
Crystal masuk ke dalam ruangan Kenzo dengan wajah tak berdosa. Gadis itu menutup pintu ruangan pria itu dengan pelan agar tidak mengganggu sang pemilik ruangan yang tengah fokus menatap berkas di tangannya.
"Dari mana?" Baru saja menutup pintu, gadis itu langsung dicerca pertanyaan oleh Kenzo.
"Membantu Karina membereskan ruangan rapat." jawab Crystal jujur sambil berdiri di hadapan meja Kenzo.
"Apa aku mengijinkanmu keluar?" tanya Kenzo dingin sambil mengangkat kepalanya menatap gadis tersebut.
Tubuh Crystal merinding menyadari aura Kenzo yang terlihat dingin dan menyeramkan hingga rasanya menusuk kulitnya. Pria itu kini menatap ke arahnya dengan tatapan setajam elang.
Crystal menunduk tak berani berhadapan dengan Kenzo yang terlihat mengerikan. "Maaf." Satu kata itu hanya bisa meluncur dari mulut Crystal.
"Apa kau bertemu seseorang disana?" tanya Kenzo lagi dengan nada dingin.
"Hanya satu orang pria yang masuk saat aku membantu Karina di ruang rapat." jawab gadis itu singkat.
"Siapa?"
"Karina memanggilnya dengan nama Mr. Killian." jawab Crystal jujur.
Namun sedetik setelah nama itu keluar dari mulut Crystal, saat itu pula rahang Kenzo semakin mengeras penuh amarah. Tiba-tiba pria itu dengan kasar memukul meja kerjanya dengan keras hingga beberapa berkas di atas meja terjatuh dengan naas ke lantai.
Crystal tersentak mendengar gebrakan Kenzo yang terdengar menakutkan. Gadis itu bingung dengan sikap Kenzo yang terlihat sangat marah entah karena alasan apa.
Crystal hanya bertemu dengan satu kliennya saja. Saat ia pertama kali ke kantor ini, Kenzo bahkan mengajaknya ikut meeting dengannya.
Kenzo langsung menjulurkan tangannya ke atas laptopnya dan tangannya terlihat mengutak-atik laptop tersebut dengan terlatih. Crystal yang tak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini hanya bisa diam dengan wajah bingung.
Beberapa saat kemudian tangan Kenzo berhenti bergerak setelah menekan tombol enter, lalu matanya dengan fokus menatap ke arah layar laptop, dimana terlihat rekaman cctv ruangan meeting beberapa menit yang lalu.
Terlihat bagaimana pria yang dipanggil 'Mr. Killian' tersebut masuk ke dalam ruangan meeting seorang diri. Terlihat juga tidak ada interaksi antara pria itu dengan Crystal di dalam rekaman tersebut. Lagipula pria itu datang lebih cepat dari waktu rapat yang sudah dijanjikan.
Setelah sosok Crystal meninggalkan ruangan meeting tersebut tanpa ada yang terjadi, Kenzopun menutup laptopnya dengan kasar.
Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu yang menyadarkan kedua manusia berlawanan jenis tersebut. "Masuk!" kata Kenzo dingin.
Pintu terbuka berbarengan dengan Crystal yang menoleh demi melihat siapa yang datang di saat keadaan menegangkan seperti ini. Kedatangan orang tersebut membuat Crystal mengucap syukur di dalam hatinya karena orang tersebut telah menyelamatkan nyawanya dari terkaman Singa.
Terlihatlah Karina dengan wajah terburu-buru masuk ke dalam ruangan Kenzo. "Mr. Duanovic, seluruh para petinggi sudah berkumpul di ruangan rapat." ujar Karina.
"Aku akan kesana." ujar Kenzo lagi masih dengan nada dingin dan wajah datarnya yang terlihat menahan amarah.
"Baik, saya akan membawakan berkasnya." ujar Karina sambil melangkah ke arah meja Kenzo. Karina melihat beberapa berkas yang terjatuh dan memungutnya. Gadis itu meletakkan kembali berkas yang terjatuh dan merapikannya di atas meja.
Kenzo memberikan berkas yang akan digunakan saat rapat nanti kepada Karina. Karina dengan sopan mengambil berkas tersebut, lalu menunduk sebentar dan setelahnya pergi dari ruangan tersebut dengan berkas di tangannya.
Kenzo bangkit berdiri, merapikan jasnya sebentar, lalu beranjak pergi dari ruangannya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada Crystal yang masih terdiam.
Crystal perlahan mengangkat kepalanya saat Kenzo berjalan melewatinya tanpa mengucapkan apapun. Sampai punggung pria itu tertelan oleh pintu ruangannya yang besar, saat itu pula Crystal langsung memasang wajah kesal.
"Dia kenapa sih?" tanyanya kesal dengan sikap Kenzo yang tiba-tiba kasar seperti tadi.
"Dasar aneh." Ketusnya lagi.
Sedetik kemudian wajah kesalnya berganti dengan senyuman lebar karena sebentar lagi ia akan melihat kakaknya. Crystal berjalan ke arah pintu, membuka pintu tersebut dan mendapati Damian di depan pintu ruangan.
"Hai." sapa Crystal sambil tertawa geli, lalu menutup pintu dengan perlahan.
"Apa kita sudah bisa pergi sekarang?" tanya Crys sambil berdiri di depan Damian dengan wajah bertanya yang terlihat polos.
"Seluruh bangunan ini sudah dijaga oleh para pengawal yang lain. Anda tidak boleh terlihat oleh mereka atau mereka akan langsung melaporkannya pada Mr. Duanovic." ujar Damian menjelaskan panjang lebar.
"Kalau begitu aku harus bagaimana?" tanya Crystal lagi dengan wajah penuh harap.
"Berdoa saja semoga mereka tidak menemukan anda." jawab Damian singkat, padat dan jelas, lalu berjalan ke arah lift.
Crystal memasang wajah cemberut setelah mendengar jawaban menjengkelkannya. Namun ia tetap mengikuti langkah Damian yang masuk ke dalam lift.
Setelah masuk ke dalam kotak besi tersebut, tangan Damian menekan tombol B pada dinding lift, lalu setelahnya lift tersebut turun dengan cepat menuju lantai paling dasar yaitu basement.
Pintu lift terbuka, Damian segera keluar demi melihat situasi di lantai dasar tersebut. Damian melihat seorang pengawal yang berdiri di dekat mobil sambil menghisap rokoknya.
Crystal yang masih berada di dalam lift menatap ke arah Damian dengan penuh harap sambil jarinya menekan tombol yang berfungsi untuk menahan pintu lift agar tetap terbuka.
"Bagaimana?" tanya Crys dengan suara pelan.
Damian menekan sebuah alat yang berada di telinganya, lalu mulai berbicara. "Naik ke lobi dan berjaga disana!" kata pria itu berkomunikasi lewat earpiece nya.
Pengawal tersebut masuk ke dalam lift lain karena lift yang mereka pakai memang khusus hanya untuk Kenzo.
"Keluar!" ujar Damian dingin.
Crys mengernyit, lalu keluar dari kotak besi tersebut dan berdiri di samping Damian sambil celingak-celinguk melihat keadaan sekitar.
Crystal tersenyum senang, lalu melangkah menyusul Damian yang sudah pergi lebih dulu ke arah mobil yang akan mereka gunakan.
"Masuk!"
Damian membuka pintu penumpang untuk Crystal, namun gadis itu malah membuka pintu tepat di samping kursi supir dan masuk dengan santai.
Damian menatap gadis tersebut dengan tatapan datar, lalu menutup pintu yang telah ia buka dan masuk ke dalam mobil.
Crystal memakai sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Damian yang mulai menghidupkan mesin mobil.
"Kita ke rumahku terlebih dahulu, aku akan beritahu jalannya." ujar gadis itu menatap Damian dengan penuh senyum.
Damian tanpa kata langsung mengendarai mobil tersebut ke arah yang diinstruksikan oleh gadis di sebelahnya.
Tak butuh waktu lama hingga akhirnya mereka sampai di salah satu rumah sederhana yang halamannya ditumbuhi rumput yang mulai memanjang. Bunga-bunga yang ditanam di halaman tersebutpun mulai terlihat layu dan kering tak terawat.
Crystal menatap keadaan rumahnya yang memprihatinkan dengan wajah sedih. Gadis itu mengangkat salah satu pot bunga dan menemukan kunci rumahnya dibawah pot tersebut.
Ia membuka pintu rumahnya dan terkejut saat melihat keadaan rumahnya yang begitu berantakan dengan kertas berisi brosur wajah dirinya yang menghilang.
Crystal menatap miris sambil melanjutkan langkahnya masuk semakin dalam hingga menuju dapur. Matanya lagi-lagi menangkap banyak makanan cepat saji dan bungkusnya yang masih berserakan di atas meja makan.
Tanpa sadar mata Crystal mulai berkaca-kaca tak sanggup membayangkan kakaknya melewati hari demi hari seperti ini.
Rasanya Crystal ingin langsung bertemu dengan kakaknya dan memeluknya erat, lalu mengatakan kalau ia baik-baik saja selama ini.
"Jangan menyentuh apapun!" ujar Damian tiba-tiba saat tangan Crystal hendak menyentuh bingkai fotonya dan kakaknya di hari kelulusan sekolahnya dulu.
Mendengar ucapan dingin pria di belakangnya, Crystal menarik kembali tangannya perlahan dengan wajah pasrah dan sedih.
Crystal melangkah ke arah kamarnya, membuka pintu tersebut dan menatap kamarnya yang masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan.
Gadis itu menutup pintu kamarnya kembali. "Ayo pergi ke tempat kerjanya." ujar Crystal sambil menoleh ke arah Damian dan menatap pria itu lekat.
"Dia tidak ada di sana." ujar Damian yang berhasil membuat Crystal terkejut.
"Tidak mungkin, kau tau darimana? lalu di mana dia kalau bukan di sana?" tanya Crystal bertubi-tubi.
"Ikut aku!"
Crystal dan Damian kembali masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah gadis itu ke tempat yang tidak diketahui oleh Crystal.
Beberapa menit berkendara menyusuri jalan yang terlihat tak asing, akhirnya mobil Damian berhenti di pinggir jalan dekat dengan alun-alun kota.
Crystal mengernyit bingung dengan kening berkerut, lalu menoleh ke sekitarnya. Detik itu juga Crys melihat sosok yang sangat ia kenal berjalan mondar-mandir diantara orang-orang yang sedang berjalan kaki sambil membagikan sebuah brosur ditangannya.
"Kakak." desis Crys sambil menatap lekat kakaknya yang terlihat pucat dan badannya yang terlihat kurus.
Saat itu juga rasanya Crystal ingin keluar dari dalam mobil, menghampiri kakaknya dan memeluknya erat. Orang yang sangat ia rindukan kini berada tepat di depan matanya, namun ia tak bisa melakukan apapun selain duduk dan melihat. Matanya mulai memerah dan ia langsung menoleh cepat ke arah Damian karena ia tidak bisa melihat kakaknya seperti itu lebih lama lagi atau dia bisa menangis tak karuan.
"Ayo pergi!" ujarnya pelan sambil menunduk menahan tangis.
Damian yang mendengarnyapun segera melajukan mobilnya kembali ke arah perusahaan Kenzo.
Saat itu hanya ada keheningan di antara dua anak manusia tersebut. Crystal terdiam tak membuka suara dan matanya menatap ke luar jendela sedangkan Damian fokus mengendarai mobil.
Sampai akhirnya mobil mereka masuk ke dalam pekarangan Basement dan berhenti. Crystal membuka pintu di sampingnya dan keluar dari sana disusul juga oleh Damian.
Damian berjalan di belakang Crys yang terlihat berjalan seperti mayat hidup. Gadis itu masih diam tak buka suara sampai mereka masuk ke dalam lift dan Damian hanya mengikuti tanpa ikut buka suara.
Pintu lift tertutup dan saat itu juga Crystal berbalik dan berdiri di depan Damian dengan tatapan lekat.
"Bantu aku melarikan diri sejauh mungkin dari pria itu."
Bersambung....
Next Up: esok 😊