
Di ruang rapat Aiden dengan tenang memimpin jalannya rapat dan banyak yang terkesan dengan ketegasan dirinya dan juga kagum dengan keputusan bijak untuk memecat orang yang merugikan perusahaan meskipun itu kerabat dari orang tuanya.
Banyak di antara mereka yang tidak menyadari bahwa anak itu baru berusia 15 tahun, yang pada awalnya mereka tidak terima untuk di pimpin anak kecil tersebut.
Rapat pun bubar , meski tidak semua dari mereka setuju dengan keputusan yang diambil oleh Aiden tetapi mereka tidak berani protes mengingat kedudukan Aiden sebagai pemegang saham terbesar.
"Kak Aiden, sudah selesai?" sang adik kompak
"Ia, puji Tuhan selesai"
"Gimana dengan redaksi mereka?" tanya Andrew
"Ya, pro dan kontra itu pasti, tapi yang jelas kita bebas menyelidiki kebenarannya tanpa ada pihak yang akan curiga" tutur Aiden
"Baiklah... kita makan siang ya kak, aku lapar" pinta Andreas
"Ah betul juga... sebelum berperang otak, perut harus jadi prioritas utama" kekeh Andrew
ketiganya pun melangkah ke luar dari ruangan kerja menuju kantin.
Di kantin para karyawan pun mulai berdatangan Karena memang sudah jam istirahat.
Seperti biasa ketiganya pun Antrian mengambil makanan. Inilah kehebatan mereka yang tidak dimiliki oleh para miliarder yang lainnya yaitu kerendahan.
Kebiasaan mereka ini bukan sebagai alasan karyawan merendahkan mereka tapi justru semakin menghormatinya.
Sepanjang menikmati makanan siang, mereka terlibat dalam obrolan kecil - kecil dan tak lupa di bumbui dengan candaan yang sering membuat mereka tertawa dan pastinya menarik perhatian para karyawan.
Hal ini membuat banyak orang iri dengan kekompakan mereka, bukan bersaing mendapatkan jabatan di perusahaan tapi justru saling mendukung. Inilah kekuatan anak - anak, yang tidak memiliki sifat serakah dan ambisius seperti kebiasaan orang - orang dewasa.
"Gimana kak langkah apa yang perlu kita ambil terkait fakta ini?" tutur Andrew memecah keheningan
Setelah makan siang, mereka kembali ke ruang kerja Aiden dan langsung fokus dengan penelitian mereka masing-masing hingga ruangan itu menjadi sunyi.
"Kita minta bantuan uncle Hendry aja kak, tanpa melibatkan orang-orang Xavier crops dulu" usul Andreas
"Boleh supaya tersaring murni siapa yang betul-betul berpihak sama Xavier crops, siapa yang jadi musuh dalam selimut" selah Aiden
"Dan jangan libatkan uncle Judas sama Harold kak, mereka kan bagian dari Xavier crops" Andrew memberi alasan
"Baiklah" jawab Aiden singkat
"Hai kan bukannya besok kita, nyusul mommy?" tanya Andreas tiba-tiba
"Oh my Gosh... kakak sampai lupa, baiklah untuk urusan kantor cukup hari ini, yuk kita belanja oleh-oleh untuk Granny dan grandpa" putus Aiden
ketiganya berjalan keluar kantor dan seperti biasanya dengan ramah menyapa para karyawan.
Aiden mengajak kedua adiknya ke sebuah pusat perbelanjaan milik Xavier crops yang khusus menyediakan oleh - oleh khas Indonesia dari berbagai daerah.
"Granny dan grandpa suka koleksi ini ya kak?"
"Ia, maka tiap berkunjung ke sana kakak bawakan ini aja" jelas Aiden
" Aku suka yang unik - unik juga kak, apalagi khas negara ini" tutur Andreas
"Yuk serasa sudah cukup, saatnya pulang Peking" ajak Aiden kemudian
"Oke" jawabnya kompak
Kurang dari 30 menit akhir mereka tiba di mension.
Setelah menyerahkan pada maid untuk paking oleh - oleh. mereka masuk ke kamar masing-masing. Ketiganya bergegas membersihkan diri dan mengistirahatkan dirinya yang memang sangat lelah dengan urusan kantor hari ini