
Aiden semakin penasaran dengan isi lemari kecil tersebut dan segera membongkar isinya.
"Oh my God, papa idenya gokil abis, nggak pernah mikir akan berpetualang di rumah sendiri bahkan di kamar aku, pantas Andrew dan Andreas begitu jenius" lagi - lagi bermonolog
Aiden tidak mengantuk justru semakin bersemangat membongkar rahasia dari kamar miliknya.
Setelah membongkar isi lemari kecil tersebut dan menemukan beberapa informasi. dia menyudahi dan berjalan ke rak buku dan mengamati dengan teliti pasti di balik ini ada sesuatu dan tepat sekali ternyata rak buku tersebut pintu ke kamar mandi.
lagi - lagi Aiden tercengang di buatnya.
Aiden menemukan meja kayu bulat di sudut ruangan dan mencari sesuatu pasti meja ini bukan meja biasa. Aiden mencoba dan menemukan satu tombol di bawah meja tersebut dan kembali tercengang
Setelah menekan tombol tersebut meja itu terbuka seperti bintang dan di sudut ruangan tergeser pulang dinding yang mengarah kan dia ke sebuah ruangan.
"Makasih papa, menyediakan ini semua"
liriknya
Aiden segera masuk keruangan tersebut ternyata merupakan tempat monitor di rumah ini dan juga termasuk laboratorium bawah tanah.
Tapi jika tidak diperhatikan dengan baik, maka tidak akan ketahuan jika itu adalah tempat monitor tapi kumpulan kaca biasa sebagai dinding, meja dan benda lainnya bahkan kursinya pun dari kaca.
Aiden tidak habis terus bersyukur dengan semua fasilitas yang didapat saat ini, begitu detail sang ayah mempersiapkan untuk mereka.
Kemudian Aiden terpaku dengan sebuah kamera yang cukup unik dan sangat menarik perhatian Aiden.
Saat Aiden hendak membuka ternyata lagi - lagi di deteksi dengan password. Aiden mencoba beberapa kali hingga akhirnya bisa terbuka.
Aiden menonton dan ternyata berisi pesan ayah untuk dirinya. Inti pesan untuk menjaga Mama dan kedua adiknya. serta melanjutkan semua penelitian sang ayah yang belum tuntas.
Dan disitu pula terkuak siapa sebenarnya dalang di balik kecelakaan ayahnya. Mungkin tidak sengaja terekam saat sang ayah berselisih pendapat.
"Hum...pantas kematian ayahnya dianggap kecelakaan biasa ternyata orang kepercayaan papa yang berkhianat. ya Tuhan saat gimana menyampaikan sama mama dan om Hendry?" monolog Aiden lagi menghela napas panjang
Setelah memenangkan hati dan pikirannya Aiden pelan - pelan keluar dari kamar rahasianya itu dan naik ke tempat tidur Andreas tanpa menggangu tidur sang adik.
Aiden memejamkan mata dan beberapa menit kemudian dengkuran halus darinya terdengar menandakan dia sudah memulai petualangannya di dunia mimpi.
Keesokan harinya seperti biasanya mereka kembali bangun pagi, meski Aiden tidurnya hanya hitungan jam tapi tetap bangun pagi itu sudah terbiasa dia lakukan bahkan sejak dirinya baru 4 tahun.
Melakukan saat teduh sejak sebelum membangun kedua adiknya dan mengajak ke ruang keluarga disana triplets J dan Al sudah menunggu sementara tangan Susi sibuk di dapur.
Mereka melakukan ibadah sebelum beraktifitas hari ini dan semakin ramai dengan kehadiran om Anton dan istrinya.
"Andrew dan Andreas silahkan berkemas ikut kakak liburan, untuk rumah ini jangan khawatir ada Om dan Tante yang menjaganya untuk kalian, hanya sebentar kakak janji akan mengantarmu kesini" tutur Aiden
"Hore...kita liburan" Andreas antusias menerima ajakan sang kakak sambil terus menari - nari mengitari sang kakak
Andrew tak kalah senang tapi dia menanggapi biasa saja tidak ingin memperlihatkan pada kakaknya.
"Dreas. .. ayo berkemas kalau mau ikut" Andrew menegur sang adik pusing melihatnya terus berputar - putar sementara Aiden hanya tersenyum sambil menggeleng kan kepala melihat tingkah adik bungsunya itu