THE SIBLINGS

THE SIBLINGS
The Siblings 38



"Tentu saja ibu bisa menemui mereka kapanpun, sekalian minta tolong bisa nggak bapak dan ibu tinggal di rumah ini, untuk menjaga tempat ini selama Andrew dan Andreas untuk sementara ikut kami, Jelas pasti mereka akan kembali kesini suatu saat nanti ".


"Terima kasih banyak nak Aiden, kalau nak Aiden mempercayakan tempat ini kami jaga, dengan senang hati kami terima, ia pa?"


Pak Anton mengangguk setuju dengan pendapat sang isteri.


"Terima kasih kali gitu, berarti mulai besok bapak dan ibu tinggal di sini, sekalian minta tolong untuk mengurus surat pindah buat Andrew dan Andreas"


"Baik nak Aiden" Jawab ibu Susi


"Tapi maaf tuan sebelumnya, mengapa bukan tuan aja yang menjadi wali dari mereka?" pak Anton memberikan diri bertanya


"Hum, Pak tidak usah manggil tuan, panggil nama saja, anggap aku seperti Andrew dan Andreas, dan apakah aku bisa memanggil kalian seperti Andrew dan Andreas lakukan?"


"Tentu saja nak Aiden, kami sangat senang jika tuan Aiden berkenan memanggil kami demikian" tutur ibu Susi tersenyum ramah


"Baiklah Om dan Tante, aku belum bisa menjadi wali sah dari mereka karena umur aku baru 15 tahun , lagian menjaga jangan sampai identitas mereka bocor ke publik" Jelas Aiden.


"Maaf nak, bapak lupa kalau umur kamu baru lima belas tahun, habis dah besar dan dewasa sih" tutur pak Anton


"Tidak apa-apa Om..., oh iya jangan khawatir soal gaji Om dan Tante pasti aku bayar 2x dari gajinya saat ini"


"Nggak usah repot-repot masalah gaji, perusahaan yang Om kelola saat ini adalah pemberian tuan Xavier, jadi itu sudah cukup" Jawab Pak Anton


"Itu hal yang lain, aku nggak tahu hal tersebut, aku akan tetap membayar gaji kalian sebagai terima kasih aku, Karena om dan Tante sudah menjaga dan melindungi adik aku" tegas Aiden


"Maaf nak, bukan nolak...tapi cukup kami di izinkan untuk memantau usaha kami" tutur pak Anton


"Tidak ada masalah Om dan Tante, yang penting rumah ini terus terawat" tutur Aiden


"Baik nak Aiden terima kasih" Jawab mereka berdua


'Eh dah larut, silahkan Om Tante istirahat, pilih saja kamar yang ada di sini atau pun di lantai atas, tidak usah sungkan anggap rumah sendiri, yang penting jangan di gadai atau di jual" Aiden sedikit bercanda


"Ada - ada saja nak Aiden ini" Pak Anton dan istrinya ikut tertawa


"Oh hampir lupa nak Aiden sebelum kakek dan nenek meninggal dia menitipkan sesuatu untuk dan pesan untuk disampaikan pada nak Aiden atau kalau tidak menunggu Andrew umur 15 tahun" jelas ibu Susi mengeluarkan kotak kecil yang dibawanya.


kotak kecil tersebut selalu di bawah jika ingin menemui Andrew dan Andreas berharap bisa bertemu dengan Aiden juga meskipun itu sepertinya mustahil. Tapi malam ini terjawab sudah, Aiden sudah didepan mata.


Aiden segera mengambil dan mengantonginya belum berniat membukanya.


"Om Tante, terima kasih, tapi sebelum istirahat bisa minta waktunya sebentar untuk doa?"


"Tentu nak Aiden" jawab mereka


Aiden segera memanggil adik - adiknya dan berkumpul di ruang keluarga seperti biasa ibadah singkat sebelum tidur.


Aiden merangkul kedua adiknya dan berjalan menuju kamar Andrew dan Andreas. Kamar tidur kedua adiknya memang hanya 1 tapi memiliki 2 tempat tidur.


Hal ini disengaja oleh kakek dan nenek supaya lebih mudah menjadi mereka.


Tapi baru beberapa saat yang lalu Aiden menemukan sebuah ruangan rahasia di kamar itu. Dengan tak sengaja menyentuh cermin besar di sudut ruangan dekat lemari Andrew.



Cermin besar itu merupakan pintu ke sebuah kamar yang merupakan itu kamar desain khusus untuk dirinya.


Aiden memastikan bahwa kedua adiknya belum tahu fakta tersebut karena adiknya belum cerita tentang itu.


Aiden memastikan kedua adiknya tertidur baru akan masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian dengkuran halus dari keduanya terdengar, Aiden memperbaiki selimut mereka memastikan bahwa kedua betul - betul tertidur.


Aiden pelan - pelan menggeser pintu tersebut dan menutup nya kembali. Aiden mencari tombol lampu dan menghidupkan nya. Mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru kamar.


Sempat bingung karena tempat tidur tidak ada, tapi setelah memperhatikan dengan teliti akhirnya Aiden menemukannya.


Ternyata tempat tidurnya adalah tempat tidur lipat dan menyatu dengan dinding.



"Oh my God... papa merancang rumah ini sedetail ini, bahkan menyimpan beberapa ruang rahasia" monolog nya


Aiden duduk di tempat tidur setelah mengganti seprei dan segera mengeluarkan kotak kecil yang diberikan Tante Susi tadi dan membuka nya.


Aiden menemukan sebuah pesan singkat pada kertas memo. Setelah membaca Aiden menyimpan kembali dan membuka kotak yang lain masih dalam kotak tersebut.



Ternyata berisi beberapa Chip, Aiden tercengang. "Ini pasti hasil penelitian papa yang belum di publish" monolognya dan menyimpan kembali Chip tersebut.


Lanjut membongkar dan menemukan satu set seperti colokan lampu. "Apa ini terus apa maksud nya?" Aiden terus bermonolog


"Pa, ada - ada aja sih"


Aiden segera mencari stop kontak yang ada dalam kamarnya.



Beberapa lama akhirnya dia menemukan di belakang sebuah meja dalam kamar tersebut . Aiden segera mencolok nya dan betapa terkejutnya karena colokan listrik tersebut merupakan kunci lemari kecil.



(Sumber gambar google dan pinterest)