Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 80



Killian's Mansion | 09. 34 PM


Damian membuka sebuah pintu ruangan yang sudah sangat ia kenali dan sering ia datangi. Ketika pintu sudah terbuka, terlihat sosok Desmond yang bertelanjang dada berada di atas ranjang dengan dua wanita di kedua sisinya.


Damian menundukkan kepalanya kepada Desmond yang melihat kedatangannya.


"Ada apa anda memanggil saya kemari Mr. Killian?" Tanya Damian.


"Aku dengar Kenzo pergi dari Mansionnya selama beberapa hari. Kemana dia pergi?" Tanya Desmond.


Damian terdiam beberapa saat. Ia jelas tau kemana Kenzo pergi melalui ucapan Crystal padanya, namun entah kenapa mulutnya seakan tidak bisa terbuka untuk mengungkapkan informasi tersebut.


Damian menimbang dalam batinnya. Semua keputusan berada dalam tangannya dan sekarang pilihan apa yang harus ia pilih? Ketika ia mengelak, saat itu juga Damian menyadari ia sudah tidak berada di pihak Desmond sepenuhnya.


"Saya tidak mendengar informasi apapun. Kepergiannya dirahasiakan." Jawab Damian menatap Desmond.


"Wanita itu tidak tau kemana dia pergi?" Tanya Desmond mengacu pada Crystal.


Damian menggeleng sebentar. "Saya sudah mencoba memancingnya, tetapi sepertinya dia tidak tau kemana pria itu pergi." Jawab Damian lagi.


"Cari tau kemana dia pergi!" Ujar Desmond menatap Damian tajam.


Damian menunduk dengan wajah dingin. "Baik." Lalu ia pergi meninggalkan ruangan tersebut setelah mengatakan hal tersebut.


***


Barcelona | 01.03 AM


Lucas bersandar santai di punggung kursinya dengan sebuah komputer yang menyala di depannya. Lucas membuang nafas bosan dikarenakan Kenzo yang tak kunjung memberikan perintah.


Suara pintu terbuka membuat Lucas memutar kursi yang ia pakai untuk menatap sosok Kenzo yang baru saja tiba.


"Berapa lama lagi?" Tanya Lucas malas. Pria itu terlihat tidak suka menghabiskan waktu ketika kesenangannya berada tepat di depan mata.


Lucas tidak sabar lagi menghancurkannya hingga berkeping-keping.


Kenzo mengambil duduk di atas sofa sambil menyalakan rokoknya. Asap rokoknya terlihat mengepul diudara ketika ia membuang nafas dari mulutnya.


"Seluruh peledak sudah dipasang diseluruh bangunan, kau hanya perlu menurunkan perintah, maka tugasku selesai." Ujar Lucas panjang lebar.


"Ledakkan!"


Senyum miring Lucas terbit, lalu ia kembali memutar kursinya dan menekan tombol enter dengan begitu cepat.


"Fireworks start." Desis Lucas sambil tersenyum begitu lebar. Membayangkan bagaimana bangunan tersebut meledak dan hancur dilalap api, membuat jiwa psychopath Lucas muncul dengan senyum mengerikannya.


Kenzo masih menghembuskan asap rokoknya dengan begitu santai, sedangkan disisi lain, terdengar suara ledakan yang begitu keras, menghancurkan sebuah gedung besar dengan api yang mulai melalapnya hingga habis tak tersisa beserta segala sesuatu di dalamnya.


***


Sebuah bangunan milik perusahaan HFE Corporation yang berada di Barcelona meledak pada pukul 01.05 pagi waktu setempat. Ledakan menimbulkan api yang melalap bangunan tersebut hingga tak tersisa. Dugaan sementara, ledakan terjadi disebabkan oleh kebocoran tabung reaktor pada salah satu unit bagian produksi. Saat ini penyelidikan masih dilakukan oleh pihak berwajib, namun untungnya tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ledakan tersebut.


Crystal menatap ke arah layar televisi dengan begitu fokus. Matanya seakan terkunci pada berita yang sedang disiarkan, dimana terlihat bagaimana gedung tersebut terbakar di bawah langit malam dan para warga disekitar terlihat begitu panik sambil menatap ke arah gedung yang mulai hancur tak bersisa.


Ansell, Damian, dan Allaric ikut terdiam sambil melihat berita tersebut. Crystal melirik ke arah Ansell dengan tatapan curiga ketika pria itu mengalihkan pandangannya dari arah televisi dan kembali fokus dengan laptopnya.


Crystal merasa kejadian ini berhubungan dengan Kenzo yang juga berada di Barcelona. Damian menatap lekat pada bangunan yang tengah dilalap api tersebut. Jadi inilah tujuan pria itu pergi ke Barcelona.


Jika saja Damian memberitahu Desmond bahwa Kenzo pergi ke Barcelona, mungkin saja Desmond akan segera mengetahui rencana Kenzo dan menggagalkannya. Wajah Damian terlihat datar dan dingin. Ia sama sekali tak terganggu dengan berita yang merugikan atasannya. Damian menyadari bahwa nyatanya, ia tidak menyesali keputusan yang telah ia buat.


"Ansell, bisakah kita berbicara berdua?" Tanya Crystal angkat suara.


Crys mendengus kesal. Ia melirik ke arah Damian, memberitahunya untuk meninggalkannya sebentar. Sebelum Crystal berbicara, seakan sudah mengerti, Damian langsung menunduk dan pergi dari sana.


Crystal menatap takjub pada respon Damian yang begitu tanggap dengan situasinya. Kini Crystal menoleh ke arah Allaric.


"Kak, bisa tinggalkan kami sebentar?" Tanya Crys.


"Baiklah." Jawab Aric mengerti, lalu pergi dari sana dan hanya menyisakan Crystal dan Ansell.


"Apa Kenzo ada hubungannya dengan ini?" Tembak Crys langsung.


"Tanyakan langsung padanya!" Jawab Ansell tak ingin membahasnya.


"Kau menyuruhku untuk datang ke Barcelona sekarang juga?" Tanya Crys geram dengan jawaban Ansell.


Ansell tak membalas. Crys sangat kesal melihat sikap Ansell. Apa Kenzo menyuruh Ansell untuk bungkam dan tidak memberitahu apapun padanya?


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Crys lagi.


Ditengah kegiatan jari-jemarinya yang sedang menari di atas keypad, Ansell tertawa dengan senyuman miring mengejek.


"Siapa yang kau khawatirkan?" Tanya Ansell santai.


"Tentu saja Kenzo, ah dan juga Levin." Jawab Crys.


Ansell mengangkat kepalanya dan menatap Crystal dengan senyuman miringnya.


"Dia bahkan bersama dengan seorang Psycopat. Mereka berdua saja cukup untuk menghancurkan sebuah Kota. Seharusnya yang kau khawatirkan adalah orang-orang yang berurusan dengannya." Crystal tertegun dengan ucapan Ansell. Seberapa kuat dan mengerikannya Kenzo, dia tetaplah seorang manusia yang pasti mempunyai kelemahan.


Disisi lain


Desmond menggebrak meja kerjanya dengan wajah memerah marah. Tangannya terkepal di atas meja dengan rahang mengeras dan urat yang bermunculan di lehernya.


"SIALAN! INI PASTI PERBUATANNYA."


Mata Desmond membulat tajam dengan tatapan membunuh. Terdapat seorang pria lain disana yang hanya dapat menunduk dan menutup mulut melihat kemarahan atasannya.


Desmond terkejut bukan main ketika mendengar kabar bahwa gedung perusahaan HFE Corp meledak dengan begitu tiba-tiba. Desmond tidaklah bodoh untuk mengetahui bahwa semua ini telah direncanakan, dan satu-satunya orang yang berhubungan dengan ini semua hanyalah Kenzo.


Semua tali tersebut terhubung pada satu titik yang sama. Karena itu Desmond yakin bahwa Kenzolah otak dari peledakan tersebut.


Kemarahan sudah menguasai dirinya. Kenzo sudah berani menyentuh properti miliknya. Mereka saling membenci dan saling terganggu dengan keberadaan masing-masing, bertolak belakang dengan topeng yang selama ini mereka pakai ketika berhadapan langsung dengan satu sama lain.


"Kau sudah memastikan dimana dia berada?" Tanya Desmond tajam pada bawahannya yang terlihat ketakutan.


"Maaf Tuan, saya tidak ta...."


DOR


BRUK


Tubuh pria itu terjatuh di atas lantai dengan bersimbah darah. Desmond menatap penuh kebencian pada mayat bawahannya tersebut yang sudah terbujur kaku.


"TIDAK BERGUNA!" Desmond kembali berteriak kencang penuh amarah. Pria tersebut benar-benar terlihat kehabisan kesabaran.


"PANGGIL DAMIAN KEMBALI!"


Bersambung...