THE SIBLINGS

THE SIBLINGS
The Siblings 2



"I'm full" ujar Andreas meletakkan peralatan makan nya di meja


"no, makan di habis loh, kalau nggak nggak boleh motong kuenya" ancam Andrew


"humm baiklah" gerutu nya


Andrew tersenyum simpul melihat ekspresi kesal sang adik


"kak, Dreas nggak mau potong kue nya siang ini, masa ia tiup lilin siang bolong" ujarnya


"Good boy, tapi maaf kakak nggak bisa buat pesta untukmu hari ini, jadi kita rayain berdua aja ya" tutur Andrew menahan kesedihannya


sebenarnya dia rindu jika perayaan ulang tahun mereka di rayakan ramai - ramai seperti anak seusia mereka tapi hal itu mustahil karena sejak mereka kecil Kakek & nenek nya pun tidak pernah mengadakan perayaan pasti hanya di buatkan kue dan mereka rayakan berempat atau setidaknya ada tante atau om mereka. Entah apa alasannya, kalau alasan ekonomi mereka nggak juga karena mereka masih hidup berkecukupan Andrew pun tidak ngerti dan setiap dia bertanya kakek dan nenek nya punya seribu macam alasan, jadi Andrew tidak pernah memaksa kan hal itu.


bahkan jauh sebelum mereka meninggal mereka selalu berpesan agar Andrew dan Andreas tidak usah terlalu bergaul apalagi dengan orang asing.


Meski tidak tau alasannya Andrew pun taat dan dia pun terapkan pada sang adik, itu alasan mengapa mereka tidak pernah berniat meninggalkan rumah mereka.


kediaman mereka didesain berbeda dari perumahan warga sekitar bahkan sengaja di buat di tengah - tengah kebun yang memiliki jarak sekitar seratus meter dari penduduk desa lainnya dan memiliki dinding pagar tinggi dari bambu untuk menutupi kondisi rumah tersebut.


setiap kali Andrew bertanya kakek dan nenek selalu menjawab supaya nyaman aja dan tidak bising dengan suara tetangga.


"Berdua??, no Dreas nggak mau"


"Dreas please ingat pesan kakek dan nenek" nasehat Andrew sambil membereskan peralatan makan mereka


"Dreas ingat kak dan nggak mungkin langgar janji Dreas" tutur Andreas


"Terus, gimana maksudnya?" ~Andrew


"Hum, kakak jahat masa debu nggak bisa ikut" tutur nya santai


"Ya, bocah ngomong kek dari tadi" ujar Andrew kesal


"Salah siapa coba?, aku kan belum selesai ngomong kakak main potong aja" ~ Andreas


"Ah, ribet ngomong sama kamu" ~ Andrew melangkah ke ruang keluarga setelah mencuci piring dan langsung di susul oleh sang adik


"kak, Dreas punya sesuatu, ikut aku!" langsung menarik tangan sang kakak ke kamar mendiang kakek dan nenek


"Apaan sih Dreas? nggak usah narik - narik!" protes Andrew


"kakak bawel banget sih, ikuti aja susah amat" gerutu Andreas


Andreas segera membuka pintu dan langsung menuju meja kuno dan mengambil kunci membuka lemari besar, sekaligus sebagai rak buku milik sang kakek



ilustrasi gambar sumber google


"Dreas dasar kurang kerjaan, ngapain buka lemari coba?, aku nggak mau main, aku punya tugas, lebih baik masuk kamar kamu terus tidur siang!" tutur Andrew


"Ya kak bisa diam nggak, bawel banget kaya mak - mak" protes Dreas tak terima sambil terus melancarkan aksinya membuka pintu lemari lebar - lebar nan menyingkap semua kain yang tergantung dan mencari tombol kecil yang ada di lemari tersebut


Andrew membeku di tempat tak percaya dengan pemandangan yang di depannya setelah Andreas berhasil menekan tombol tersebut



"Ta...ra, hayo protes terus" ujar Andreas melirik ke arah sang kakak yang masih setia dengan gaya mematung di tempat


"Kak, Ayo masuk!, ngapain bengong?" teriak Andreas menyadarkan sang kakak


Andrew tak sedikit pun bergeming


Andreas jengkel tak mendapat respon dari sang kakak, berlari keluar dan menarik tangan Andrew dan menyeretnya


"Kak Andre ayo, masuk! bingung muluk kerjaan nya" cecar Andreas jengkel


"Gimana kak, Dreas keren kan?, masa kakak nggak tau ini?" ujar Andreas sedikit menyombongkan diri


Andrew tidak mempedulikan ocehan Andreas dan langsung tertarik dengan isi ruangan itu.


setiap sudut jadi perhatian nya



terus menyusuri ruang tersebut dengan kagum dan terus menyentuh setiap peralatan yang ada di ruangan itu



dan aksinya di ikuti oleh sang adik.


"Dreas sejak kapan ketemu ruang ini?" tanya Andrew kagum


"Baru kak, Pas pulang sekolah" jawabnya sambil terus mencoba semua kamera yang ada di ruangan tersebut



"Kak kenapa kok kakek dan nenek nggak pernah ngasih tau ya??" tanya Andreas serius tanpa berhenti dari aktivitas nya


"Hum nggak tau, mungkin ini maksud mereka supaya jangan ninggalin rumah ini" jawab Andrew sekenanya karena asyik mengotak-atik komputer di depan nya dengan serius nya otak brilian nya langsung on.


Andrew segera mencari sesuatu untuk memecahkan misteri ruangan ini.


kedua bocah tersebut larut dalam kegiatan mereka sehingga ruang itu langsung sunyi hanya bunyi kayboard laptop yang mereka operasi kan saling bersahutan.


"Ahaaa... Andrew dapat" teriak nya senang


"Kakak dapat apa?" tanya Andreas melompat dari kursinya mendekati sang kakak


"Kakak hebat, Dreas cari sesuatu lagi, kakak lanjut kan kerjaannya!" ujar Andreas sok memerintah


Andreas berpikir memutar otak dan menyelidiki ke segala tempat dalam ruangan tersebut bahkan yang terkecil sekalipun tidak lepas dari pengamatan nya, matanya bekerja dengan cepat menyusur ruangan, beberapa menit kemudian mendekati sebuah sudut dan menyelidiki apa yang di temukan.


"Kak Andre kemari cepat!" pintanya


Dengan enggan Andrew melangkah mendekati sang adik, karena sebenarnya fokus dengan apa yang di temukan nya sendiri tapi karena Andreas terus memanggil akhirnya diikuti juga


"Kak coba liat ini apa?" tanya Dreas setelah Andrew menyamparinya


Andrew mengerutkan kening mengamati dengan seksama benda yang di maksud oleh Dreas


"Amazing, humm petualangan di mulai" ujar Andrew serius


"Kak tapi Dreas takut jadinya, jangan - jangan kita dalam bahaya" tuturnya


"nggak usah takut kita pasti punya cara mengatasi semua nya, asal ini jadi rahasia kita berdua, pertama kita harus mempelajari cara mengontrol ruangan ini dan belajar apa fungsi semua alat yang ada di sini, ayo cepat kita cari petunjuknya pasti ada!" tukas Andrew


"tapi kak mulai dari mana?, Dreas bingung banyak banget alatnya" ujar Andreas


"Dreas kita berbagi kamu kan jago hafal jadi baca semua buku yang ada disini, kakak cari di perangkat, oke!"


"Siap Andreas langsung cari buku" jawabnya bercanda


Andrew hanya tersenyum menyaksikan tingkah Dreas.


tak lama kemudian akhirnya kembali ruangan itu sunyi karena mereka berdua kembali serius pada tugas masing-masing.


kegiatan tidur siang mereka pun tertunda karena lebih tertarik dengan apa yang mereka temukan saat ini. Andreas duduk di sudut ruangan didepan rak buku yang ada disana satu persatu buku di bacanya dengan teliti.


inilah kelebihan yang memiliki IQ diatas rata-rata, sehingga Dreas lebih dari anak seusia nya dimana dia memiliki daya ingat yang kuat bahkan umur 7 bulan sudah bisa berbicara dan usia 1 tahun sudah lancar ngomong dan usia 2 tahun sudah mampu menghafal Abjad dan angka.