
"Kak perbesar suaranya!" pinta Andreas
"Bocil sabar..."
"Tunggu, jawab dulu pertanyaan kakak, kalian kenal dimana?" cecar Aiden
"Untuk itu tahan dulu ini dalam keadaan darurat harus di tangani terlebih dahulu" potong Andrew
"Humm... dasar bocah, apa coba susahnya tinggal jawab doang" keluhnya Aiden
"Pertanyaan kak Aiden itu butuh penjelasan detail makanya kita bereskan kasus ini dulu" Jelas Andrew
"Baiklah"
"Sepertinya itu handphone" tebak Andreas
"Kak Aiden, bukannya itu logo perusahaan yang dulu?" tanya Andrew
"Tunggu berarti kasus ini bukan yang sekarang" simpul Aiden
"Dengar baik - baik percakapan mereka!" tutur Andrew
Mereka menyimak percakapan pada video tersebut.
"...."
Setelah menonton rekaman CCTV tersebut Aiden merasa kecewa dengan kepercayaannya yang tega berkhianat.
"Tapi kak gimana caranya mengungkapkan hal ini kalau misalnya kita melaporkan manager keuangan , berarti dalangnya kita tidak tahu?" tanya Andreas
"Kita ikuti beberapa hari dulu kumpulkan beberapa bukti agar manager keuangan tidak bisa mengelak dengan demikian pasti langsung di tahan, berarti akan kesulitan berkomunikasi, takutnya jika kita lapor sekarang mereka akan menyusun strategi lain " Jelas Aiden
"Baik kak, Andre setuju dengan kak Aiden"
"Andreas juga setuju dengan kak"
"Baiklah untuk hari ini karena udah sore jadi kita pulang, tapi kalian masih utang penjelasan ke kak Aiden" ujar Aiden
"Baik.... Dan, siap laksanakan" jawab Andreas bercanda
Aiden dan Andrew tentu tertawa menyaksikan aksi konyol si bungsu.
Mereka bertiga berjalan beriringan dan dengan rama menjawab setiap sapaan karyawan yang bersiap _ siap pulang juga.
"Kak Aiden...seru ya di perusahaan" ujar Andreas
"Aku nggak suka di perusahaan, seperti kerjaan kak Aiden, aku maunya di laboratorium, tidak ada yang menganggu" tutur Andrew
"Ah... kak, tiba - tiba kangen pulang ke desa" ujar Andreas
"Aku juga ... pengen main di rumah gunung, rumah pohon dan ruang rahasia" lanjut Andrew
"Kak Andrew kita sudah melanggar janji pada kakek dan nenek, kita tidak boleh meninggalkan rumah itu" timpal Andreas
Aiden terus fokus mengendarai mobilnya dan menatap jalan raya yang mereka lalui pulang tapi menyimak baik percakapan sang adik.
"Janji itu kan sebelum tahu keberadaan keluarga kita, adik lupa pesan yang kita dapat di kamar rahasia kak Aiden?"
"Hehehe kok penyakit kakak menular ke aku ya?" kekehnya
"Emang pesannya gimana?" kini Aiden yang bertanya
"Bisa ikut kakak dan mommy tapi harus mengontrol rumah tersebut" jelas Andrew
"Oke baiklah, akhir pekan kita bisa kunjungan kesana, sekalian atur strategi penyelidikan disana lebih terjamin keamanannya dari pada di sini" putus Aiden
"Hore, bisa bebas berkreasi, ribet disini pasti diawasi setiap pergerakan, apalagi itu bodyguard kakak" ceplos Andreas
"Maksud gimana?" tanya Aiden
"Maksud Andreas tidak bebas ngapa - ngapain soal selalu dipantau bodyguard" Andrew meluruskan agar Aiden tidak curiga
Andreas hanya menggaruk kepalanya karena hampir - hampir ke oplosan
"Kak Andre memang hebat, tau aja maksud aku" cengirnya menutupi kesalahannya
"Andrew gitu" sambil mengedipkan mata
"Pantas adiknya narsis ternyata kakaknya yang ngajarin" tuding Aiden
hehehe keduanya hanya terkekeh
Setelah sampai ke Mension ketiga turun dan disambut ramah oleh bodyguard dan para maid.
Andreas sengaja menyenggol lengan Andrew agar menatap ke arah yang dilihatnya. Andrew segera berpaling ke arah yang dimaksud kemudian sengaja menarik Andreas masuk ke dalam agar arah pandangan mereka Aiden tidak liat.
"Kak Aiden pamit ya ke kamar" teriak mereka kompak
"Ah dasar bocah itu" keluh Aiden