
"Kak, Abigail siapa?" suara Andreas memecah keheningan
"Ada apa dengan Abigail?, terus Abigail yang mana?" cecar Aiden
"Dokter di Dream Hospital"
"Dream Hospital?, bukannya itu milik Uncle Hendry?" selah Andrew
"Oh yang itu?...kak Abigail, anaknya uncle Hendry yang meninggal karena dibunuh teman - temanya...emang ada apa?" Aiden kini penasaran
"Sepertinya kematian kak Abigail ada sangkut pautnya dengan kematian Daddy" ujar Andreas sambil menyodorkan data yang dia dapatkan
Belum sempat Aiden melihat data tersebut tiba-tiba telponnya berdering. Aiden pun segera mengangkatnya.
"Ya, Pak ada apa?" sapa-nya di telpon
"...."
"Baik pak aku segera pulang" Aiden mengakhiri panggilan tersebut
"Andrew, Andreas untuk saat ini kita harus pulang ke kota ada masalah di perusahaan, kakak harus tangani" kata Aiden dan segera bergegas membereskan peralatan dan data yang sudah mereka temukan
Tanpa bantahan apapun Andrew dan Andreas segera menyusul sang Kakak.
Dalam perjalanan pulang tidak banyak percakapan yang terjadi karena mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Aiden fokus menatap jalanan yang dilalui sambil memikirkan hal yang menimpah perusahaan, sedangkan Andrew dan Andreas fokus dengan pikiran apa hubungan pembunuhan Abigail dan Daddy-nya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka pun tiba di kota, sementara sang momy harus keluar negeri karena perusahaan disana juga mengalami hal serupa.
"Andrew, Andreas masuk kamar kalian, terus jangan keluar sebelum kakak balik kesini, kalau mau makan atau minum sesuatu ambil atau buat sendiri tapi minta tolong sama ibu (panggilan maid di mension mereka) untuk tes terlebih dahulu jadi 15 menit setelah di tes oke!" pinta Aiden
"Siap kak" jawab mereka serentak
"Kakak ke kantor dulu" pamitnya dan segera meninggalkan mension
"Kak Andrew.... kak Abigail meninggalkan karena di bunuh teman - temannya seperti hanya pengalihan kasus dalangnya belum tertangkap" tutur Andreas
"Itu juga yang aku pikirkan, karena sempat aku baca semua tentang kasus nya" jawab Andrew
"kak Andre aku lapar, yuk makan!"
"Yuk, kita makan dulu" ajaknya
"Tapi kak kenapa kita harus nyiapin sendiri makanannya?"
"Ya kita kan sudah bisa ngapain harus minta orang lain kalau kita bisa kerjakan sendiri, lagian aku ngerti maksud kak Aiden" tutur Andrew
"Hum...aku baru paham, bukankah kita tidak boleh percaya sama siapapun di sini sebelum pelakunya tertangkap?" celoteh Andreas
"Na...tumben mikir..." ledek Andrew sambil tertawa
"Ais dasar" Andreas menghela nafas kasar
"Kak Andre, yuk kita pasang kamera pengintai disini tapi tidak boleh ketahuan sama siapapun, terus di perusahaan juga kita bisa jalan-jalan kesana" usul Andreas
"Boleh tapi kita harus disesuaikan sama kak Aiden"
"Tuan muda, maaf nanti kami siapkan makanannya" tutur salah seorang maid saat melihat kedua bersaudara itu menyiapkan makanan sendiri
"Nggak usah repot-repot ibu, kami bisa kok, kalau nggak bisa baru minta bantuan" ujar Andrew
Setelah makan siap akhirnya mereka berdua makan dan tentu tak lepas dari pengawasan seseorang di sudut ruangan.
"Dreas nggak usah ngeliat ke belakang ya, sepertinya kita diawasi, salah seorang bodyguard kakak, perangainya kelihatan aneh" tutur Andrew
"Ya...aku baru mau ngasih tau kak Andre, makanya aku usul untuk masang CCTV rahasia di sini karena mereka bisa jadi menghindari CCTV yang ada" tutur Andreas
Mereka berdua terus bercakap cakap seperti ngobrol biasa tapi menggunakan bahasa asing yang tak seorang pun di rumah ini paham