
"Kita tidak berdoa kak?" tanya mereka
"Nggak perlu dek, orang yang sudah meninggal tidak butuh didoakan, kan sudah tidak ada hubungan dengan kita, mereka sudah senang di sorga jadi tidak perlu doa, karena masuk tidak nya kita ke sorga di tentukan pada saat kita masih hidup di dunia ini" jelas Aiden
"Seperti keputusan kalian waktu Itu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat pribadi. Jadi suatu saat nanti kalian meninggal sudah pasti punya tempat di sorga " jelas Aiden
"oh... gitu kak?" Andrew menatap lengket foto di Nisan dan larut dalam pikiran sendiri
"Kak Aiden sering kesini?" tanya Andreas memecah keheningan
"Ya, jika kangen papa" jawabnya jujur
"Papa seperti apa orangnya kak?" Andrew penasaran
"Waktu papa meninggal aku baru umur 4 tahun jadi belum terlalu banyak kenangan yang aku ingat, tapi yang tak pernah bisa aku lupakan itu papa baik banget, perhatian, penuh cinta kasih, dan pokoknya disiplin tinggi, justru aku banyak tau kebersamaan aku dan papa lewat vidio dokumentasi dari aku dalam kandungan sampai 4 tahun itu papa mengabadikan semuanya " jelas Aiden
"Tidak beda jauh lah dari Andreas" timpal Andreas
Ucapan si bungsu itu sontak membuat Aiden dan Andrew tertawa terpingkal-pingkal.
"Pede tingkat dewa" ledek Andrew
"Ya, nggak lah, ini ma fakta, ingat loh kak, kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, jadi pastinya aku yang mewarisi semuanya" jawaban Andreas semakin asal
Aiden hanya tersenyum mendengar perdebatan sang adik. "Thank you Lord Jesus for all the blessings for our family, we are all here today because of your grace, thank you for today being able to visit my father's grave with my brothers" doa Aiden
Beberapa menit kemudian setelah membersihkan kuburan sang papa Aiden mengajak keduanya pulang.
"Papa Andreas pamit pulang ya, kapan - kapan kunjungi papa lagi" pamitnya
"Oh my Gosh, Dreas...Kak Aiden dah bilang nggak usah ngomong apa-apa, soalnya nggak bakal di dengar oleh papa, lagian kita kesini ngebersihin doang tempat nya, ini seperti rumah, sebagai sarana masa ia pamit sama rumah jika mau keluar?" protes Andrew
"Hehe...maaf lupa, soalnya senang banget bisa ngeliat tempat papa pertama kalinya" Andreas melakukan pembenaran
Aiden tersenyum dan menjadi penengah buat sang adik" Na, betul kata Andrew... nggak usah pamit pada benda-benda, seperti orang gila ngomong sendiri kalau gitu, jadi kita kesini membersihkan tempat jasad papa disemayamkan sebagai penghormatan dan mengenang bahwa papa pernah ada bagian dari hidup kita, tapi jasadnya nggak bisa dengar apa2 bahkan mungkin sudah menjadi debu tanah kembali, Karena itu yang Firman Tuhan katakan, tapi rohnya sudah di sorga dan di sanalah kita akan reuni" tegas Aiden
"Oh ... gitu, baiklah kak, Andreas dah ngerti" jawabnya
Pulang dari pekuburan sang Papa Aiden tidak langsung pulang ke Mension mereka melainkan mengajak sang adik untuk mengunjungi Om Hendry dan mama Chaterina saudara kandung mamanya yang selama ini menjadi sosok Ayah buat Aiden.
Sampai di gerbang mereka disambut ramah oleh satpam yang sedikit heran dengan kehadiran kedua anak kecil yang mirip dengan Aiden, tapi mereka tidak berani komentar.
"Terima kasih Pak, Uncle Hendry dan Aunty Rina ada?" tanya Aiden yang memegang sengaja tidak menghubungi Om dan Tantenya karena rencana memberikan kejutan
"Ada nak Aiden, silahkan masuk!" satpam mempersilahkan mereka