
Crystal menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan lekat. Dibelakangnya terlihat pria gemulai yang tersenyum puas sambil menatap Crystal dengan postur badan sombongnya. Crystal mengelus rambutnya yang kini terurai indah dengan model curly natural. Make up yang dipakai juga tipis dan natural namun terlihat berkelas.
Crys memutar tubuhnya dan menatap gaunnya yang mengembang indah. Bahannya tipis dan transparan, bagian dada hingga pinggangnya dihiasi dengan batu Swarovski yang indah. Matanya menangkap punggung belakangnya yang terekspos dengan jelas dan bagian dadanya yang juga terlalu turun dan sedikit transparan. Ditambah bagian belahan gaun tersebut yang terbilang tinggi.
"Apa tidak ada gaun yang lain?" tanya Crys dengan nada tidak nyaman.
"Ini gaun terbaruku dan yang termahal disini, aku tidak ingin mengecewakan Tuan Kenzo." ujar pria itu sambil melambaikan tangannya dari dagu ke lehernya dengan manja.
Crystal mendengus. "Tetapi aku tidak nyaman, ini terlalu terbuka." ujar Crys lagi sambil menatap pria itu dengan wajah memelas.
"Ck, aku mengerti model seperti apa yang disukai Tuan Kenzo. Semua wanitanya selama ini Sexy, menawan serta terlihat berkelas, aku terkejut saat dia membawamu kesini yang sama sekali tidak termasuk dalam kategori itu. Jadi, diamlah dan jangan merusak karyaku!" ujar laki-laki itu sambil menarik tangan Crystal dari sana dan membawa gadis itu ke atas panggung kecil yang di depannya terdapat tirai besar yang tertutup.
Crys hanya berdiri di tempat tersebut sambil memilin jari-jemarinya saat Pria itu pergi dari sana dengan senyum tak sabar.
"Dia sudah selesai Tuan." ujar pria gemulai itu saat ia mendekati Kenzo yang duduk di sofa dengan manis sambil memainkan ponselnya.
Tirai besar tersebut terbuka dan menunjukkan sosok Crys yang berdiri canggung sambil menatap lurus ke depan.
Kenzo menaikkan kepalanya dan menatap ke arah Crystal dengan tatapan tajam dan lekat. Matanya turun dari atas sampai ke bawah seakan mengamati dengan teliti.Terlihat betapa tidak nyamannya Crystal dengan baju yang ia pakai.
Beberapa detik mengamati Crystal, Kenzo menatap ke arah pria gemulai di sebelahnya yang terlihat memasang senyum bangga.
"Apa kemampuanmu hanya sebatas ini?" ujar Kenzo pada pria itu yang dibalas tatapan kaget.
"Tidak cocok." tambah Kenzo datar dengan nada tajam dan tatapan mematikan.
"Ganti dengan gaun pilihan yang dia suka!" ujar Kenzo mutlak, lalu mengalihkan matanya kembali ke ponselnya.
Crystal yang sejak tadi hanya menjadi penonton ikut terkejut melihat sikap Kenzo. Ia tidak menyangka pria itu akan melakukan hal seperti itu. Pria gemulai itu menunduk sebentar lalu kembali ke belakang untuk merombak Crystal kembali.
***
Crystal turun dari mobil sambil menarik gaunnya ke atas. Ia memilih gaun yang terlihat lebih nyaman untuknya, namun terlihat cocok untuk datang ke acara mewah.
Crystal berjalan beriringan dengan Kenzo yang berada di sebelahnya. Kenzo berjalan dengan penuh karisma dan aura tajamnya yang menarik seluruh pandangan mata para tamu.
Crystal merasa tidak nyaman saat pandangan mata itu tanpa sengaja ikut tertuju padanya karena berada di samping pria itu.
Crystal melambatkan langkahnya sehingga ia berjalan di belakang Kenzo layaknya ia seorang bawahan. Kenzo mulai menyadari bahwa Crystal tidak berada di sampingnya dan berjalan pelan di belakangnya.
Kenzo menatap dari ekor matanya sebentar, lalu melanjutkan langkahnya menuju para petinggi perusahaan lain yang ikut ke acara tersebut.
Crystal masih diam dan mengikuti langkah Kenzo tanpa banyak bicara. Saat pria itu berjalan mendekati para koleganya, Crystal tersentak saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang.
Crystal menatap ke orang tersebut dan bernafas lega bahwa ia adalah Karina. Karina berdiri sambil memasang senyum lebar dan manisnya.
"Kau datang juga ternyata." ujar Karina membuka pembicaraan.
Crystal mengangguk-angguk canggung. "Ayo kita duduk disana." ajak Karina dengan semangat.
Crystal tampak ingin menolak, lalu mengalihkan matanya ke arah Kenzo yang sudah sampai disana dan kini sedang berbincang serius dengan para koleganya.
Kenzo tidak menatap ke arahnya dan akhirnya ia mengikuti arah tarikan Karina dengan pasrah.
Karina membawanya ke meja yang penuh dengan makanan. "Ambil makanan yang kau inginkan, lalu kita berbincang di sana." tunjuk Karina pada meja bundar yang terlihat kosong.
Crys hanya menurut pada apa yang Karina katakan dan mengambil makanan yang ia inginkan. Setelahnya, mereka berjalan bersama ke meja tersebut.
"Kulihat kau masuk bersama Mr. Duanovic." ujar Karina sambil menaikkan sebelah alisnya dengan penasaran.
"Tidak, kami hanya berjumpa di depan tanpa sengaja." ujar Crystal menggeleng gugup.
"Oh benarkah?" Crystal mengangguk sambil memakan makanannya dengan canggung.
Karina terlihat mengangguk-angguk paham, lalu memencarkan matanya ke arah Kenzo yang masih berbincang dengan wajah seriusnya.
"Lihat dia, bukankah Mr. Duanovic sangat sempurna?" ujar Karina sambil menatap ke arah Kenzo dengan wajah kagum.
Kening Crys mengernyit sambil menatap ke arah Kenzo dengan lekat. Mengamati pria itu dengan teliti dan mencari tau apa yang disukai Karina dari pria kejam itu.
"Dia sangat tampan dan badannya sangat bagus, dia juga sangat ambisius dan pintar." puji Karina dengan senyum kagum.
'Fisiknya memang sempurna, tapi hatinya tidak.' batin Crys mengejek dengan sepenuh hati.
Crystal mengalihkan matanya dari Kenzo dan memencarkan matanya ke seluruh penjuru hall hotel. Matanya mencoba menarik sesuatu yang lebih menarik perhatiannya daripada memperhatikan Kenzo.
"Oh lihat, itu pemilik Raveno Internasional bersama dengan istri dan anaknya." Crystal menoleh ke arah yang Karina tunjuk dan mendapati sepasang suami-istri bersama dengan dua anak laki-lakinya.
"Namanya Davin Anthonic Raveno, dia dulu atasan dan teman Mr. Duanovic, hingga sekarang Mr. Duanovic memiliki perusahaannya sendiri." jelas Karina panjang lebar.
Crystal manggut-manggut mengerti sambil melihat ke arah satu keluarga tersebut yang berjalan menuju Kenzo.
Namun hal yang membuatnya tertarik terjadi setelahnya. Crystal terperangah saat melihat Kenzo tersenyum begitu tulus saat ia menggendong anak laki-laki dari pria bernama Davin tersebut.
Dengan penuh ceria, anak laki-laki itu berlari menuju Kenzo dengan langkah tak sabar. Kenzo terlihat sangat berbeda 180 derajat saat ia menghadapi anak laki-laki tersebut.
Mata Crystal menatap lekat peristiwa langka itu dengan wajah takjub. Ia melihat bagaimana Kenzo berbincang hangat dengan anak laki-laki tersebut tanpa melunturkan senyumnya.
'Woah, dia punya sifat seperti itu juga ternyata.' ujar Crystal dalam hati dengan takjub.
Karina menjentikkan jarinya di depan wajah Crystal yang terlihat bengong menatap Kenzo dengan lekat.
"Hei."
Crystal tersadar dan langsung menatap ke arah Karina dengan bingung. "Ada apa? Jangan bilang kau mulai tertarik dengan Mr. Duanovic." ujar Karina dengan pandangan menyelidik dan mata memicing.
"Ahh, tidak mungkin. Tenang saja, dia bukan tipeku, kau bisa memilikinya." ujar Crystal menggeleng cepat sambil tertawa receh mendengar perkataan Karina.
Setelah itu Karina terlihat memasang senyum puas. "Aku permisi ke toilet sebentar." ujar Crystal pada Karina. Karina mengangguk, lalu Crystal berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mencari toilet.
Crystal menyusuri lorong hotel dan akhirnya menemukan tanda bertuliskan toilet. Crystal melangkah di lorong sepi tersebut, lalu masuk ke dalam toilet bertulis Women.
Di dalam toilet tersebut hanya ada Crystal seorang diri. Crystal mulai membasuh tangannya, lalu menatap pantulan dirinya di depan kaca wastafel dengan lekat. Tangannya terulur memperbaiki surai rambutnya yang terlihat sedikit berantakan.
Tiba-tiba pintu toilet tersebut terbuka dan Crys menoleh dengan wajah terkejut saat melihat seorang pria yang terlihat tak asing masuk ke dalam area khusus wanita tersebut.
Crystal memundurkan langkahnya dengan panik saat pria itu mulai berjalan dengan langkah mengintimidasi dan senyum miringnya. Dia pria yang memasang senyum manis padanya di kantor, namun senyum itu terlihat mengerikan.
Dia James.
"Sepertinya anda salah masuk ruangan Tuan James. Ini adalah toilet wanita." ujar Crystal berusaha menyembunyikan kepanikan dan mencoba berfikir positif.
Namun raut wajahnya langsung berubah panik saat ia melihat senyum James mengembang dengan lebar sambil terus berjalan masuk dan mengunci pintu toilet tersebut dari dalam.
"Aku tidak salah ruangan, aku memang masuk untuk menemuimu." ujar James sambil memasang senyum miringnya yang terlihat mengerikan.
Bersambung.....