


"Lalu? Damian bilang kalau dia bukan lagi pengawal pribadiku."


"Ya, memang benar."


"Kenapa? Apa alasannya?" tuntut Crys tak sabar.


Levin bangkit berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekati gadis itu dengan tatapan dingin. "Karena kau diam-diam pergi bersamanya untuk menemui kakakmu." kata Levin tajam dengan mata penuh emosi.


Crystal terlihat kaget dengan wajah memucat. Ia meneguk ludahnya kasar. "Karena kau juga berniat pergi dariku dengan meminta pertolongannya."


Setelah sampai di depan Crystal yang terlihat gugup, Levin berhenti dan mencengkram pergelangan tangan gadis itu yang berusaha mundur darinya.


"Apa sekarang kau masih berniat pergi dariku?"


Crystal meringis kecil, lalu menatap mata Levin yang terlihat sangat tajam penuh emosi. "Shh, sakit." desisnya kesakitan ketika cengkraman Levin di pergelangan tangannya semakin erat.


Levin menatap tajam wajah Crystal yang sedang meringis, lalu melepaskan cengkeramannya. Crystal terlihat mengelus pergelangan tangannya sambil menatap Levin dengan ekspresi shock dan benar-benar terkejut.


Levin terlihat kehilangan kontrol. Emosinya berhasil menguasai dirinya dalam sekejap hanya karena membayangkan Crystal pergi darinya.


"Remember, you'll never escape me no matter how hard you try and I'll never let you go. You were born to be Mine."


Bersambung....


Next Up : Jumat 3/9


Kenapa nggak lusa? karena hari itu aku ada acara maaf ya semua. Kenapa nggak besok? karena persiapan acara jadinya aku agak sibuk. Thank you for understanding me.


How bout this chapter guys??


See ya😘