
Berdiri kebingungan di depan pintu apartemen Anthony, akhirnya Dona menekan belnya pelan. Ia baru akan menekannya untuk yang ketiga kali ketika terdengar suara pintu terbuka dari dalam.
Tampak Anthony berdiri di depannya dengan rambut acak-acakan. Ia tampak sangat berantakan. Jubah tidurnya melindungi dirinya yang hanya berkaos tipis di dalamnya. Ia mengenakan celana tidur kotak-kotak panjang yang tampak lusuh dan kusut. Terlihat jelas, kalau pria ini tadinya sedang bergelung di tempat tidur.
Melihat orang yang ada di depannya, kedua mata gelap Anthony yang tadinya sayu mulai berbinar cerah.
"Dona...!"
Suara Anthony yang jauh lebih serak membuat kedua alis Dona berkerut. "Kau sakit?"
Berdehem pelan, pria itu mengangguk. "Hem. Sedikit. Alergi."
Tampang pria itu yang sedikit pucat membuat Dona otomatis mengarahkan telapak tangannya ke kening Anthony, membuat pria tinggi itu sedikit terkejut. Sambil mengerjapkan mata, wanita itu memindahkan telapakannya ke leher pria itu yang terasa sangat panas saat ini.
"Lebih baik kau memanggil dokter. Badanmu sangat panas sekarang."
Kepala Anthony menggeleng pelan. "Tidak usah. Aku sudah minum obat. Paling sebentar lagi sembuh."
Tatapan Dona terlihat skeptis di depannya. "Kau sudah makan?"
"Hem..." Kedua mata Anthony tidak mau menatap Dona. Jelas pria itu belum mengisi perutnya dengan apapun pagi ini.
"Kau belum makan. Bagaimana kau bisa langsung minum obat?" Nada suara Dona terdengar meninggi.
"Hem..." Lagi-lagi, pria itu tidak mau menatap wanita di depannya. Terlihat ia sangat gelisah.
Kesal, telapak tangan Dona mendorong d*da Anthony keras. Membuatnya mundur ke belakang. Wanita itu memaksa pria itu untuk masuk ke apartemennya sendiri.
Memasuki apartemen Anthony, Dona mengedarkan pandangannya. Di luar dugaan, apartemen itu sangat bersih dan apik. Sama sekali bertolak belakang dengan tampang pria itu yang terlihat berantakan, bahkan cenderung berandalan.
"Don- Dona..." Gugup, Anthony berusaha meraih lengan Dona yang langsung ditepis wanita itu.
"Minggir!"
Melihat kulkas yang ukurannya cukup besar, Dona membukanya. Di dalamnya terdapat berbagai jenis bahan masakan yang tampak segar dan siap digunakan. Tampak pula sejumlah botol air mineral dan beraneka ragam bumbu pun terpampang di dalamnya. Melihat hal ini, Dona mendelik memandang pria yang tampak berdiri dengan gugup itu.
"Katanya kau tidak bisa masak? Omong kosong apa itu!?"
Kepala Anthony tertunduk dalam. Ia seperti anak kecil yang ketahuan berbohong oleh ibunya.
"Kau! Duduk di sana!"
Jari telunjuk Dona mengarahkan Anthony untuk duduk di salah satu sofa di sana.
Menurut, pria itu duduk dan memperhatikan wanita yang ada di pantry dapur dalam diam. Entah kenapa, tapi situasi ini membuatnya merasa hangat dan senang. Tanpa sadar, muncul senyuman di bibirnya yang tersembunyi jenggot tebalnya.
"Makanlah dulu. Baru istirahat."
Wanita itu juga mengulurkan segelas minuman hangat yang dibawanya tadi dari toko roti.
Membuka tutupnya, Anthony bertanya gembira. "Kamu tahu kesukaanku?"
Terkekeh geli, Dona hanya menjawab santai. "Kau gila? Itu dari Thomas. Katanya kau sakit tadi, makanya dia memberikan minuman itu padaku."
Jawaban itu membuat Anthony cemberut, tapi pria itu tetap meminumnya. Rasa teh herbal yang hangat tampak membuat perutnya tenang dan tenggorokannya sedikit lega. "Terima kasih..."
Mengulurkan sendok bersih, Dona kembali memaksa pria itu. "Makanlah. Setelah itu istirahat lagi."
Sangat bersyukur dengan kehadiran wanita itu, Anthony meraih sendok itu dan mulai memakan buburnya. Mereka berdua berada dalam keheningan yang nyaman. Dona pun tampak santai meraih remote TV dan melihat-lihat channel yang ada di sana. Mereka seperti teman yang telah kenal lama saja.
Dengan perut yang kenyang telah terisi dan efek obat yang baru diminumnya sekitar satu jam yang lalu, perlahan Anthony mulai merasa mengantuk.
Pelan, ia menyelonjorkan kedua kaki panjangnya ke bawah sofa dan menyenderkan kepalanya di bahu Dona. Tampak wanita itu belum sadar dengan situasi ini, karena terlalu fokus dengan berita yang ada di TV.
Kedua mata pria itu perlahan menutup dan tidak butuh waktu lama, ia pun telah berada dalam dunia mimpi. Ia bahkan tidak sadar ketika kepalanya perlahan turun, mengusap d*da wanita di sebelahnya dan jatuh ke pangkuannya. Anthony benar-benar merasa lelah dan sakit saat ini.
Terkejut dengan kepala Anthony yang berada di pangkuannya, membuat Dona hanya bisa membeku. Melihat posisi pria itu yang tidak nyaman, ia berusaha membenarkan letak kepala pria itu di pangkuannya. Secara tidak sadar, Anthony merubah posisinya menjadi telentang dan mengangkat kedua kakinya otomatis ke atas sofa. Ia benar-benar telah tertidur di paha wanita itu dengan nyenyak.
Baru kali ini Dona mengalami pengalaman seperti ini lagi. Dulu, kakaknya seringkali tertidur di pahanya dan ia akan menjahili pria tersebut dengan menarik-narik bulu hidungnya. Mengingat sosok kakaknya yang tidak lagi ada, membuat mata Dona perlahan memerah.
Berusaha mengendalikan dirinya, wanita itu menunduk dan memperhatikan pria di bawahnya. Ia sedikit mengernyitkan alisnya ketika menyadari sesuatu.
Mengusap pelan poni Anthony yang menutupi keningnya, Dona dapat melihat profil muka pria itu dengan lebih jelas. Wanita itu membayangkan muka Anthony dengan rambut dan jenggot yang lebih rapih.
Kedua alisnya yang tebal melengkung sempurna, menaungi kedua matanya yang sedang terpejam. Sedikit menunduk, Dona melihat bulu matanya yang panjang dan lentik. Hidungnya lurus dan sempit. Semakin penasaran, ia sedikit menyibak kumis Anthony yang menutupi mulutnya dan cukup kaget. Bibir pria itu bentuknya seksi. Tampak sedikit belahan di bibir bawahnya yang saat ini pucat karena ia sedang sakit. Kulit pria itu juga terlihat bersih dan terawat. Sama sekali bukan tipikal kulit seorang pegawai rendahan.
Menjauhkan kepalanya, Dona semakin mengamati tubuh pria yang sedang tidur itu. Bentuk tubuhnya memang tersembunyi dalam pakaian kedodoran yang dikenakannya, tapi Dona yakin kalau tampilan fisik Anthony tidak sama seperti yang ditunjukkannya selama ini.
Nafas Dona terasa mulai memburu dan jantungnya berdebar kencang. Perlahan, ia mer*mas pelan lengan pria itu yang terlipat di perutnya dan menelan ludah. Lengan itu terasa keras dan berotot padat.
Kedua mata wanita itu pun berputar dan mengamati keseluruhan ruangan dengan lebih intens. Bentuk apartemen pria ini sama persis seperti miliknya, tapi barang-barang yang dimilikinya jelas adalah kualitas yang terbaik. Tidak mungkin pria yang bekerja hanya sebagai helper di toko roti, dapat memiliki barang-barang seperti yang ada di ruangan ini dengan mudah.
Rasa marah perlahan mulai terkumpul di kepalanya. Siapa orang ini!?
Tanpa sadar, Dona meletakkan telapak tangannya di perut bagian bawah Anthony dan sedikit menekannya. Sama sekali tidak disadarinya, kalau posisi tangannya telah membangkitkan sesuatu yang sedang tertidur.
Merasakan gesekan yang menimbulkan g*lenyar aneh itu, perlahan kedua mata Anthony membuka dan langsung berhadapan dengan mata cokelat Dona. Keduanya tidak berkedip dan bertatapan dalam diam.
Kedua mata gelap pria itu bergerak-gerak dan tangan kirinya meraih tangan Dona yang ada di bawahnya. Semakin menekankannya ke tubuhnya sendiri. Suara pria itu sangat serak dan terdengar penuh h*srat saat berbicara. "Dona..."