Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 66 - Nathalie & Kenzo



Flashback On


12 Years Ago


Di bawah langit malam yang disinari cahaya bulan, terlihat seorang pria tersungkur kesakitan dengan genangan darah yang merembes dari perutnya.


Ia terduduk di sebuah gang kecil dan gelap yang hanya diterangi beberapa lampu yang berjarak 100 meter dengan lampu selanjutnya. Tangannya sibuk menekan luka terbuka di bagian perutnya, sambil meraih ponselnya dengan cepat.


Ia mendial nomor seseorang dari sana. "Mereka pergi ke arah Barat." Ujarnya setelah sambungan telepon genggangnya terhubung.


Setelah mengatakan itu, ia mematikan sambungan telepon dengan nafas terengah. Wajahnya terlihat pucat dan darahnya terlihat tidak berhenti. Kalau seperti ini terus, dia akan segera kehabisan darah.


"Oh God." pria itu menoleh dengan cepat ke sumber suara.


Ia mendapati seorang gadis menatapnya dengan wajah terkejut sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Pria itu menatap nyalang gadis tersebut, namun kembali meringis ketika tubuhnya semakin kehilangan tenaga dan rasa sakit mengalihkan pikirannya.


Dengan langkah ragu, gadis itu mulai mendekati pria sekarat tersebut. "Kau tidak apa-apa? Aku akan memanggil Ambulans." Ujarnya sedikit menunduk melihat pria itu meringis dengan darah yang tak berhenti.


"Jangan! Pergi dari sini!" Ujar pria itu kesulitan dengan wajah menggeram.


Gadis itu terlihat memasang raut khawatir. "Kalau kau tidak mau, kau akan mati kehabisan darah." Ujarnya mulai meninggikan nada karena kekeraskepalaan pria tersebut.


"Tutup mulutmu!" Gadis itu terdiam dengan wajah kesal. Ia akhirnya membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah, kakinya kembali berhenti dan berbalik dengan wajah kesal.


Ia kembali mendekati pria itu. "Kalau kau tidak mau ke rumah sakit, kau bisa ikut ke rumahku. Aku bisa mengobatimu." Ujar Gadis itu panjang lebar.


Pria yang diambang kematian itu mengangkat wajahnya dan menatap sosok gadis di depannya dengan tatapan tajam.


"Tidak lucu kalau kau mati disini." Tambah gadis itu lagi.


Pria itu terdiam sejenak, lalu bangkit berdiri dari tempatnya dengan susah payah. Ia menekan luka di perutnya sambil meringis.


Gadis itu tersenyum tipis mengetahui bahwa pria di depannya tersebut akhirnya memutuskan untuk ikut ke rumahnya dan diobati olehnya.


"Ikut aku!" Ujarnya. Pria itu berjalan dengan tertatih-tatih sambil memegang tembok untuk menjadi sandarannya.


"Biar aku bantu." Sepasang tangan gadis itu membantu tubuh lemah tersebut yang terlihat tergopoh-gopoh hanya untuk membawa badannya sendiri.


"Untung saja rumahku dekat dari sini."


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah gadis tersebut. Pria itu terduduk di atas sofa, sedangkan gadis tersebut dengan telaten membersihkan luka dan menjahit luka terbuka di perut pria itu.


"Setidaknya ini menghentikan pendarahanmu untuk sementara. Sebaiknya kau periksa ke dokter untuk berjaga-jaga apa ada luka di organ dalammu." Gadis itu terlihat menjahit lukanya dengan ahli.


Pria tersebut terduduk dengan wajah pucat. Ia mengambil ponselnya dan mengirim lokasinya ke seseorang disana.


"Selesai." Gadis itu merapikan alat-alat medisnya setelah selesai menjahit dan membalut luka pria itu.


"Aku Nathalie." Ujarnya mengenalkan diri secara tiba-tiba sambil merapikan barangnya.


Pria iti tidak menjawab, membuatnya mendecak sebal. "Kau sudah menghubungi temanmu? Kalau belum, aku akan benar-benar memanggil ambulans." Ujarnya mengancam.


"Kau berbaringlah dulu!" Gadis bernama Nathalie itu menuntun pelan tubuhnya untuk berbaring di atas sofa.


Pria itu masih meringis beberapa kali. Nathalie merasa takjub dengan pria di depannya itu. Luka lebar tersebut ia jahit tanpa menggunakan obat bius karena ia memang tidak punya stok obat bius hari ini.


Nathalie menatap mata pria tersebut yang mulai tertutup setelah berhasil berbaring di sofa. Ia pun mengambil selimut dan menyelimuti tubuh pria itu dan membiarkannya beristirahat.


15 menit kemudian, suara ketukan pintu membuat Nathalie melangkah cepat dan membukanya. Tampaklah dua orang pria dengan penampilan yang mirip seperti penampilan pria sekarat yang ada di dalam rumahnya. Tangan mereka terlihat mengenggam sebuah tandu lipat.


"Halo."


"Ah, halo. Apa kalian teman yang dihubunginya utnuk datang menjemput?" Tanya Nath.


"Iya."


"Dia ada di dalam, baru saja tertidur. Kalian harus membawanya ke Rumah sakit, ia harus diperiksa dengan benar."


Nath menuntun dua pria tersebut ke arah sofa, dimana tamu dadakannya berada. Kedua pria tersebut dengan sigap menggendong tubuhnya pelan, lalu membaringkannya dia atas tandu.


Setelah itu, mereka berjalan keluar dan pergi ke dalam mobil. "Terimakasih." Ujar salah satu pria sebelum mereka pergi menjauh dari halaman rumahnya. Nath membalas dengan anggukan kecil sambil memasang senyum tipis, lalu menatap mobil yang perlahan mulai menghilang dari penglihatannya.


Dua minggu semenjak kejadian itu, Nathalie tidak pernah bertemu dengan pria itu lagi. Malam itu, Nathalie berjalan santai melewati gang menuju rumahnya.


Gang kecil, sempit dan gelap. Langkahnya memelan ketika matanya kembali menatap sosok tak asing yang terduduk sambil memegang perutnya.


Nathalie mendekat dengan wajah kaget. "Kau lagi." Pria yang terduduk tersebut mengangkat kepalanya dan menatap Nathalie.


Nathalie mendecak lalu berjongkok. Ia melihat ke arah tangan Pria itu yang sedang menekan perutnya, tepat di tempat ia terluka dua minggu yang lalu.


"Kau gila?" Ujar Nathalie takjub.


"Pergi!"


Nath tetap berjongkok sambil menatap pria itu heran. Ia pun bangkit berdiri. "Aku akan mengobatimu di rumahku kalau kau mau. Kau masih ingat dimana bukan?" Nath pun berjalan santai meninggalkan pria keras kepala tersebut disana seakan ia yakin bahwa pria itu akan datang menemuinya.


...****************...


Nathalie membereskan kembali barang-barang medisnya setelah ia selesai mengobati seorang pria yang duduk di atas sofanya.


Untungnya luka kali ini hanya lumayan terbuka, tidak separah dua minggu yang lalu. "Aku Nathalie, kalau kau lupa. Namamu?" Tanya gadis itu.


"Kenzo." Pria itu menjawab dengan singkat dan dingin.


"Sepertinya kau memiliki banyak musuh diluar sana. Kau harus lebih berhati-hati, kalau kau tidak ingin cepat mati." Nathalie pergi menyimpan kotak medisnya.


"Akan kubuatkan Cream Soup, istirahat saja dulu." Tambahnya lagi sambil beranjak menuju dapurnya, sedangkan pria bernama Kenzo tersebut menatap lekat punggung Nathalie yang mulai menjauh.


Semenjak hari itu, Kenzo kerap kali datang ke rumah Nathalie dengan membobol jendela rumahnya. Pria itu perlahan-lahan mulai tertarik dengan gadis yang menyelamatkan nyawanya tersebut.


Seiring waktu, hubungan mereka semakin dekat dan dalam hitungan bulan, Kenzo menyatakan perasaannya dan akhirnya mereka berpacaran. Terlihat jelas Kenzo sangat mencintai Nathalie, gadis itu adalah cinta pertamanya. Perempuan pertama yang berhasil melembutkan hati dinginnya yang sudah membeku semenjak ia kecil.


Bersambung.....