
Setelah makan siang Aiden mengantar sang adik pulang ke Mension kakek, seperti pesan sang mommy.
Sampai di Mension mereka tidak langsung istirahat melainkan melakukan persiapan untuk menuntaskan misi di rumah uncle Judas.
"Kak gimana perkembangan hari ini?"
"Belum ada pergerakan yang mencurigakan, semuanya normal, dan berkaitan dengan perusahaan"
"Kak tapi sepertinya uncle Judas punya ruang rahasia, aku tadi coba untuk buka tapi nggak ada kesempatan" ungkap Andrew
"Nggak masalah kak, kan pemantauan kita sudah pasang, jadi kita bisa tau nantinya" tanggap Andreas
"Betul... nggak usah terlalu mikirin untuk cepat tuntas yang penting kita ikut jalur yang aman tanpa kecurigaan" ujar Aiden
"Kak kita harus berhasil masuk ke kamar uncle Judas, terutama ruang kerjanya" tutur Andreas
"Ya, itu sudah target, tapi harus rapi agar tidak mencurigakan" tutur Aiden
"Seandainya uncle Judas punya anak seusia kita, itu lebih mudah" celetuk Andrew
"Pokoknya kalian berdua harus bisa, kalau kakak uncle dah tau kemampuan kakak pasti sudah di antisipasi dan akan menimbulkan kecurigaan" potong Aiden
"Tenang kak, Andreas punya ide dan pasti berhasil", kemudian segera membisikkan ide tersebut pada Aiden dan Andrew
"Good... tumben otak lu kerja bener" ledek Andrew
"Otak aku nggak pernah salah, yang salah itu otak kakak berdua yang nggak se prekuensi" balas Andreas meledek. ketiganya pun tertawa ngakak.
Pukul 19.00 rombongan keluarga Xavier sampai ke rumah uncle Judas dan disambut ramah oleh keluarga uncle Judas dan aunty Martha beserta ke 3 anaknya.
Perbincangan berlangsung hangat sejak datang, dimeja makan hingga kini di ruangan keluarga, kedua keluarga ini melepas kangen dengan nostalgia.
Ketiga anak uncle Judas mengajak Aiden dan kedua adiknya bermain. uncle Judas memiliki 2 orang putra dan seorang putri, seorang putranya seumuran dengan Aiden dan memang cukup akrab dengan Aiden, di masa kecil mereka sering bermain bareng saat Daddy Yoshua masih hidup dan masih aktif di perusahaan pusat.
Di selah - selah bermainnya Andrew dan Andreas mencuri waktu melancarkan aksinya, tanpa halangan berarti mereka berhasil masuk ke ruang kerja uncle Judas.
"Boy apa yang kalian lakukan?" tanya Uncle Judas yang tiba-tiba muncul di belakang mereka
Andrew dan Andreas kaget dan segera mengatur napas karena gugup.
"Ia uncle maafkan kami, aku yang minta kak Andrew masuk ngejar mainan ini, ini hadia pertama dari Grandpa jadi takutnya hilang, Grandpa pasti kecewa kalau tau aku nggak bisa jaga" jelas Andreas dengan wajah imutnya sambil menunjuk mainan yang di maksud
(Mainan Andreas robot tikus)
Uncle Judas tersenyum, tidak tahan melihat wajah menggemaskan Andreas yang takut kena marah
"Hey nggak papa boy, uncle nggak marah kok, ayo turun uncle punya hadiah yang nggak kalah keren dari mainan ini" tuturnya
"Terima kasih uncle, uncle memang the best" tutur Andreas girang, segera menyusul uncle keluar
Andrew dan Andreas di ajak ke ruang depan di mana dalam lemari kaca ada begitu banyak mainan robot berbagai jenis dan bentuk.
"Ini uncle punya, hasil desain pertama uncle bersama Daddy kalian, uncle berikan biarkan kalian yang jaga dan berharap kalian yang akan melanjutkan perusahaan" tutur uncle Judas
"Wow... kerennya uncle, terima kasih banyak" tutur Andreas dan Andrew tulus dengan senang hati menyambut mainan tersebut dari uncle Judas
Andrew dan Andreas segera berlari keruang keluar menemui sang mommy
"Mom, looked that" teriak Andreas semangat sambil menunjukan hadiah dari uncle Judas
"Wa, itukan desain pertama uncle sama Daddy" tutur mommy menahan haru
"Ia Han... biarkan mereka memilikinya, sebagai kenangan dari sang Daddy mereka" tutur Uncle Judas
"Makasih kak, Kakak masih setia menjaga karya kak Yoshua" tutur Mom Hanny tulus
"Itulah tugas keluarga Han, jadi sudah sepantasnya, tapi sekarang Yoshua punya putra jadi seharusnya mereka yang menjaga, kalau Aiden kan punya sendiri tapi adiknya berhak juga mendapatkannya" jelas uncle Judas
"Sekali lagi makasih kak" tutur mom tulus
"Makasih Uncle" tutur Aiden
Setelah puas bernostalgia dan melepas kangen keluarga Xavier pun pamit