THE SIBLINGS

THE SIBLINGS
The Siblings 28



Andrew membawa mereka menuju rumah tempat kediaman mereka menyusuri lorong di bawah tanah yang menjadi penghubung antar kedua rumah tersebut.


"Masih jauh nggak, aku lapar?" Jeider tak sabar


"Hei...bocah bacot amat loh, baik - baik kami dah terima kehadiran kalian" Andreas dengan sinis menanggapi nya


"Dreas, no... ngomong tu yang sopan" Andrew menanggapi sang adik


Aiden tersenyum bangga melihat Andrew yang masih umur segitu tapi tahu sopan santun meski tidak dengan asuhan orang tua. Aiden juga cukup paham dengan sikap Andreas.


"Tada... selamat datang di kediaman kami" Andrew mempersilahkan kakak dan timnya menuju ruang tamu setelah sampai ke kediaman mereka.


"Aku panggilannya kakak ya buat kalian karena sepertinya aku paling bungsu disini" Andreas ikut duduk di sofa


"Pastinya.... makanya sopan kalau ngomong!" timpal Jeder.


"Hehehe...ya maaf tadi, Dreas khilaf" Andreas menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Maaf ya tunggu sebentar...aku baru mau siapkan makanan" Andrew melangkah ke dapur setelah mengantar minuman untuk tamunya


"Aku bantuin ya!" Al menawarkan bantuan karena memang Al suka memasak pula


"Boleh kak Al kalau tidak merepotkan" tuturnya


sementara Andreas mengajak triplets J ke ruang bermainnya dan sontak Aiden pun mengikuti mereka


triplets J takjub dengan ruang bermain meski tidak berbeda jauh dari ruang bermain yang mereka miliki tapi disini memang lebih lengkap.


"Silahkan bermain ya, sambil nungguin kak Andrew masak....ah aku lupa debu dimana dari tadi aku nggak liat" Andreas berlari keluar ruang bermain


Triplets J dan Aiden hanya melongo menyaksikan reaksi Andreas


"Kak... Dreas tadi bilang debu, debu siapa atau masih ada anak yang lain selain mereka?" Jeider melontarkan pertanyaan beruntun


"Entahlah...kita liat aja nanti" Jeivior menimpali


"Kak Aiden... rumah ini keren banget, ini punya Papa kak Aiden?" tanya Jeivic penasaran


"Ya... mungkin karena belum tahu banyak tentang peninggalan papa" Aiden menjawab sekenanya karena masih fokus mengamati setiap sudut ruang yang memang didesain secara detail dan tak ada bedanya dengan ruang bermain yang dia miliki Mension yang ditempati saat ini bahkan yang ada di LN.


Triplets J asyik mencoba semua wahana permainan disana tiba - tiba dikejutkan dengan kehadiran robot yang menyapa mereka satu persatu mengajaknya kenalan di susul Andreas dan debu sang anjing kesayangan


"Ini debu?" Aiden menunjuk pada robot



"Na kenalin itu teman aku dan ini si debu sahabat aku" Andreas menjelaskan


"Wao.... robotnya keren banget" Puji triplets J dan Aiden bersamaan


"Itu kak Andre yang buat untuk hadiah ulang tahun aku jadi aku belum kasih nama" jelasnya


"Kalau yang ini namanya debu, pemberian kakek dan nenek" lanjutnya


"debu kenalin ini kakak aku dan teman-teman nya" Andreas mengajak debu ngobrol seperti biasanya


debu menanggapi dengan mengelus - ngeluskan kepalanya ke kaki Andreas



"Anjing nya imut bangat, pintar lagi" puji mereka lagi


"ya gitulah, hanya mereka ini teman bermain aku kalau kak Andre belum pulang" tuturnya dengan nada sedih


Aiden terhenyak mendengar curahan hati sang adik, ada rasa sedih mengingat kehidupannya dengan dikelilingi orang yang menyayangi dirinya, miris kehidupan sang adik, mereka tidak punya orang dewasa yang menjaga selama ini.


"Tapi mengapa kalian tidak langsung mencari tau keberadaan kakak dan mama kamu?" Jeivior sontak bertanya


"karena baru beberapa bulan terakhir kami menemukan fakta tentang itu, setelah aku tak sengaja menemukan ruang rahasia di kamar kakek" Jelas Andreas


"Waaa... rupanya ruangan rahasia banyak pula disini?" tutur Jeider


"Ya dan pasti kalian akan semakin terkagum- kagum dengan kediaman kami, tapi sebelumnya mari makan karena dari tadi pasti dah kelaparan" kini Andrew yang menimpali pembicaraan mereka


"Yuhui makan" tutur Andreas dengan riang segera berlari keluar ruangan dan disusul yang lain karena memang sudah lapar sejak tadi