
Pagi harinya Andrew bangun dengan wajah yang lebih berseri dari biasanya. Sejak tadi malam setelah diajak berdoa oleh sang kakak kini hatinya lebih tenang, tidak terintimidasi dengan rasa takut, damai, seperti tidak ada beban hanya rasa itu yang ada. Terbesit senyum indah di bibirnya.
"Hum.... kedamaian ini yang aku cari dari dulu, tapi bersyukur saat ini sudah bisa merasakan" gumamnya "Thanks God"
Andrew melonggarkan pelukan sang kakak yang memang sengaja tidur bertiga. Aiden sengaja mendekap adiknya bergantian. Betapa bahagianya karena impian untuk memiliki saudara kandung ternyata jadi kenyataan.
Tapi belum lepas Aiden semakin mengeratkan pelukannya. "Kak Aiden sudah bangun?"
"Hum, dari tadi tapi takut kalian terganggu"
Akhirnya Andreas pun membuka mata "Selamat pagi" cengirnya
"Pagi" Aiden langsung mencium adiknya bergantian
"Doa yuk!" lanjut dan langsung memimpin doa
"Kak hari ini kita ngapain?" Andreas berjalan menyusul kedua kakaknya yang terlebih dahulu ke kamar mandi
"Hum, untuk hari ini kita cukup jalan - jalan menyaksikan dan menikmati pemandangan disini, untuk selanjutnya nanti kita pikirkan" Aiden membasuh wajah
"Hore... Asyik keluar" Andreas antusias keluar kamar mandi setelah membersihkan diri
Kini Andrew, Andreas, Aiden, Al dan Triplets J berkumpul diruang keluarga. Seperti kebiasaan di rumah mereka masing-masing yang ibadah tiap pagi mereka juga terus lakukan.
Inilah ajaran keluarga mereka, semuanya harus diawali dengan Tuhan dan diakhiri bersama Tuhan. Karena mereka sadar betul bahwa hidup mereka butuh Tuhan didalamnya. Tiada kebahagiaan sejati diluar Tuhan, sekaya apapun, seternar apapun manusia semuanya tidak berarti tanpa Tuhan.
Andrew dan Andreas antusias untuk berpetualang dengan bebas tanpa takut ada yang mengintai mereka, yang selama ini mereka sudah impikan tapi tidak mau melanggar janji pada kakek dan neneknya.
Andrew dan Andreas membawa tablet transparan mereka bahkan memasang kamera softlens yang mereka sudah ciptakan.
Andrew dan Andreas hanya membagikan tablet pada yang lain tanpa memberikan kamera softlens tersebut. Bahkan Andrew dan Andreas memasang di mata mereka dengan diam - diam.
Pada softlens tersebut sudah dirancang dengan alat khusus yang bahkan hanya mengedipkan mata bisa mengakses password pintu atau mengakses data yang dibutuhkan karena sudah terkoneksi ke tablet bahkan koneksi internet sekalipun.
Andreas dengan rasa keingintahuan yang tinggi mengamati setiap serangga yang ditemui dan juga tumbuh tak luput dari pengamatannya.
Sementara yang lain asyik dengan dunia mereka masing-masing. Aiden mengamati dengan seksama lokasi tersebut dan mencari sesuatu yang berkaitan dengan sang ayah.
Andrew sepemikiran sang kakak, dia mencari sesuatu yang berkaitan dengan ayahnya dan alasan setiap orang terdekatnya terbunuh. Banyak pertanyaan yang terus berputar di kepalanya dan jawaban nya dia mulai susun dengan setiap kejadian yg dialami selama ini dan fakta yang telah terungkap.
"Aha...Kak Andre kemari cepat" teriakan Andreas memecah keheningan yang tercipta karena mereka asyik dengan pikiran mereka sendiri. Andreas sontak meneriakkan nama Andrew karena tidak sadar ada yang lain bersama mereka kali ini
Andreas mendengus kesal dengan kehebohan Andreas. "Apa sih Dreas?" kesalnya namun tetap melangkah mendekati keberadaan Sang adik
Yang lainpun ikut mendekati Andreas
"Ta...Ra" dengan senyum sumringah menunjukkan apa yang ditemukan
Mereka semua terpaku di tempatnya dengan mulut terbuka lebar, tercengang dengan apa yang Andreas temukan