
Setelah beres Aiden dan rombongan minta ijin ke Om Anton dan Tante Susi. Demikian pula Andrew dan Andreas, mereka berdua pamit dengan memeluk erat keduanya Andrew dan Andreas sudah menganggap sebagai orang tua mereka. Sejak kecil hanya 4 orang yang selalu bersama mereka, kakek dan neneknya dan pasangan suami istri itu.
Om Anton dan Tante Susi pun memeluk Andrew dan Andreas dengan pelukan erat mungkin hanya kali ini bisa memeluk adik kakak itu karena kedepannya Andrew dan Andreas akan resmi masuk keluar Xavier dan tidak sembarang orang bisa menemui mereka.
"Om dan Tante Susi, Andrew pamit ya... Andrew janji akan kembali ke rumah ini, Om dan Tante jangan khawatir, kami tidak akan ingkar dengan janji pada kakek dan nenek "
"Ia Om dan Tante Andreas orangnya tepat janji, jadi jangan khawatir, lagian dirumah ini seru berpetualang tanpa ada gangguan"
kedua orang tua itu tersenyum bahagia, melihat keceriaan the Siblings itu. Mungkin karena sejak awal mereka jarang diasuh oleh orang dewasa sehingga membuat mereka harus mandiri bahkan berpikir dewasa sejak dini pula.
Mereka menikmati perjalanan ke kota dengan ngobrol banyak di mana Andreas lah sering jadi pemicu gelak dengan candaan receh nya.
Tak terasa kini mereka telah sampai ke kota, Aiden terlebih dahulu mengantarkan triplets J dan Al ke rumah mereka masing-masing. Barulah mengajak sang adik ke kediaman keluarganya.
Pertama Aiden mengajak sang adik ke Mension peninggalan sang papa yang didesain unik dan mewah dengan pengamanan yang cukup canggih dengan teknologi keamanan modern.
Dimana dipasang kamera pemantau dengan kapasitas jangkauan 20 m dengan analisis yang akurat. Serta pagar dengan senjata rahasia jika keadaan membahayakan dan di jaga oleh beberapa orang saja kepercayaan keluarga Xavier.
Andrew dan Andreas cukup kagum dengan kediaman tersebut. Meski tidak terlalu berbeda jauh dari kediaman mereka selama ini.
Di rumah tersebut Andrew dan Andreas tidak terlalu canggung karena hanya beberapa orang saja yang ada. Andrew dan Andreas seperti biasa selalu sopan dan menyapa dengan ramah siapapun tanpa memandang status.
Justru dia semakin rendah hati dan memperlakukan semua orang sama, ini ajaran dari orang tua dan keluarga besarnya.
"kak Aiden, mamanya mana kok nggak ada?" celetuk Andreas penasaran
"Oh, sabar mama masih di luar negeri, Minggu depan baru balik, sekalian kesempatan kita untuk merancang suprise dalam perayaan ulang tahun mama"
"Oh...ide yang bagus, tapi kak aku takut bertemu mama apa akan nerima kami?" tutur pesimis Andreas
"Hei sudah berkali-kali, kakak ngomong mama pasti senang, tapi belum tepat saat ini, kita siapkan untuk kado ultah dia" tutur Aiden lembut
"Silahkan masuk kamar kalian siap - siap, kakak mau ajak ke suatu tempat" lanjut nya
Andrew dan Andreas bergegas di antar oleh masing-masing seorang maid yang disiapkan khusus oleh Aiden.
"Kak Aiden, kok ada ibu ini?" Andrew balik badan untuk bertanya karena sejak awal di ikuti oleh maid tersebut
"Oh, ia mulai saat ini ibu ini yang bertanggung jawab atas keperluan kalian, jadi kalau butuh sesuatu langsung minta tolong sama ibu ini" Jelas Aiden
Memang Aiden sejak kecil selalu memanggil maid perempuan yang sudah berumur dengan sebutan ibu, kalau laki- laki bapak atau yang masih muda panggilnya kakak, ini ajaran keluarga besar untuk menghargai para maindya