THE SIBLINGS

THE SIBLINGS
The Siblings 49



"Nggak tahu Dreas, sebenarnya dah berkali - kali aku coba, tapi Password salah, aku dah coba alat yang kita buat, yaitu retas password tapi nggak bisa"


"Ah...kak tapi ini mintanya sidik jari"


"Tahu dari mana?"


"Ini liat bahasanya, saat di sentuh akan muncul angka, huruf dan simbol, perhatian baik - baik coba baca secara vertikal, terus horizontal" jelasnya


"Ternyata kamu masih bisa diandalkan"


"Andreas gitu, apa sih yang nggak bisa" tutur Andreas dengan gaya pedenya


"Ya untuk kali ini aku akui" goda Andrew


"Cii, dasar kakak tidak mau kalah kan?" balas Andreas


"Shutt diam!!!...kakak tidak bisa melihat"


"Apaan sih kak, apa hubungannya ribut dengan penglihatan kakak?"


"Soal suaramu mengganggu penglihatan ku" ujar Andrew lagi - lagi bercanda


"Hahaha, kirain tadi serius" kini Andreas paham kalau kakaknya hanya bercanda


"Makanya boy, hidup jangan terlalu diseriusin, bercandain sesekali kek"


Akhirnya kedua tertawa dengan bebasnya.


Selama bertemu kakak dan momynya bahkan kini tinggal bersama membuat rasa was-was mereka hilang, kini mereka bebas kemana - mana, tanpa takut ada yang mengintai.


Bebas bereksperimen karena disekolah di sekolah khusus dan juga bebas berteman di sekolah formal mereka. Hal ini juga semakin membuat mereka bebas mengekspresikan perasaan mereka.


Sebelum bertemu kakak dan momynya, mereka sering berpetualang dan bereksperimen tapi dengan diam - diam dan pastinya hasilnya pun dirahasiakan karena takut di teror seperti dulu.


flash back on


Siang ini seperti biasa ketika Andreas pulang dari sekolah Paud, dia kembali melihat beberapa orang yang berbeda dari kemarin di gerbang rumahnya.


Andreas akhirnya memutuskan bermain di lapangan desa dengan debu sang anjing kesayangan agar tidak memancing perhatian orang asing tersebut.


Mulai dari situ mereka merasa terancam bahkan hampir tiap hari di intai dengan orang yang berbeda.


Ternyata itu adalah anak buah sang kakak dan juga lawan dari sang kakak, yang mengintai pergerakan anak buah Aiden


Mulai saat itu pergerakan mereka terbatas bahkan di dalam rumahnya pun harus hati-hati. mengingat kematian sang kakek dan nenek pun secara misterius.


Flash back off


"Kak Andrew, coba kita bersamaan tempel tangan"


Andrew pun mengikuti permintaan sang adik


"Na kak coba baca apa perintahnya!''


"Harus tempel 4 tangan" jawab Andrew


Mereka kembali mencoba tapi gagal


Sementara di ruang makan Aiden dan sang momy telah kembali dari penjelajahannya. Dan bersiap untuk makan siang.


"Bu Andrew dan Andreas mana ya?" tanya Mom Henny


"Di kamarnya ibu dari tadi belum keluar, biasa mereka gitu kalau dah buat sesuatu pasti mereka nggak mau di ganggu" jawab Tante Susi


"Mom, Aiden aja yang panggil" dan langsung menuju kamar kedua adiknya


"Andre , Dreas... makan yuk!"


Aiden berkeliling kamar nggak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Akhirnya Aiden memutuskan membuka kamar rahasianya tapi tidak ada juga, tapi samar dia mendengar percakapan di balik dinding kamar tersebut.


Aiden terkejut karena tiba-tiba kedua adiknya mendorong dinding yang dia sandari.


"Kak Aiden?, apa yang kak Aiden lakukan?" ucap mereka bersamaan


"Kakak mencari kalian, mama menunggu untuk makan siang, apa yang kalian lakukan?, terus kapan kalian tahu ruangan ini?" cecar Aiden


"Sudah lama, sebelum kak Aiden menemukan kamar ini, maaf ya kak kami masuk ke kamar kak Aiden tanpa ijin" jawab Andrew