THE SIBLINGS

THE SIBLINGS
The Siblings 26



Diluar rumah Aiden terus berupaya membuka sandi pintu dibantu oleh timnya tapi mereka sangat kesulitan. Bagaimana mana bisa terbuka karena Andrew dan Andreas sudah membuat kode pintu dengan sedetail mungkin dan tak seorang pun bisa tau selain mereka.


The Siblings itu sengaja mengerjai Sang kakak, jika mereka kelelahan baru Andrew dan Andreas akan membukakan akses.


Andreas senang karena berhasil memperdaya sang kakak. Dimana Andreas dan Andrew sebenarnya sudah kangen ingin langsung bertemu tapi menurut Andreas tidak seru kalau tidak saling adu kemampuan terlebih dahulu.


Andrew pun mengikuti saja apa mau dari sang adik yang memang jarang untuk dia tolak selama dia bisa wujudkan. Andrew begitu mengasihi sang adik. sejak kecil mereka tidak pernah mengenal kasih sayang kedua orang tua mereka. Dan Andrew merasa berkewajiban mengasihi adiknya itu.


"Hore kak Aiden kesulitan" Andreas bersorak riang menyaksikan begitu kerasnya Aiden berusaha membuka pintu, bahkan saat ini mencoba cara lain untuk membobol atap, tapi semuanya sia-sia.


"Ah... ternyata mereka hebat juga, keamanan mereka betul-betul susah tembus" Aiden menggeleng pelan serasa ingin menyerah


"Kak Aiden coba negosiasi ke mereka, siapa tahu mereka bisa membuka kan kita pintu, aku dah capek, lapar lagi, kinerja otak ku masih bisa tapi tenaga yang kurang" kelekar Jeider kemudian


"Cih.... dasar bocah, makan aja yang di otak" ledek Jeivic


Sementara Jevior dan Al sejak tadi tidak bersama mereka melainkan asyik menikmati keindahan pemandangan di bukit tersebut dan mengabadikan lewat kamera dan drone yang mereka bawah.


"Kak Al ada yang mencurigakan disini, coba liat capung itu, dari tadi ngikutin kita" Jeivior berlari mendekati Al yang memang di ikuti capung dari tadi


"Yap... betul Vior, tu kau juga tetap diikuti, ayo, kita cek kak Aiden, Jeivic dan Jeider ada nggak ya?!" Al bergegas ke tempat yang lainya berada


Al dan Jeivior merasa tercengang melihat drone kecil berupa capung yang mereka liat mengikuti mereka bertiga.


"Kak Aiden, kita di pantau seperti lewat drone ini" Jeivior berlari mendekati Aiden yang masih bergelut dengan alat peretas sandi di tangannya


"Amankan" tutur Aiden masih terus fokus dengan apa yang sedang dikerjakan


"Kak Andrew mereka mencoba mengamankan drone kita" Andreas segera mendekati sang kakak


"Tarik cepat jangan sampai mereka rusak, capek loh kalau harus diperbaiki ulang" Andrew terus fokus melakukan sesuatu


Dia akan menyambut sang kakak dengan kejutan. Depan pintu sudah dipersiapkan jebakan kurungan yang berbentuk box transparan 5 buah sesuai dengan jumlah tim sang kakak.


Andrew dan Andreas sudah berencana membukakan pintu untuk mereka. Mereka pun sudah lapar.


Sementara Andreas kembali bersorak riang karena berhasil menarik kembali drone kedalam rumah melalui pintu rahasia. Berbanding terbalik dengan wajah kesalnya triplets J dan Al yang merasa diperdaya. Baru kali ini mereka diperdaya sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan bertindak.


"kurang asam ni bocah, betul - betul menguji kesabaran aku" celetuk Jeider karena kesalnya


Masing-masing sibuk dengan pikiran dan ide tiba - tiba bunyi "Clik" memudarkan semuanya


Aiden dan timnya tersenyum puas akhirnya pintu yang sejak tadi dinantikan untuk dibuka kini terbuka lebar. Dengan hati- hati Aiden melangkah masuk tapi baru saja satu kaki menyentuh bagian dalam ruangan badannya langsung tertarik ke sebuah box transparan dan langsung terkunci dan bergeser jauh dari pintu.


Yang lainpun menyusul dan semua terperangkap dalam box yang sama dan setelah mereka berlima masuk kedalam box pintu secara otomatis tertutup kembali.


Kini mereka berlima menatap heran sekaligus takjub. Heran karena dihadapan mereka hanya dua bocah super cute tersenyum manis pada mereka dan takjub dengan isi ruangan.


"Hai, Selamat datang di kediaman kami" Andrew menyambut mereka dengan senyum manisnya


"Selamat bersenang-senang di dalam box itu" Andreas tersenyum mengedipkan matanya menggoda tim Aiden


Aiden hanya tersenyum menanggapi sambutan sang adik yang menurutnya cukup cerdas.