Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 45



"Lakukan tugasmu dengan baik. Jangan melibatkanku dan membuat orang-orang di tempat ini mencurigaiku." tambahnya lagi dengan nada dingin dan tajam, lalu pergi meninggalkan pria itu di sana.


Pria asing itu menatap Damian masih dengan senyum miringnya dan sirat mata yang penuh intimidasi. Sedangkan sosok Damian pergi entah kemana.


"Temukan gadis itu sebelum pria itu datang!" kata pria asing itu pada orang-orang di belakangnya.


Setelah mengatakan perintah tersebut, mereka mulai berpencar satu sama lain menyusuri setiap sudut ruangan.


Di lain sisi


Kenzo dengan penuh perhatian menyuapi wanita cantik di depannya yang terlihat sangat rapuh. Saat ini, pria itu terlihat berbeda dengan dirinya yang dingin dan tak tersentuh.


Wanita itu menatap Kenzo dalam. "Kau tidak membenciku?" tanya Wanita itu tiba-tiba angkat bicara.


Kenzo yang mendengar pertanyaan itupun mengangkat kepalanya dan balas menatapnya lekat. Pria itu terdiam dengan bibir yang tertutup rapat seakan ia tidak bisa menjawabnya.


"Aku menghilang begitu saja darimu tanpa memberi kabar apapun padamu, apa kau tidak membenciku?" tanyanya lagi kekeh.


Kenzo membuang nafasnya, lalu meletakkan mangkuk berisi makanan tersebut ke atas meja nakas.


"Kecewa. Aku tidak membencimu." kata pria menatap wanita tersebut dengan raut wajah kecewa.


"Maaf." lirih wanita itu sambil meraih tangan kanan Kenzo dan menggenggamnya erat dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf sudah membuatmu menjadi seperti ini." lanjutnya lagi dengan air mata yang perlahan menetes membasahi pipi pucatnya dan genggaman tangannya yang semakin mengerat seakan ia benar-benar menyesali perbuatannya.


Tangan Kenzo yang bebas perlahan mulai terangkat dan jempolnya dengan lembut menyeka air mata di pipi wanita itu.


Suara dering telepon dari ponsel Kenzo menginterupsi kegiatan mereka, membuat Kenzo menoleh ke sumber suara. Pria itu melepas genggaman tangan wanita itu, lalu meraih ponselnya yang bergetar di atas nakas.


Nama Ansell terpampang jelas di atas layar. Ia pun segera mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa?" tanya Kenzo to the point.


"Mansionmu diserang. Mereka berhasil menerobos masuk." ujar Ansell panik dari seberang sana yang berhasil membuat wajah Kenzo menegang.


"Panggil pasukan lainnya ke Mansion dan pastikan mereka tidak menyentuh Crystal! Aku akan segera ke sana." kata pria itu dengan rahang mengeras, lalu mematikan panggilan tersebut dengan sepihak.


Wanita yang berbaring tersebut menatap Kenzo dengan raut bingung sambil mendengar percakapan pria itu dengan jelas. Kenzo menoleh dan meraih jasnya yang tergeletak di sofa.


"Aku pergi." kata Kenzo singkat sambil memasang jasnya dengan cepat.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Wanita itu penasaran.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya." kata Kenzo, lalu keluar dari ruangan tersebut dengan terburu-buru.


Wanita cantik itu melihat ke arah pintu ruangannya yang sudah tertutup rapat setelah punggung pria itu lenyap ditelan pintu.


Beberapa detik kemudian, tangan kirinya meraih sebuah ponsel yang tertempel di bawah ranjangnya, lalu mendial nomor seseorang dengan wajah yang kini terlihat datar dan tajam.


Hanya dalam beberapa detik, panggilannya langsung dijawab oleh seseorang di seberang sana.


"Dia pergi dan memanggil pasukannya, lakukan tugasmu dengan cepat!" kata wanita itu dingin, setelahnya ia mematikan panggilan tersebut dan meletakkan ponselnya ke atas ranjangnya.


Wanita itu merentangkan kedua tangannya ke udara sambil merilekskan tubuhnya yang terasa kaku karena terus berbaring.


"Berapa lama lagi aku harus terbaring di ranjang sialan ini."


***


Rose menarik tangan Crystal menuju ruang baca yang penuh dengan rak buku. Setelah masuk ke dalam ruangan tersebut, mata Rose memencar demi mencari tempat persembunyian yang aman. Rose menatap sebuah lemari di salah satu sudut ruangan, lalu membuka lemari yang tidak terlalu besar itu yang berfungsi untuk menyimpan beberapa peralatan pembersih khusus ruangan tersebut.


"Nona, anda bersembunyilah di dalam sini!" kata Rose sambil mendorong pelan gadis itu masuk ke dalam lemari tersebut.


"Tidak, aku tidak bisa. Ini terlalu gelap dan sempit." kata Crys menggeleng takut menatap lemari tersebut seakan memori kelamnya kembali muncul dan memberontak.


"Cari di ruangan itu!"


Rose menoleh panik setelah mendengar suara samar-samar tersebut dari luar.


"Sudah tidak ada waktu lagi Nona." kata Rose mendorong gadis itu masuk ke dalam lemari tersebut.


"Saya akan mengalihkan perhatian mereka." ujar Rose yang langsung dibalas gelengan cepat oleh gadis itu dengan wajah yang mulai memucat dan tangan gemetar.


Mata gadis itu memerah dan pipinya sudah dibasahi oleh air mata. "Aku takut." katanya sambil menatap Rose dengan sekujur tubuhnya yang gemetar hebat.


Setelah memantapkan hatinya, Rose menutup lemari tersebut, lalu mengunci lemari itu dari luar, mencabut kuncinya dan menggenggamnya dengan sangat erat.


Rose buru-buru keluar dari ruangan itu, lalu berlari kencang sehingga dua orang pria yang berjalan di koridor langsung mengejarnya dengan cepat.


"Tangkap dia!"


***


Pria asing itu terlihat menatap jam di tangannya dengan penuh emosi. "Sial, sudah tidak ada waktu lagi." katanya menyumpah serapah.


"Misi ini gagal. Kita pergi sekarang!" kata pria itu menyerah dan pergi dari sana dengan kelompok temannya yang lain.


Sialnya, saat mobil mereka mulai keluar dari Mansion tersebut, saat itu juga beberapa mobil pasukan yang dikirim oleh Kenzo sampai di sana.


Merekapun panik dan langsung melaju cepat dan kabur, sedangkan beberapa mobil pasukan pria itu mengejar kelompok tersebut dan beberapa lagi masuk ke dalam Mansion untuk menyusuri keadaan di dalam.


Sepuluh menit kemudian, mobil Kenzo masuk ke dalam pekarangan Mansionnya dengan begitu cepat. Bahkan depan mobil pria itu sedikit menabrak pot tanaman yang berada di teras rumahnya ketika mengerem dengan tajam.


Kenzo keluar dari mobilnya dengan wajah penuh amarah.


"Tuan, mereka masih mengejar kelompok tersebut." kata ketua pasukan tersebut sambil menunduk sopan.


Kenzo menghiraukannya dan berjalan melewatinya dengan rahang mengeras.


"Dimana gadis itu?" tanya Kenzo tajam.


"Kami belum menemukannya di Mansion ini Tuan." ujar ketua pasukan itu dengan wajah bersalah.


Kenzo berbalik cepat dan tangannya langsung mencengkeram leher pria itu dengan tatapan tajamnya yang terlihat seperti elang. Rahangnya mengeras sempurna, menandakan pria itu kini berada di puncak emosinya.


"Apa hanya segini kemampuanmu?" kata Kenzo menatapnya dengan tatapan membunuh.


Ketua pasukan itu berusaha bertahan saat Kenzo mencekiknya dengan sangat kuat dan sama sekali tak berbelas kasih. Wajahnya perlahan mulai memerah karena darahnya yang mulai tidak mengalir dengan sempurna dan oksigen yang mulai meninggalkan tubuhnya.


"Ma...afff.. agg.." Kenzo melempar tubuh pria itu dengan kasar, sedangkan pria itu langsung menarik oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya kembali.


"Cari dia sampai dapat atau nyawamu menghilang hari ini juga."


"Baik Tuan."


Pria itu bangkit berdiri dengan susah payah, lalu berjalan menyusuri Mansion itu lagi dengan para bawahannya.


Kenzo berjalan menuju kamar gadis itu, membuka pintunya dengan kencang hanya untuk melihat kekosongan di dalam sana. Ia memeriksa seluruh ruangan dengan seksama, namun tetap tidak menemui gadis itu di manapun.


Sampai akhirnya kakinya berhenti melangkah ketika ia mendapati tubuh Rose terbaring tak berdaya di koridor dengan darah yang mengalir di atas lantai.


Kenzo berjalan mendekat, sedangkan Rose menatap tuannya itu dengan sisa-sisa tenaganya. Tangan Kenzo terkepal erat setelah melihat wanita yang dekat dengan gadis itu tengah sekarat. melihat hal itu, dada Kenzo semakin bergetar cemas.


"Tu.. tuan." desis wanita paruh baya tersebut susah payah sampai akhirnya ia memuntahkan darah dari mulutnya.


Wanita itu berusaha menggerakkan tangannya yang penuh dengan darah, lalu membuka telapak tangan kanannya yang tertutup dengan sangat rapat.


"Bu.. ku.." kata Rose susah payah dan terbata-bata. Sampai akhirnya tubuh wanita paruh baya itu benar-benar kehilangan tenaga dan jiwanya setelah mengucapkan kata itu.


Kenzo meraih kunci yang berada digenggaman wanita itu, lalu berjalan menuju sebuah ruangan yang terlintas di kepalanya setelah mendengar kata terakhir wanita tersebut.


Ia membuka pintu tersebut, berjalan ke dalamnya dan berdiri di depan sebuah lemari. Tangannya terulur untuk memasukkan kunci tersebut, membuka kuncinya, lalu menarik pintu lemari itu dengan pelan.


Saat itu juga, matanya menatap sosok Crystal yang bersandar lemah di dalam lemari dengan mata yang tertutup rapat dan wajah yang begitu pucat serta keringat yang membasahi tubuhnya.


Saat itu juga tanpa sadar Kenzo membuang nafasnya dengan bahu yang melemah, seperti merasakan sebuah kelegaan di hatinya setelah melihat gadis itu baik-baik saja.


Bersambung.....


Kalian team KenzoLevin atau Damian?


Next Up : besok


Jangan lupa like, vote, comment dan share ya.


Bye😘