
Beberapa jam kemudian Andreas selesai mendesain bentuk softlens lengkap sesuai warna mata manusia yaitu coklat, hitam, biru dan beberapa warna lainnya bahkan dia juga desain seperti mata boneka.
Sementara Andrew masih berkutat dengan peralatan nya. Dia merancang softlens nya sebagai kamera dan bisa dioperasikan dengan hanya kedipan mata untuk mengambil gambar atau merekam gambar dan lirikan mata untuk mengoperasikan mikroskop memperbesar objek yang akan diamati, seperti fungsi mikroskop digital yang digunakan di peralatan kedokteran saat operasi tapi saat ini tidak perlu layar karena bisa dilihat langsung dengan bantuan softlens tersebut.
"Kak Andre gimana desain nya? Sudah perfek?" tanya Andreas pada sang kakak
Andrew melirik sekilas desain Andreas, yang memang keahlian nya tak perlu diragukan lagi karena selalu detail.
"sudah perfek Dreas, silahkan cetak tapi cetak sesuai ukuran mata kita!" Perintah Andrew yang kembali fokus dengan pekerjaan nya.
"Siap lanjut" tutur Andreas semangat
Andreas berlari ke lemari untuk mencari bahan yang akan digunakan, banyak dia temukan dan diambil beberapa untuk dijadikan percobaan mana bahan yang paling tepat sesuai yang minim resiko iritasi saat penggunaan yang lumayan lama.
Andrew dan Andreas kembali fokus ke tugas mereka bdan kembali tidak ada komunikasi.
Andreas mencetak desain nya ke beberapa bahan yang berbeda kemudian mengetes kenyamanan saat digunakan, tapi dia belum menemukan yang pas.
Sementara Andrew terus mendesain perangkat yang akan digunakan, dia menyediakan memory card yg berfungsi untuk penyimpanan data dan kamera sendiri dirancang pada permukaan softlens saja.
Andreas kembali mencari beberapa bahan yang lain karena bahan yang digunakan tadi belum ada yang pas. Dia begitu Antusias tapi semua bahan yang sudah tercetak tidak langsung dibuangnya melainkan dia tampung di sebuah wadah untuk percobaan yang lain.
Andrew sudah menyelesaikan desain kamera yang super mini dan hanpir tidak kelihatan karena transparan sehingga dia simpan di semua kotak yang telah dipersiapkan.
"Kak Andre aku lapar" teriak Andreas
Andrew melirik jama tangannya "what??" Pantas Andreas lapar sudah jam 8 sudah
"Yuck... Dreas kita istirahat besok kita lanjutkan" ajaknya
"ok kak"
Mereka membereskan peralatan mereka kemudian keluar tak lupa mengunci pintu.
Andreas mengikuti sang kakak ke kamar mandi membersihkan diri dan berganti kemudian kembali ke dapur untuk mengisi perut yang hanya sepulang sekolah disisi bahkan cemilan sore pun mereka lupa.
Andrew mempersiapkan makanan dengan cekatan seperti biasanya dan Andreas menyiapkan meja, kemudian menyiapkan piring dan gelas.
Satu jam kemudian makan tersaji di meja.
"Maaf Dreas kakak lupa waktu, sampai cemilan sore lupa, jadi terpaksa kamu kelaparan" tutur Andrew merasa bersalah karena membuat sang adik kelaparan
"Besok - besok ingatin Andrew ya, biar makan malam kita nggak larut seperti ini" tutur Andrew
"Hum, nanti liat kalau Andreas ingat, soalnya proyek kita lebih penting dari pada urusan perut" timpal Andreas sambil terus mengunya makanannya
"Ya, otomatis urusan perut tetap no satu, kalau tidak ada isi perut mana otak dan tenaga kamu bisa kerja" protes Andrew
"Otak aku tetap bisa kerja kok, bahkan tidak makan satu bulan" jawab Andreas asal
"Ya ya ya satu bulan?, ini baru berapa jam tidak terisi tapi sudah minta makan mana mau satu bulan, satu hari saja tidak tahan" ledek Andrew
"Ya kan Andreas kasihan sama kak Andre dari tadi garuk-garuk kepala itu berarti pikiran kakak sudah buntu, jadi Andreas bantu" jawaban Andreas membalas ledekan sang kakak
"Dasar bocah, mana mau kalah, biar aja kalau memang lapar" degus Andrew
Andreas lagi - langi hanya nyengir melihat tampang kesal Andrew
"Kak Andre, aku mau pasang kamera di robot aku boleh?" pinta Andreas tiba-tiba
"Untuk?" balik Andrew bertanya
"Pengen dengar kata teman-teman aku tentang kita, soal Andreas sering dengar mereka ngomong kita tapi saat Andreas gabung mereka pada diam, kan mereka biasanya pinjam robot aku main jadi aku tinggal rekam aja, amankan" jelas nya
"Terserah kamu tapi hati - hati jangan sampai ada yang curiga, kita akan semakin jadi perhatian kalau sampai itu terjadi, aku tidak mau karena kita belum tau apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kenyataan kedepan Dreas" tutur Andrew bijak
Sebenarnya ingin menjelaskan pada Andreas posisi mereka tapi dia belum sanggup karena menurutnya Andreas terlalu kecil dan belum tentu bisa menerima fakta tentang mereka.
"Kak Andre tidak perlu khawatir masalah itu gampang Andreas hendel, ah kak Andre gimana kalau kita pasang kamera pengintai sekitar rumah" tutur Andreas serius
Percakapan itu terus mewarnai makan malam mereka
"Memang nya kenapa harus pasang kamera pengintai segala?"
"Kak Jujur beberapa hari ini seperti rumah kita sering dipantau oleh orang asing" tuturnya
"Maksudnya?... kenapa nggak cerita sama Andrew" cecar Andrew tak sabar
"Maksudnya gini, setiap kali aku pulang aku sering melihat beberapa orang terus bolak balik di depan gerbang kita dan biasa ngintip ke dalam tapi nggak sampai masuk" tutur Andreas memulai ceritanya
#maaf guys telat up soalnya di daerah atuhor PLN bermasalah jadi imbas ke jaringan... tetap tunggu in dan terus dukung supaya athor semangat up ya 🙏