THE SIBLINGS

THE SIBLINGS
The Siblings 42



Keceriaan mereka berdua membuat semua orang gemas dan ingin memeluk dan mencium mereka apalagi si bungsu yang paling mungil.


"Oh, ia satu hal lagi tolong jangan sungkan sama mereka bahkan jika mereka minta main atau makan bareng mereka, mereka anak baik dan gampang di atur jadi tidak usah jaga jarak, anggap sebagai anak kalian, jika salah tegur tapi jangan di depan umum dan jangan ada kekerasan verbal apalagi fisik . Jika terjadi seperti itu aku tidak segan-segan memecat kalian" tutur Aiden


"Baik nak kami mengerti"


"Terima kasih Om dan Tante sudah menerima dan menyambut kami" tutur Andrew


"Jadi seru di sini banyak orang, tapi kak Aiden kok nggak ada anak - anak?" celetuk polos Andreas


"Anak - anak kan belum bisa kerja, na bapak dan ibu yang ada di sini itu kerja, jaga rumah" Jelas Aiden


"Tapi nggak usah loh kak, kalau kami disini bisa kok jaga dan ngbersihin rumah ini, kami punya alat pembersih rumah kak, sama pembersih rumput jadi tidak akan capek, ia kan kak Andre?"


"Na betul juga kak aku setuju sama Dreas, nggak usah ngerepotin mereka semua " Andrew ikut ngomong


"Kalian kan sekolah mana bisa membersihkan rumah, nanti belajar nggak maksimal" jawab Aiden tidak mau mengecewakan sang adik


"Pulang sekolah kan bisa kak, kami sudah terbiasa kak lagian kami tinggal memanfaatkan alat - alat yang kami punya " timpal Andrew


Aiden dan semua orang mendengar terkekeh dengan kepolosan mereka.


"Hai ini bedah di rumah kalian, di sini luas sekali, lagian anak-anak memang harus fokus sekolah dulu, kan kasian bapak dan ibunya kalau misalnya tidak kerja di sini, keluarga mereka makan apa" tutur Aiden


"Oh gitu kak, baiklah kami tidak akan menggangu pekerjaan mereka, Om, tante maaf ya" tutur Andreas


Hanya di tanggapi anggukkan dan senyum manis dari para pekerja.


"Andrew dan Andreas jangan panggil om dan Tante tapi manggilnya bapak dan ibu, oke.. paham" tegas Aiden


"Baik kak" jawab mereka kompak


Setelah drama perkenalkan siang itu, Aiden membawa mereka menikmati makanan siang di restoran termahal.


"Kakak sengaja biar sesekali makan di luar rumah" jawab Aiden


"Terima kasih Kak yang baik, aku senang punya 2 kakak yang keren, cakep plus baik" tutur Andreas


"Yayaya kalau soal mulut manis aku nggak heran" potong Andrew terkekeh


Aiden pun ikut tersenyum. Menyaksikan debat ringan sang adik membuat dirinya semakin hangat "Hum.. gini rasanya punya adik kandung, pantas mama pengen aku punya adik lagi" batinnya


Setelah mereka makan Aiden membawa mereka ke sebuah pekuburan elite dikota ini.


"Kuburan kak?" tanya Andreas


" ini pasti kuburan papa kan kak?" sahut Andrew


"Ya, kita kunjungi kuburan papa, itu bunga di belakang silahkan ambil!"


"Wao, tempatnya bagus banget kak" celetuk Andreas ketika berjalan melintasi pekuburan yang ada


"Ya, kalau kamu mau bisa daftar sekarang" goda Andrew


"Kak Andre aja, duluan aku ma belum, kan harusnya kakak duluan" jawab Andreas tak mau kalah


hal ini jadi perhatian penjaga kuburan dan membuat mereka tertawa.


Aiden sudah meminta sang adik agar tidak perlu mengatakan sesuatu jika sampai ke kuburan sang papa cukup meletakkan bunga.


Sang adik yang super kritis itu pada awalnya tidak terima tapi Aiden menjelaskan bahwa papanya sudah di sorga jadi yang mereka kunjungi tinggal badannya dan tidak bisa dengar apa - apa lagi.


Jadi sia - sia kalau ngobrol, to tidak akan didengar pula karena setelah orang meninggal dunia tidak ada lagi hubungannya dengan orang hidup. Mereka berkunjung sebagai penghormatan saja pada orang yang dikasihi, menandakan bahwa mereka pernah ada di dunia.


"Kalian nggak usah sedih belum bisa ketemu papa langsung, karena di sorga kita akan reuni nanti" hibur Aiden