
"Kakak ini drone pemantau bagus kan bahkan persis seperti lebah asli dan ternyata bisa mengikuti kita" jelas Andreas pada sang kakak
"Yap...aku tahu bahkan dari tadi lebah itu mengikuti dirimu dan menganalisis semua tentang mu seperti itu khusus untuk kamu liat monitor itu!" tutur Andrew
"Wow... amazing kak tapi kenapa kak Andre diam saja, terus kalau aku punya pasti kak Andre juga punya" cecar Andreas penasaran
"katanya jenius, masa ia serangga duplikat aja nggak bisa dibedakan" ledek Andrew
"Nggak konsen namanya" tutur Andreas membenarkan diri
"Yayaya... yang waras ma mengalah" ujar Andrew terkekeh
Andreas hanya cemberut dan tak lama kemudian dia tersenyum sumringah melihat analisis drone yang mengikuti tentang dirinya. ternyata drone tersebut bukan hanya memantau kegiatan yang Andreas lakukan tapi juga menganalisis ciri - ciri fisik dan karakter yang dimilikinya.
"punya kak Andre mana, masa dari tadi hanya profil aku yang diliatin" protes Andreas
"itu rahasia, salah sendiri nggak sadar kalau ada alat pemantau" tutur Andrew santai
"kakak curang, Ini nggak adil tapi jangan panggil aku Andreas kalau tidak dapat alat pantau kak Andre" ujarnya dengan gaya arongan.
Andrew hanya menggeleng kepala setelah melihat sang adik kembali ke meja mengecek setiap nama drone pemantau yang tertera disana. Andreas segera mengganti nama drone pemantaunya dengan nama yang sulit supaya tidak mudah dideteksi.
Setelah puas mengganti nama drone pemantau untuk dirinya Andreas segera mencari drone pemantau sang kakak tapi sedikit kesulitan dengan banyak nya drone yang ada. Sementara Andrew sendiri sudah mengganti nama drone pemantau miliknya.
Tak lama kemudian Andreas bersorak riang bak mendapat sebuah harta yang berharga. Dia begitu heboh setelah menemukan hasil analisis drone dari Andrew bahkan seperti mendapatkan durian runtuh karena milik nama Aiden pun ditemukan.
Meskipun sangat sulit tapi akhirnya Andreas menemukannya. Andreas seperti biasa heboh memanggil sang kakak tapi Andrew tidak terlalu antusias karena sudah menemukannya sejak tadi. Tapi Andrew tidak mau mengecewakan sang adik akhirnya dia terpaksa berjalan mendekati Andreas.
Dengan Antusias Andreas menunjukkan hal yang dia temukan dan akhirnya dia tidak penasaran lagi dengan wajah Aiden lagi.
"Kak Andre siapa sebenarnya Aiden? kenapa wajahnya mirip dengan kita? terus kenapa tidak pernah datang kerumahnya kita?" cecar Andreas penasaran
"Menurut informasi yang aku dapat Aiden itu saudara kita, dia pemilik Xavier Croup, makanya nama aslinya Aiden Imanuel Xavier, terus nama aku Andrew Jeiden Xavier dan kamu tau nama lengkap kamu?" jelas Andrew diakhiri pertanyaan
"Nama kamu adalah Andreas Jevin Xavier" tutur Andrew
"Terus nama Ayah dan ibu siapa?" tanya Andreas semakin penasaran
"Ayah Joshua Alberto Xavier dan Henny Alexandra" tutur Andrew antusias
"Wao...kak Andre ternyata banyak rahasia, ayo apa lagi yang kakak tuhu?" cecar Andreas
Andrew hanya tersenyum simpul "siapa dulu Andrew gitu" ujarnya menyombong
"Ciii...kak Andre mulai juga" protes Andreas
kemudian mereka kompak tertawa.
"lapar nggak?" tanya Andrew kemudian
"Betul kak, cacing di perut aku sudah berdemo sejak tadi" jawab Andreas sedikit bercanda
"ini sudah jam 10 malam, gimana nggak lapar" sambung Andrew
"Whats?? really??? jam 10??" teriak Andreas kaget dan langsung melirik jam tangannya untuk memastikan
Akhirnya mereka berdua pun segera ke mengunci pintu dan keluar dari rumah itu tersebut melalui lorong yang mereka lewati tadi.
Sambil terus mengobrol dan ternyata mereka tidak perlu penerangan karena lorong tersebut sudah dilengkapi dengan lampu yang dilengkapi dengan alat sensor lampu akan otomatis langsung mati ketika siang hari dan menyalah saat hari sudah malam.
Karena keasyikan ngobrol tak terasa mereka kembali ke rumah utama mereka.
"Hari ini petualangan kita lebih seru dari pada sebelum - sebelumnya" tutur Andreas di sela mengunyah makanannya
"Kalau berpetualang bersama aku pasti dijamin seru" timpal Andrew