
Hari pertama persidangan untuk kasus korupsi dan penggelapan pajak Xavier Corps telah di gelar
Aiden, Andrew dan Andreas hanya bisa menonton dari layar TV karena usia mereka belum di perkenankan untuk menghadiri langsung persidangan tersebut , meskipun sidang di lakukan secara tertutup namun mereka memiliki akses karena di rekam langsung oleh pihak perusahaan.
"Wow kak Joe keren, aku juga mau jadi pengacara seperti dia" celetuk Andreas di selah - selah nontonnya
"Kak Joe emang keren, sejak pertama ketemu aku langsung tertarik kerja sama, dia cerdas dan pokoknya dia kakak terbaik buat aku, aku bisa merasakan kasih sayang seorang kakak, setelah kak Abigail pergi aku sempat kehilangan sosok kakak" timpal Aiden
"Kakak beruntung, mengenal kak Joe begitu dekat, tapi kami lebih beruntung karena memiliki Kakak seperti kak Aiden" tutur Andrew tulus
"Ya, kak Aiden bersyukur memiliki adik seperti kalian, kalian adik yang luar biasa, aku bersyukur Daddy meninggalkan hadiah begitu istimewa bagiku meskipun agak terlambat bertemu kalian" lirik Aiden
"Oh ya gimana peluncurannya produknya kak?" Andreas menganti topik
"Puji Tuhan semuanya sukses, dan bahkan ada beberapa sekolah meminta untuk di stok, tapi kak Aiden belum mengiyakan sebelum diskusi dengan kalian"
"Jangan terima dulu kak, biarkan universitas milik uncle Hendry yang nikmati sebagai bonus buat kak Joe yang sudah menolong menangani kasus ini" tutur Andrew
"Aku setuju dengan kak Andre, biar itu jadi bonus kak Joe, supaya pendaftaran di universitas tersebut semakin banyak, jadi kangen ketemu triplets dan kak Al" timpal Andreas
"Gimana kak Aiden kalau kita ajak triplets dan kak Al liburan ke desa O weekend ini?" usul Andrew
"Oke, nanti kak Aiden konfirmasi ke mereka, ya emang sudah lama tidak main bareng mereka, kak Aiden juga kangen"
"kalau kami sering ketemu triplets tapi di sekolah doang , nggak seru karena pastinya terbatas waktu " tutur Andreas
"Oke baiklah istirahat dulu... tapi jangan lupa pantauannya ya, sekalipun kasus ini mengarah kuat ke uncle Awang tapi tidak menutup kemungkinan ada pihak lain yang terlibat" tutur Aiden
"Ya pastinya tidak mungkin uncle Awang bisa bekerja sendiri aku curiga uncle Awang hanya ekor, memotong ekor hanya masalah kecil buat mereka" timpal Andrew
"Justru itu kita harus cari tahu, siapa - siapa saja yang dekat dengan uncle Awang, makanya lebih baik kami tidak usah menunjukkan identitas asli kami ke orang - orang di Xavier Corps" timpal Andreas
"Ya kita harus membantu kak Joe dalam kasus ini, meskipun aku tahu kemampuan kak Joe dalam penanganan kasus tidak perlu di ragukan lagi"
"Ya sempat tercengang juga, dengan fakta persidangan tadi kak Joe bisa mendapatkan informasi seakurat itu bahkan dengan bukti yang tak terbantahkan " timpal Andreas
"Eee... tunggu Dreas kak Aiden" teriak Andrew yang sontak membuat Aiden dan Andreas menatap ke arah yang di tunjuk Andrew
"ini signal dari desa O, ada yang mencoba melacaknya" tutur Andreas
"Aku akan menghubungimu om Anton dan Tante Lusi, untuk berjaga - jaga, kalau perlu mereka harus ke kota dulu, jangan sampai kasus seperti kakek dan nenek" kilah Andrew dan segera menelpon
sementara Aiden langsung masuk dalam sistem dan merekayasa Signal pelacak tersebut dan juga mencari tahu sumber pelacak itu
"Bukan kah ini dari Xavier Corps?" tanya Aiden heran
"Ia kak ini jelas - jelas dari Xavier Corps, kok bisa?, atau jangan - jangan anak buah uncle Awang yang beraksi?" timpal Andrew
"Bisa jadi kak, atau uncle Awang masih pengang Hp di penjara?" lirih Andreas
"Bisa jadi uncle punya perlakuan khusus disana atau ada orang lain yang menggunakan kesempatan ini" tutur Andrew lagi
"Istirahatlah terlebih dahulu nanti kita lanjut, kita butuh tenaga dan otak yang fresh untuk kasus ini" tegas Aiden
akhirnya ketiganya melangkah keluar dari ruang kerja