THE SIBLINGS

THE SIBLINGS
The Siblings 5



Satu persatu siswa berkumpul di halte seperti biasanya menunggu jemputan bus mereka. sambil menunggu menunggu biasanya mereka bersanda gurau untuk mengusir kebosanan mereka.


"kok pelit banget sih Dre masa minjam doang robot nya nggak bisa" protes si A


"Ia, mentang - mentang bisa buat, mau liat aja nggak boleh" sambung si B


dan banyak lagi komplain yang Andrew dapat dari teman - temuannya karena tidak diperbolehkan menyentuh robot buatannya kemarin.


"Maaf, bukan maksud Andrew tapi itu hadiah spesial buat Dreas" ~Andrew membelah diri


"Waa, Andreas ultah tapi kita nggak di undang sih?" kembali komplain dari yang lain


"Maaf, kalian tau lah soalnya kakek dan nenek kami sudah tiada terus Tante dan Om juga pada sibuk, kalau kami ngundang terus kita buat apa coba, makanan aja nggak ada yang nyiapin, hayo siapa yang mau?" tutur Andrew


"Ia si betul juga" kata teman-teman nya menyetujui perkataan Andrew


"tapi Dre, bisa nggak kami main ke rumah kalian, seperti seru main disana?" tanya salah seorang teman


"Maaf teman - teman bukan nya nggak ngizinin tapi aku takut langgar janji ke mendiang kakek dan nenek aku" Andrew menjelaskan


"Kakek dan nenek kalian itu aneh tau, masa ia rumah nya aja nggak bisa didatangi sih, jangan - jangan rumahnya horor lagi" timpal salah seorang anak


"tapi Andrew dan Andreas nggak kelihatan horor kok, jadi nggak mungkin rumah mereka horor sih" timpal lainnya


"Hai nggak usah berdebat ayo semua naik, atau mau ditinggal!" tutur Andrew menghentikan celoteh yang tidak jelas dari teman - temannya karena saat ini bus sudah di depan mereka.


Semua anak antrian yang rapi naik ke bus. Di perjalanan menuju sekolah bus selalu ramai dengan canda tawa parah siswa yang membuat sopir bersemangat menjalankan tugas tersebut dimana rasa penat mereka di hiburan dengan wajah - wajah ceria para siswa.


pemandangan itu tiap hari terjadi bahkan setelah pulang sekolah pun. Di tambah pemandangan di desa ini memang sangat indah dengan hamparan sawah dan perkebunan penduduk desa yang menambah warna eksotis desa ini.




Bahkan sawah pertanian dan perkebunan ini pun dijadikan sebagai objek wisata yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan asing maupun lokal sehingga tak heran jika penduduk nya sebagian besar bisa berbahasa asing. Hal ini lah yang membuat Andrew dan Andreas bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris.


sekitar 30 menit perjalanan menyusuri perjalanan dari kampung akhirnya bus pun tiba di sekolah Andrew, kembali para siswa antrian turun dan segera berlari ke dalam gerbang sekolah dimana mereka sudah ditunggu oleh guru piket.


Tepat pukul 8 jam pelajaran pun dimulai, Andrew seperti biasanya mengikuti pelajaran, meski menyimak pelajaran dari guru tapi ternyata yang sedang di coret - coret di bukunya ada desain sesuatu yang sejak di bus telah dipikirkannya.


Dia ingin merancang sebuah alat canggih untuk membantu siswa dalam belajar sehingga belajar tidak membosankan tapi menyenangkan. Sebagai anak yang memiliki IQ di atas rata-rata dia sering merasa bosan dengan cara mengajar gurunya.


waktu istirahat tiba dan bel berbunyi semua siswa berhamburan keluar ada yang bermain dan ada pula yang langsung ke kantin. Tapi Andrew memiliki menghabiskan waktu istirahat nya dengan melakukan eksperimen di belakang sekolah dengan tablet miliknya.


Andrew pun mencoba mengoperasikan tablet nya dan sangat mengagumkan karena hanya mengarahkan tablet nya ke segala penjuru setiap yang tertangkap oleh tab tergambar nyata dari nama, ciri khas bahkan bentuk nya 3 dimensi yang membuat Andrew lebih mudah mengamati bagian - bagian dari apa yang diamati nya.



hasil pengamatan Andrew untuk bagian - bagian semut



tampilan pengamatan Andrew untuk nyamuk.


setelah mendengar bel berbunyi Andrew segera menyembunyikan tablet nya dan segera menuju kelasnya.


"Dre...dari mana aja kok nggak jajan?" tanya teman sebangkunya


"Membaca di taman belakang" jawabnya singkat dan kembali fokus pada penjelasan guru