THE SIBLINGS

THE SIBLINGS
The Siblings 7



Andrew segera membuka gerbang dan segera masuk ke dalam, Andrew menyisir semua ruangan dengan matanya tapi Andreas dan debu tidak kelihatan bahkan suara nya pun tidak kedengaran.


"humm...pasti di ruangan rahasia itu" pikiran nya


Andrew seperti biasanya segera berganti pakaian dan menuju dapur menyiapkan makan siang untuk mereka.


Andrew dengan lihainya bak koki profesional menyimpan menu makan siang mereka.


"Sekalian beres baru manggil Dreas makan" monolog nya


sekitar 1 jam Andrew berkutat dengan dapur akhirnya menu makan siang pun tersaji dengan sempurna. Andrew segera menuju kamar mendiang sang kakek, untuk memanggil sang adik tapi Andrew heran karena lemari sebagai pintu masuk tertutup rapat.


Andrew segera membuka "Hai, ayo makan!" ujarnya sebelum melihat keberadaan sang adik


Andrew tak mendengar respon apapun akhirnya mengulang memanggil Andreas


"Dreas kakak sudah pulang ayo makan yuck!" ucarnya lagi dan menyisir segala sisi dengan pandangan nya tapi keberadaan sang adik nihil


Andrew segera keluar dari ruangan tersebut dan teriak memanggil nama sang adik


"Dreas...kakak sah pulang yuck makan!"


"Dreas kamu dimana?"


"Dreas ayo, makanan kesukaan kamu dah siap loh"


tetap tidak ada sahutan


Andrew dengan panik terus mencari sang adik dan terus mengulang memanggil nama Andreas.


sementara di ruangan bermain Andreas asyik bermain, bahkan teriakan sang kakak tidak didengar nya.


sementara keributan di ruang bermain tempat Andreas tidak kedengaran oleh Andrew karena kedap suara.


Andrew mencari ke segala sisi di rumah mereka tapi tetap jejak sang adik tidak ditemukan.


"Andreas pasti sudah pulang karena tas bahkan Robot nya sudah di kamar tapi kemana dia?" monolog Andrew


Andrew berpikir sejenak," ah mungkin ketiduran dirumah pohon di belakang" pikirannya



Andrew pun segera ke belakang mengecek kebenaran sang adik dan kembali memanggil nya.


tapi ternyata Andreas pun tidak ada.


Andreas meringis memang perutnya "Auh lapar bangat, kak Andre kok belum pulang?" monolog nya


tak berapa detik Andreas menepuk jidat sendiri "oh my Gosh...kak Andre nggak mungkin tau aku disini" tutur lagi


"Debu yuck cari kak Andre!" ajaknya segera keluar


"Au, sakit" teriak mereka bersamaan


Andrew dan Andreas bertabrakan dan langsung terjatuh


"Ah, kak Andre nggak liat- liat sih" protes Andreas mengusap bokong yang sakit karena mencium lantai dengan keras


"Kamu tuh yang kurang kerjaan, laci dimasukin juga, nggak tau apa, aku dah capek nyariin kamu" tutur Andrew tak kalah tegas


"laci kakak bilang?, big no!" protes Andreas


"udah nggak usah debat, aku lapar yuck makan" lerai Andrew


"Na ini yang betul...aku da lapar juga, kak Andre sih pulang nya kelamaan" Andreas terus mengomel


" Ya, dari tadi aku pulang mala dah Habis masak, cari kamu mala tambah buang waktu" timpal Andrew


"Lagian, kamu yang tuli masa ia aku teriak - teriak manggil kamu, nggak dengar juga padahal di laci doang" sambung Andrew


"Aku dah bilang itu bukan laci, tapi pintu ruang bermain tau" tutur Andreas sambil tangannya menaruh makanan di piring nya


"Dreas...stop berimajinasi, mana ada ruangan main di laci atau jangan - jangan kamu mimpi gara- gara ketiduran di laci" ledek Andrew


"terserah kak Andre ngomong apa, kalau nggak percaya ya setelah makan kita buktiin kalau aku nggak bohong, lagian mana ada keringat gini kalau tidur doang" jelas Andreas


"yayaya...makan sudah!, aku mau kerjakan sesuatu" timpal Andrew kemudian fokus menikmati makanan nya.


Andreas dengan semangat bercerita tentang ruangan yang baru di temukan di bawah tangga loteng tapi hal itu tidak menjadi perhatian Andrew karena fokus mengisi perut tak sabar bereksperimen di kamar rahasia


"Kak Andre dengar aku nggak sih?" protes Andreas melihat sang kakak hanya diam tak menanggapi seperti biasanya


"Dreas kenapa sih?, makin berisik makan cepat aku mau buat sesuatu" timpal Andrew


Andreas hanya memanyunkan mulut cemberut kemudian balik menikmati makanan nya.


"Dasar kak Andre, liat aja semua mainan nggak ngizinin makai" runtuknya dalam hati


sementara Andrew sendiri tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa peduli ekspresi sang adik