Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 39



"Siapa Damian?"


Mata Crystal menatap sorot dingin pria di depannya dengan sorot heran. Mata gadis itu seakan menusuk lebih dalam pada mata dingin pria di hadapannya. Kening Crystal mengerut, namun setelahnya mata gadis itu membola dengan lebar dan mulutnya ikut menganga kaget.


"Kenzo?"


Crystal menatap pria di depannya tersebut dengan tampang yang benar-benar terkejut. Ia bahkan sampai menjatuhkan sendok yang sedang ia pegang.


Pria tersebut tak membuka mulutnya dan hanya terdiam melihat reaksi terkejut Crystal.


"Kau kembali, bagaimana bisa?" tanya Crystal takjub sambil menatap tajam pria tersebut dan memasang wajah penasarannya.


Kenzo terlihat mengalihkan matanya dan memakan sarapannya kembali dengan wajah datar. Ekspresi pria itu menandakan bahwa ia tak ingin membicarakan hal tersebut pada Crystal.


Melihat pergerakan tubuh Kenzo yang tak bersahabat, Crystal langsung mendengus karena pertanyaannya tidak direspon sama sekali oleh pria itu. Baru kemarin pria itu banyak bicara, sekarang sudah kembali diam seperti orang bisu. Berhadapan dengan orang yang memiliki alter ego membuat Crystal menyadari betapa sulitnya menghadapi orang tersebut.


"Damian adalah pengawal pribadiku yang ditunjuk oleh Levin setelah kejadian di hotel waktu itu." ujar Crystal, lalu ikut memakan sarapannya kembali dengan santai.


"Aku tidak akan memberitahu siapapun." ujar Crsytal sambil melirik ke arah Kenzo yang masih diam.


Pria itu mengangkat kepalanya saat mendengar hal tersebut, lalu menatap Crystal dengan lekat. Crsytal yang ditatap seperti itu malah menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maksudku, aku tidak akan memberitahu siapapun tentang kepribadian gandamu." ujar Crystal mengoreksi ucapannya yang sebelumnya.


Crystal terdiam dengan pikiran yang dipenuhi oleh kerumitan. Kenzo tidak mengingat apapun saat tubuhnya diambil alih oleh Levin, tetapi Levin mengetahui apa yang Kenzo lakukan dengan tubuhnya sendiri. Kalau begitu, sepertinya Levin lebih kuat daripada Kenzo, tetapi alasan apa yang membuat Kenzo bisa terbangun?


Pertanyaan itu memenuhi kepala Crystal, hingga membuatnya pusing tujuh keliling. Akhirnya ia menggeleng kecil dan mencoba untuk tidak memikirkan hal tersebut lebih dalam lagi.


Sarapan dengan suasana dingin tersebut akhirnya selesai. Entah kenapa sarapan tersebut berlangsung sangat lama jika suasananya hening seperti itu. Tak ada percakapan apapun di antara kedua manusia berlawanan jenis tersebut dan hanya ada bunyi dentingan piring dan sendok yang berbenturan.


Setelah sarapan, Crystal langsung pergi ke kamarnya dan bersiap untuk ikut ke kantor dengan Kenzo. Tak butuh waktu lama untuk gadis itu bersiap. Crystal yang sudah selesai dengan dress simplenya pun keluar dari kamar sambil melingkarkan tas selempang di pundaknya.


Saat pintu kamarnya terbuka, Crystal terkejut melihat keberadaan Damian di depan pintu kamarnya. Gadis itu mengelus jantungnya yang hampir copot, lalu menatap Damian dengan wajah bertanya.


"Sejak kemarin aku tidak melihatmu." ujar Crystal sambil melanjutkan langkahnya. Damian berjalan di belakang gadis itu dengan wajah datarnya.


"Kau kemana?" tanya Crystal.


"Saya menjalankan perintah Tuan Duanovic." jawab Damian singkat, padat dan jelas.


Crystal pun manggut-manggut mengerti. Ia berjalan menuruni satu persatu anak tangga dan melangkah ke arah pintu keluar-masuk.


Crystal keluar dari pintu besar Mansion tersebut dan masuk ke dalam sebuah mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh pengawal disana. Crystal menatap Kenzo yang diam tak membuka suara di sampingnya.


"Kau sudah bertemu dengan Damian?" tanya Crystal buka suara.


"Tidak." jawabnya singkat.


Crystal memasang wajah heran dan bingung, lalu melirik ke arah luar kaca mobil dimana ia mendapati Damian tengah berjalan menuju mobil di belakang mereka. "Apa kau ingat kalau kemarin kita hampir dibunuh?" tanya Crystal tiba-tiba menoleh kembali ke arah Kenzo.


Kenzo menoleh ke arah Crystal dengan raut wajah datar, namun Crystal bisa mengetahui bahwa pria itu tidak mengetahui hal tersebut. "Tenang saja, kurasa Levin sudah mengurusnya." tambah gadis itu lagi. 


"Ketika Levin mengambil alih tubuhmu, kau tidak bisa mengingat apapun yang dia lakukan dengan tubuhmu. Ketika kau kembali, apa Levin tertidur juga dan tidak menyadari apapun?" tanya Crystal penasaran.


"Jangan bertanya tentangnya! Kau hanya akan membuatnya semakin lebih kuat." ujar Kenzo dingin dengan nada tak senang.


Mendengar ucapan ketus pria itu membuat Crystal langsung terdiam dan memutuskan untuk tidak bertanya lebih banyak lagi tentang dirinya dan alter egonya.


***


Crystal duduk di atas sofa ruangan Kenzo dengan pria itu yang sibuk di depan laptopnya. Sesampainya di kantor, mereka berdua tidak membuka mulut masing-masing dan hanya sibuk dengan urusan masing-masing.


Dilain sisi, Crystal juga masih kesal karena Kenzo sangat menyebalkan setelah ia bangun dari tidur panjangnya.


Pintu ruangan tersebut tiba-tiba terbuka dan menunjukkan sosok Karina yang masuk dengan penampilan cantiknya yang tak pernah mengecewakan mata.


Karina melempar senyum dan lambaian singkat pada Crystal ketika melihatnya. Crystal ikut tersenyum manis sambil melambaikan tangannya.


"Mr. Duanovic, pukul 10 nanti anda ada jadwal meeting." ujar Karina membacakan jadwal pria itu.


Kenzo terlihat melirik jam di pergelangan tangannya dengan pandangan tajam. "Siapkan ruangan meeting dan berkasnya!" ujar Kenzo setelah itu.


Crystal terlihat menggigit bibirnya ragu sambil menatap ke arah Kenzo dengan raut khawatir. Karina sudah keluar dari ruangan tersebut dan hanya menyisakan Crystal dengan pria dingin itu yang masih saja fokus dengan pekerjaannya.


Crystal perlahan bangkit berdiri setelah memantapkan hatinya. "Aku keluar menemui Karina." ujar Crystal singkat padat dan jelas dengan nada sedikit ketus, lalu pergi dari sana dengan langkah cepat dan terburu-buru.


Crystal membuka pintu ruangan besar tersebut dengan wajah tak acuh, kemudian menutup pintu tersebut, lalu memegang dadanya yang berdebar sangat kencang karena takut. Ia menyandarkan tubuhnya di depan pintu yang sudah tertutup sambil menarik nafas dan menenangkan dirinya.


Ia pikir pria itu akan meneriakinya dan melarangnya keluar, namun ternyata pria itu sama sekali tidak peduli dan masih melanjutkan pekerjaannya.


"Letta." panggil Karina yang tiba-tiba muncul dan menepuk pundaknya.


Crystal menoleh ke arah Karina sambil tersenyum tipis. Gadis itu menatap pada sosok Damian yang senantiasa berdiri di depan pintu ruangan Kenzo.


"Aku akan menyiapkan ruangan dan berkas untuk rapat nanti, ayo temani aku!" Karina tiba-tiba menarik pergelangan tangan Crystal dengan wajah bersemangat.


"Shh." Crystal meringis kecil karena tarikan Karina yang begitu tiba-tiba.


Mendengar ringisan Crystal, Damian dengan spontan menarik tangan Karina dari pergelangan tangan Crys, lalu menghempaskan tangan gadis itu dengan kasar.


Kini giliran Karina yang meringis kesakitan karena perbuatan Damian padanya. "Aws."


"Damian kenapa kau melakukannya?" tanya Crystal sambil mendekati Karina dengan wajah khawatir.


"Saya hanya menjalankan kewajiban saya untuk melindungi anda dan memastikan anda tidak terluka Nona." jawab Damian layaknya robot yang patuh terhadap apapun yang diperintahkan padanya.


"Tetapi Karina tidak bermaksud menyakitiku." ujar Crystal merasa bersalah, namun ekspresi Damian sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah atas perbuatannya. Wajah pria itu masih saja datar tak berekspresi.


"It's okay Letta, I'm okay." ujar Karina menengahi.


Crystal pun menarik nafas pasrah, lalu melangkah beriringan dengan gadis itu menuju ruangan rapat dan tak menghiraukan Damian yang memasang wajah datar tak tersentuh.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Karina sambil jalan beriringan dengan Crystal disebelahnya.


"Baik." jawab Crytal dengan kening mengerut.


"Baguslah. Aku mengkhawatirkanmu setelah kejadian di hotel waktu itu." ujar Karina.


Crystal membuang nafas pelan. "Aku sudah melupakannya." ujarnya dengan nada biasa saja seakan ia benar-benar telah melupakan hal itu.


"Aku yakin Mr. Duanovic sudah memberikan pelajaran pada pria itu." ujar Karina dengan senyum bangga.


Crystal menoleh cepat ke arah Karina setelah gadis itu mengatakan hal tersebut. Crystal menatap Karina dengan wajah kaget. Bagaimana gadis itu bisa mengetahui bahwa Kenzo melakukan hal tersebut? Pertanyaan itu terlontar di kepalanya.


Karina terkekeh melihat wajah kaget yang diberikan Crystal. "Pria itu adalah Tuan James, salah satu kolega Mr. Duanovic. Setelah hari itu, Perusahaannya mengalami kebangkrutan dan Tuan James tidak pernah terlihat lagi." ujar Karina panjang lebar.


Crystal terlihat sedikit menganga sambil mendengar ucapan Karina. Ia baru mendengar dan mengetahui hal tersebut hari ini.


"Aku tidak tau apa hubunganmu dengan Mr. Duanovic sehingga ia terlihat sangat melindungimu." ujar Karina menatap Crystal lekat.


Crystal yang mendengar hal itu langsung memutar bola matanya malas. "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria dingin itu." ujar Crystal membantah dengan raut wajah kesal dan nada ketus karena mengingat betapa menyebalkan pria itu hari ini.


Karina tertawa mendengar ucapan gadis di sebelahnya itu. "Aku sudah melihat banyak wanita yang berada di sisi Mr. Duanovic selama ini. Kini aku tau apa yang membedakanmu dengan wanita-wanita yang berada di dekatnya." ujar Karina dengan senyum tipis yang manis sambil menatap dalam pada mata Crystal.


Crystal mengedipkan matanya berulang kali ketika mendengar kata-kata dengan makna tersembunyi tersebut. Karina menatap ekspresi Crystal yang bertanya-tanya dengan wajah polos.


Karina tersenyum, lalu merangkul lengan Crystal dengan wajah berseri.


"Aku sudah putuskan untuk mengalah dan memberikan dia padamu. Kau seharusnya beruntung aku memilih mengalah padamu karena aku adalah saingan yang cukup berat jika melanjutkan ini semua." ujar Karina yang berhasil membuat wajah Crystal berkerut bingung.


Gadis itu bahkan tak mengerti apa maksud perkataan Karina padanya dan hanya terdiam dan mengikuti langkah Karina yang membawanya entah kemana.


Bersambung....


Nggak bisa bilang apa-apa lagi kecuali kata 'maaf' untuk kalian semua yang masih menunggu dan terimakasih.


Next up : Minggu 8/8