
Duanovic's Mansion | 02.47 PM
Crystal menatap sosok Damian yang baru saja keluar dari ruangan kerja Levin sambil berdiri menjulang di tengah koridor. Crystal ingin sekali berbicara dengan pria itu lagi, namun terlihat jelas bahwa Damian menghindarinya.
Pria itu bertingkah seperti tidak pernah mengenalnya. Crystal hanya bisa berdiri kaku ketika Damian melewatinya dengan begitu dingin.
Crystal menoleh ke belakang dengan raut kecewa demi melihat punggung Damian yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Aku tau kau bukan lagi pengawalku, tetapi kenapa harus menjauhiku seperti ini?" batin Crys dengan bahu melemah.
Crystal membuang nafas pasrah, lalu membalikkan kembali tubuhnya dan terkejut bukan main ketika Levin sudah berdiri di depannya dengan jarak yang begitu dekat dengannya.
"Kenapa kau tiba-tiba muncul seperti hantu?" tanya Crys kesal sambil mengelus bagian jantungnya yang hampir melompat.
Levin diam dan menatap lekat wajah Crystal dengan pandangan tajam. "Kau sampai tidak sadar kedatanganku karena sibuk memperhatikannya." kata Levin dingin.
Crystal meneguk ludahnya kasar. "Aku tidak memperhatikan Damian." katanya mengelak.
"Kau mau membodohiku, hmm?" tantang Levin, lalu mengangkat tangannya demi mencubit pipi Crystal yang terlihat sedikit berisi.
"A...aaa..aww." ringis Crys sambil memukul lengan Levin dengan wajah cemberut.
Levin tersenyum tipis, lalu melepaskan cubitannya. Crystal mengelus pipinya yang terasa nyeri sambil menatap Levin tajam.
"Kau juga sengajakan memanggilku kesini supaya aku berpapasan dengan Damian?" cibir Crystal kesal dengan mata memicing tajam.
Levin mengangkat tangannya, lalu mengusap pipi merah gadis itu dengan lembut. "Kau mulai pintar." pujinya dengan senyum puas.
Crystal mendengus melihat ekspresi puas Levin setelah itu ia mendorong tangan Levin dari pipinya.
"Tanganmu bau rokok." kata Crystal menyadari bau yang tak ia suka dari tangan Levin.
Crystal berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Levin, disusul oleh pria itu di belakangnya.
"Sepertinya kau suka merokok belakangan ini." ujar Crys ikut mencium aroma asap rokok di ruangan pria itu.
Crystal berjalan ke arah jendela, lalu membuka jendela yang tertutup rapat tersebut.
"Jangan buka!" kata Levin tak suka, namun Crys tak mengindahkan perkataan pria itu.
"Ketika merokok, kau harus membuka jendelanya agar udara bersih masuk mengganti udara kotor di dalam sini."
"Aku tidak suka ruangan terang." kata Levin tidak suka melihat ruangannya yang kini terang benderang karena cahaya matahari yang masuk.
"Kalau begitu berhentilah merokok di dalam ruangan tertutup!" ketus Crystal tajam.
Ia berjalan ke arah meja Levin dengan tampang menyelidik. Ia melihat ke arah asbak pembuangan puntung rokok yang berada di atas meja pria itu. Crystal menggeleng sambil mendecak takjub, lalu kembali menoleh pada Levin.
"Berhenti merusak tubuhmu sendiri!" cerca Crystal dengan nada tak suka.
Levin menatap dalam mata Crys yang mengomelinya, lalu melangkah mendekati gadis itu hingga jarak mereka sangat dekat. Crystal yang langsung mendapatkan sinyal buruk, buru-buru mengambil langkah mundur, lalu berjalan ke balik meja sehingga kini jarak mereka dipisahkan oleh meja kerja Levin.
Levin mengangkat sebelah alisnya ketika mendapati respon lucu Crystal yang menjauhinya.
"And stop being pervert!" tambahnya lagi dengan wajah kesal.
Levin tertawa kecil, lalu berjalan ke arah Crys yang berada di depan kursi kerjanya. Crystal berjalan memutari meja demi menjauhi Levin dan kini posisi mereka malah bertukar tempat.
Crystal yang waspada, langsung kembali santai ketika Levin duduk di kursi kerjanya. Crystal berdiri dengan tubuh tegap di depan meja Levin, sedangkan Levin mengambil sebuah berkas di dalam lacinya, lalu menyerahkannya di depan Crys.
Kening Crys mengernyit. "Ini apa?" tanya Crys heran ketika Levin menyerahkan berkas itu padanya. Levin tidak menjawab, dia hanya memberi kode dengan menunjuk berkas tersebut menggunakan matanya.
"Aku tidak paham." Crystal menatap dokumen itu dengan frustrasi.
"Dokumen itu adalah penyebab kematian orang tuamu."
Crystal terkejut bukan main. Bagaimana bisa dokumen-dokumen ini menjadi penyebab kematian orang tuanya.
"Itu adalah penelitian Ayahmu tentang pembuatan sebuah chip yang dia ciptakan. Penelitiannya banyak dipuji oleh para investor, namun tidak banyak yang berani menginvestasikan uang mereka karena chip itu dinilai sangat berbahaya, beberapa bahkan banyak yang menentang."
Crystal bisa melihat sebuah gambar seperti chip di dokumen-dokumen tersebut.
"Sampai akhirnya Kenzo dan Desmond memutuskan untuk berinvestasi dalam proyek itu 12 tahun yang lalu."
"Desmond? Orang yang menculik kakakku?" tanya Crystal mengangkat kepalanya dengan wajah terkejut.
"Iya. Kau sudah berjumpa dengannya di kantor. Hari dimana Kenzo terlihat sangat marah ketika kau berjumpa dengan seorang pria di ruang rapat."
Crystal memutar ingatannya. Dia hanya berjumpa dengan satu orang pria saat itu. Ah, dia ingat - Mr. Killian. Crystal semakin terkejut dengan mulut terbuka, ternyata orang tersebut sudah sedekat itu dengannya.
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Ditengah proses penelitian, satu setengah tahun setelahnya, Ayahmu tiba-tiba memutuskan kontrak. Dia tidak ingin melanjutkan proyek itu karena menyadari betapa berbahayanya chip itu."
Crystal perlahan demi perlahan mulai mengerti alur cerita hidupnya yang selama ini menjadi misteri. Misteri itu pelan-pelan mulai terbuka dan menguak segala rahasia yang sudah disembunyikan sangat dalam.
"Namun, dua bulan kemudian Ayahmu mendatangi Kenzo dan membatalkan perkataannya bahwa ia akan melanjutkan kembali pembuatan chip tersebut."
Crystal semakin penasaran dengan masa lalu apa yang sudah terjadi sebenarnya. Ia benar-benar ingin mengetahui akar dari segala kejadian yang menimpa keluarganya.
"Aneh, Papaku tidak mungkin membahayakan nyawa orang lain." kata Crystal membantah perkataan Levin.
"Ayahmu benar-benar melanjutkan proyek itu kembali."
"Lalu, ada dengan chipnya? Kalau memang berbahaya, kenapa tidak ada yang berubah sampai sekarang?" cerca Crys.
"Ayahmu melanjutkannya, tetapi tidak pernah menyelesaikannya."
Wajah Crys semakin mengerut bingung. Ia tidak bisa berfikir kemana arah cerita ini akan berakhir.
"Kenzo menyadari ada sebuah rencana di belakangnya yang dilakukan oleh ayahmu. Dia dan Desmond menyelidiki ayahmu dan akhirnya mengetahui bahwa ayahmu berencana untuk mengkhianati mereka dan menjual chip tersebut pada pesaing lain setelah chip selesai. Mereka benar-benar marah saat itu, Desmondpun akhirnya menyusun rencana untuk membunuh Ayahmu dan seluruh keluarganya."
Crystal menutup mulutnya dengan telapak tangannya sambil menunduk menatap lantai. Dia tidak bisa mempercayai bahwa ayahnya melakukan perbuatan seperti itu. Crystal kenal betul bahwa ayahnya benar-benar serius dan setia dengan pekerjaannya.
Levin melihat jelas ekspresi Crystal yang terlihat sangat shock setelah mencerna seluruh cerita penyebab kematian kedua orang tuanya sepuluh tahun yang lalu.
Dia tidak bisa berkata apa-apa, otaknya hanya bisa berputar dan meyakini bahwa semua itu tidaklah benar. Ayahnya bukanlah orang yang seperti itu.
"Aku memberitahukan semua kejadian itu dari sudut pandang Kenzo. Berbeda halnya jika aku melihatnya dari sudut pandang ayahmu. Yang Kenzo lihat dan yakini selama ini mungkin saja tidak benar." tambah Levin yang berhasil membuat kepala Crystal mendongak menatap Levin dengan mata berbinar penuh harap.
Levin bangkit berdiri dari kursinya, lalu melangkah mendekati Crystal dengan wajah serius. Crystal mengikuti pergerakan pria itu, sampai akhirnya Levin berdiri dihadapannya dengan tubuh menjulang.
Levin menatap Crystal dengan dalam dan tatapan datar tak tersentuh. Ekspresi pria itu tiba-tiba berubah dan auranya disekitarnya ikut terasa mencekam dan dingin. Levin terlihat menyeramkan dengan ekspresi tersebut. Crystal bahkan sampai membatin, apa ini sosok Levin yang sesungguhnya?
"Bagi orang seperti aku dan Kenzo, kami sangat membenci pengkhianatan. Jika Ayahmu memang benar-benar berkhianat, maka dia pantas mendapatkannya."
Crystal terlihat menatap Levin dengan sama lekatnya, namun dengan pandangan terluka. Gadis itu tentu saja sedih mendengar ucapan Levin, namun dia tidak bisa membantahnya karena Levin dan Kenzo memang orang yang tidak pernah memakai perasaan mereka. Sekarang yang bisa Crystal lakukan hanya meyakinkan bahwa ayahnya bukanlah pengkhianat.
"Papaku bukan orang yang seperti itu." kata Crystal tegas dengan penuh keyakinan, lalu pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Levin yang masih terdiam di tempatnya.
Bersambung....