
Sementara Jeider menatap sinis ke arah Andreas. "Hei lepaskan kami, kami nggak bakal ganggu" teriaknya terus berusaha mencari jalan keluar
"Silahkan perkenalkan siapa kalian, terus ada urusan apa disini?" Andrew berputar mengelilingi mereka satu persatu dan diikuti oleh Andreas
"Hai... adik manis nggak usah pura-pura, kamu tahu persis siapa kami dan apa tujuan kami kesini, bukannya kalian sudah memantau lewat drone kalian?" Aiden masih tersenyum manis
"Ups...kak kita ketahuan" Andreas masih memprovokasi Jeider
"Cih... dasar bocah, cepat nggak usah bercanda, kami lapar, masa gini caranya sambut tamu" teriak Jeider
"hahaha...tamu kata kak, bukannya penyusup?" ledek Andreas
"ups maaf... Keceplosan" Andreas masih dalam mode meledeknya
"Hai adik manis masa gini caranya nyambut kakaknya" Aiden membuka suara membujuk sang adik yang masih bermain - main dengan mereka
"Kakak?" Andrew masih pura-pura
"Sudahlah adikku tersayang, tidak usah pura-pura, kakak kangen kalian" Aiden tak sabar memeluk mereka
"Gimana kak buka nggak?" Andreas mendekati Aiden
"Buka aja tapi hanya kak Aiden" bisik Andrew
"Oke" Kemudian bertos ria
Aiden dan timnya hanya mengerutkan kening mengamati dou bocah dihadapan mereka itu
Andrew kemudian mengedipkan mata beberapa lama, tak lama layar kaca di box yang mengurung Aiden tergeser keatas.
Aiden terpana melihat aksi sang Adik yang kemampuan diluar dugaan. Andrew berhasil mengontrol pintu kaca pada box itu dengan alat yang kecil dipasang pada softlens dimatanya
Setelah pintu kaca terbuka Aiden segera melangkah mendekati kedua adiknya kemudian memeluknya dengan sangat erat. Wajah sang adik persis perpaduan wajah papa dan mama nya yang membuatnya seketika rindu sang papa.
Tanpa sadar airmata Aiden menetes dan masih memeluk sang adik dengan lirik dia berdoa "Terima kasih Tuhan, akhirnya kami bisa berkumpul"
"Kak Aiden please minta mereka buka boxnya, panas tau" Jeider memecah keharuan diantara ketiga bersaudara itu
Aiden melepas pelukannya dan mencium pipi kedua adiknya bergantian.
"Please buka boxnya ya, mereka teman kakak dan pastinya jadi teman kalian nanti" Aiden masih berlutut merangkul pundak Andreas dan Andrew
"kenapa pake syarat?" kini Andrew yang bingung
"Ya pokoknya sebelum mereka berjanji, aku nggak mau buka"
"Baiklah..apa syaratnya?" teriak mereka kompak karena sudah gerah di dalam box kaca tersebut
"Nggak boleh nyentuh apapun disini tanpa ijin dari aku" Andreas masih dalam mode dinginnya
"Baik bos" jawab Al dan Triplets J kompak
"Good boy" akhirnya Andreas membuka box satu persatu dengan kontrol pada jam tangannya
Satu persatu mereka keluar dari box dan terperangah dengan peralatan yang ada dalam rumah tersebut dan juga desain unik dari ruangan itu.
"Wow amazing" teriak mereka tanpa sadar
"Hei kemari semua kenalan dulu" Aiden memanggil timnya
"Hai kenalin aku Andreas Jevin Xavier panggil Andreas aja" Andreas menyalami mereka satu persatu
"Andrew Jeiver Xavier, akrab dipanggil Andre" Andrew mengikuti sang adik menyalami mereka
Al dan Triplets J juga memperkenalkan diri mereka satu persatu.
"Kak Aiden tidak usah ya?" Aiden berkelekar
"Humm... sepertinya nggak usah, ia nggak kak Andre?" Andreas melirik Andrew
"Harus dong perkenalan secara resmi" Andrew mendekati Aiden dan kembali memeluknya
"Baiklah...aku Aiden Immanuel Xavier, panggil kak Aiden aja, aku kakak tertua kalian dan hari ini datang menjemput kalian memenuhi wasiat papa" Aiden merangkul kedua adiknya dan kembali mencium mereka bergantian
"Makasih semua sudah mengunjungi kami, pasti kalian lapar kan, yuck pulang ke rumah" Andrew menuntun mereka ke pintu keluar menuju lorong
Aiden dan triplets J pun mengikuti langkah Andrew sementara Andreas menyusul paling belakang setelah memantau semua keamanan rumah bawah tanah sekaligus sebagai laboratorium
#gambar sumber internet