
"Kak Andrew gimana kalau game yang kita rancang kita jual aja untuk membantu biaya operasional?" usul Andreas
"Na betul...ini mungkin saatnya melepas game tersebut... kebetulan tawaran dari beberapa perusahaan sudah masuk" jawab Andrew
"Hei... apaan - apaan kalian ini, seberapa produk yang kalian hasilkan, kenapa merahasiakan dari kakak, lama - lama kakak jantungan tiap hari dapat kejutan dari kalian?" cecar Aiden
"Makanya kakak harus memperkuat jantung nya ini belum seberapa, ia kan kak Andre" Andreas lagi- lagi membanggakan diri
"Ais dasar bocah tengik" Aiden mendesah kesal
Andrew dan Andreas tertawa melihat ekspresi sebal sang kakak
"Ini kak game nya, gimana kita jual sekarang ya!" tutur Andrew
"Maaf merepotkan kalian, kalian seharusnya belum terlibat dalam masalah ini" lirihnya
"Kak kita kan keluarga, sudah seharusnya saling menolong, justru kami senang bisa terlibat dalam masalah ini" tutur Andrew bijak
"Makasih ...aku tertipu dengan umur kalian, kakak pikir masih bocah, ternyata lebih dewasa dari kakak" tutur Aiden bercanda di sambut tawa dari Andrew dan Andreas
"Kak Aiden, kami punya kamera pengintai yang baru, gimana kalau kita pasang di perusahaan kakak besok untuk melanjutkan penyelidikan kita sekaligus untuk mencari bukti masalah yang kakak hadapi sekarang" usul Andreas
"Apa bedanya dengan CCTV yang sudah ada?"
"Tunggu...kakak coba sendiri" Andreas menyodorkan sebuah kamera kecil berbentuk bunga yang berwarna bening
Aiden tercengang setelah melihat kamera tersebut karena langsung berubah sesuai dengan warna kulitnya dan saat diletakkan di meja berubah jadi coklat.
"Wow... Amazing" puji Aiden
"Gimana kak setuju?" tanya Andrew
"Oke, kakak setuju dengan ide kalian, besok kita ke perusahaan"
"Kalau itu sudah pasti, sebab untuk saat ini kita belum tahu siapa kawan dan lawan" jawab Aiden
"Kak gimana dengan soal yang dihadapi oleh mommy?" tanya Andrew
"Soal itu mommy pasti bisa tangani lagian ada uncle Harold disana yang akan membantu Mommy" jawab Aiden
"Uncle Harold itu siapa kak?" tanya Andreas
"Oh itu, kakaknya Daddy, Dia yang selama ini mendampingi kakak dan mommy menjalankan perusahaan, bahkan sebelum sebelum daddy meninggal, jadi bersyukur banget ada uncle" jelas Aiden
"Maaf... bukannya Daddy anak tunggal ya" ujar Andrew
"Betul...itu kakak sepupunya Daddy, anak dari saudaranya grandpa" jelas Aiden
"Oh...gitu, kak grandpa dan grandmother dari Daddy masih hidup nggak sih?" tanya Andreas
"Masih dong... tapi mereka tinggal di negaranya, dan jarang ke negara ini, biasa saat momen ultah aku atau mommy kalau kebetulan rayain disini" jawab Aiden
"Tapi kemarin di ultah mommy nggak ada kok" ujar Andreas lagi
"Oh kebetulan grandpa ada cek up rutin jadi nggak bisa hadir, untuk 1 bulan ke depan kita harus nemuin mereka karena mereka merayakan wedding anniversary sekalian ketemu langsung. Mereka pengen ketemu kalian, mereka dah tau tentang kalian kok"
"Mereka dah umur berapa emang, kok nggak tangani perusahaan Daddy?" kini Andrew yang bertanya
"Umur 80 an tapi masih sehat dan kuat kok, hanya memang grandpa mau menikmati masa tua tanpa harus pusing dengan urusan perusahaan, bahkan sejak usia 50 tahun semua sudah di percayakan pada Daddy"
"Ow... tidak sabar ketemu mereka" lirih Andrew
"Oke kakak janji untuk mengajak ke negara Grandpa"