
***Song of the day: Imagine Dragons - Follow You***
Jawaban itu membuat Tim tertawa keras. "Bahasa? Kau ini ternyata pria yang tidak waras, Bass. Beberapa menit yang lalu kau baru saja mengakui kalau kau tidak bisa berbahasa Jepang dan kini, kau menantangku dari segi bahasa? Aku baru mengetahui kalau teman Tuan Bale, ternyata seg*la ini!"
Baru saja Tim mengambil cangkirnya dan akan meminumnya, ketika terdengar lantuan bahasa asing yang cukup jarang didengarnya. Aksennya pun sangat berbeda dan tidak menyiratkan kalau yang mengatakannya adalah pria yang sedang duduk di depannya ini.
Telinga Tim yang sensitif dapat menangkap kata-kata itu dan terpesona, tapi ia sama sekali tidak mengerti artinya. "Bahasa apa itu?"
"Mandarin."
Kali ini, Tim terdiam. Ia merasa tertantang. Pria itu multilingual, tapi ia sendiri hanya menguasai beberapa bahasa asing dan aksennya pun belum sempurna. Bahkan untuk bahasa Inggris dan Jepang, ia masih memiliki sisa aksen Italia yang kental dan membuatnya kesal karena belum bisa menyempurnakannya. Tim belum bisa mengalahkan Damian dari sisi kekuatan dan dari sisi bahasa, atasannya itu juga lebih superior darinya.
Dan kali ini, ia bertemu lagi dengan pria yang lebih superior dalam berbahasa.
Sedikit geram tanpa sebab yang jelas, Tim bertanya pelan. "Apa yang tadi kau katakan padaku?"
Kedua mata ungu Maximus bersinar jenaka. "Kau yakin ingin tahu?"
"Kau mengata-kataiku?"
"Mungkin saja. Tapi kalau kau mau menjelaskan apa yang kau katakan pada pelayan tadi, maka aku akan mengatakannya padamu. Ini negosiasi yang adil bukan?"
Terbit senyum miring di bibir Tim yang merah. Kepalanya meneleng. "Akhirnya aku paham, kenapa Tuan Bale mau berteman denganmu, Bass. Baiklah. Pelayan tadi mengatakan kalau Michele Morrone sedang dalam perjalanan, dan sudah beberapa bulan ini orang itu tidak pernah ke restoran ini lagi."
Mendengar itu, kepala Maximus menunduk. Informasi itu sama sekali tidak berguna, karena ia sendiri sudah mencoba untuk menghubungi Michele dan tidak ada hasilnya. Michele selalu mengganti nomor ponselnya jadi tidak ada gunanya menyimpan satu pun.
"Aku tahu kau sedang mencari seseorang saat ini dan satu-satunya orang yang tahu, hanyalah si Morrone itu. Bukan begitu, Maximus Bass?"
Tebakan yang jitu itu membuat kepala Maximus mendongak, dan ia menelan ludahnya. "Benar. Apakah kau bisa membantuku?"
"Untuk yang satu itu, aku tidak yakin, Bass. Karena aku tidak mau membantu untuk menemukan seseorang, yang memang tidak ingin ditemukan. Kau tahu sendiri kenapa dia melakukannya."
Dengan lemah, Maximus mengangguk tapi rautnya sedikit cerah dengan perkataan Tim selanjutnya. "Tapi aku mau membantumu untuk hal lain. Khusus untuk kasus yang telah Tuan Bale ceritakan padaku, apa saja petunjuk yang sudah kau punya? Aku akan memerlukan beberapa informasi sebelum melakukan penggalian lebih jauh, terutama karena ini menyangkut keluargamu sendiri."
"Kau mau membantuku? Kenapa?"
"Sama seperti alasan yang kau berikan pada Tuan Bale. Kami para keluarga mafia juga sudah mulai muak dengan tindak-tanduk keluarga Berlusconi terutama Amadeo, kakak tirimu itu. Ia serampangan melakukan semuanya dan pihak yang berwajib selalu menuduh kami, keluarga mafia sebagai pelakunya."
Jari-jari Tim yang panjang mengetuk-ketuk cangkirnya pelan. "Kau tentu tahu, selalu ada yang namanya perebutan kekuasan dan keluarga Berlusconi sudah mulai menjamah ranah yang seharusnya tidak mereka sentuh, Bass. Semua sudah memiliki jatah kuenya masing-masing, dan semakin lama ini dibiarkan maka saudaramu itu semakin seenaknya saja. Aku ingin membereskan semua ini, sebelum aku pensiun nanti."
"Pensiun?" Informasi ini cukup membuat Maximus terkejut.
"Ya. Aku sebenarnya telah mengundurkan diri sebagai ketua klan keluarga Bianchi beberapa bulan lalu dan penggantinya adalah kakakku. Tapi karena masih ada beberapa hal yang harus dibereskan dulu, maka aku masih diperbantukan. Tapi sepertinya, sudah saatnya aku untuk pensiun dini dan mengurusi bisnisku saja dan juga Tuan Bale. Apalagi isteriku sedang mengandung saat ini."
Tidak diduga, raut tidak ramah Tim berubah dan pria itu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan rata. "Ya. Rasanya sangat aneh menjadi seorang calon ayah. Meski sudah menanti-nantikannya, tapi tetap saja semuanya tidak sama seperti saat kau mengalaminya sendiri. Sangat aneh."
Entah kenapa, tapi kata-kata itu sedikit membuat hati Maximus merasa nyeri. Ia juga menginginkan anak dari wanita yang dicintainya, dan ia sudah mengusahakannya ketika itu. Tapi kini, ia tidak mengetahui sama sekali di mana wanita itu dan apakah benihnya sudah memberikan hasil.
Maximus benar-benar sangat menginginkan anak dari rahim Giovanna. Dengan kehadiran seorang anak, pria itu berharap wanitanya tidak akan pernah pergi lagi dari sisinya.
Berusaha menepis pikiran sedihnya, Maximus melanjutkan perbincangan mereka dan ia pun memberikan sejumlah data yang selama ini telah berhasil dikumpulkannya. Mereka akhirnya saling bertukar kontak dan melanjutkan makan siang, sambil mengobrol ringan yang membuat keduanya menjadi cepat akrab.
Sepanjang percakapan siang itu, benak Maximus berkelana. Ingatannya melayang pada peristiwa beberapa tahun lalu, ketika ia pertama kali bertemu dengan wanita pujaannya lagi.
***
Flashback hampir dua tahun yang lalu. Allard Bakery, kota NY. Amerika.
Saat ini, Maximus sedang berada di ruangan kantor kecil dari toko kue itu. Ia berhadapan dengan seorang pria yang berambut merah dan bermata biru elektrik. Tampak pria itu menyilangkan kedua tangan di d*danya yang bidang dan tampangnya sangat menyebalkan. Seperti berandalan.
"Aku dengar, kau ingin bertemu denganku. Apa maumu?"
Tidak mau basa-basi, Maximus langsung pada intinya. "Aku ingin membeli toko rotimu. Cash."
Pria berambut merah itu tertawa terbahak-bahak. Tampak gigi-gigi kelincinya yang mengintip dari mulutnya yang terbuka. "Darimana kau dapat informasi kalau aku akan menjual tokoku ini? Aku sama sekali tidak berminat untuk menjualnya! Kau pergilah sekarang!"
Baru saja pria itu melewati Maximus untuk keluar dari ruangan ketika ia tiba-tiba berhenti di sisi tamunya itu. Ia sedikit menelengkan kepalanya dan dari jarak dekat, Maximus dapat melihat urat-urat kelabu di kulit pucat pria itu. "Siapa namamu?"
Maximus berbalik dan berhadapan dengan pria berambut merah di depannya. Tampak tinggi Maximus sedikit melebihi pria itu, yang secara sekilas terlihat mirip dengannya.
"Maximus Bass."
Kedua mata biru elektrik itu sedikit membesar. "Bass? Dari klan Bass Skotlandia?"
Kepala Maximus mengangguk dan ia sedikit terkejut dengan reaksi dari orang di depannya ini. "Ya. Dari pihak ibuku adalah keturunan dari keluarga Bass, Skotlandia. Bagaimana kau tahu?"
Kekehan ceria terdengar dari pria di depannya. Dan tanpa diduga, ia mengulurkan tangan kanannya ke tamunya itu. "Kita satu garis keturunan. Namaku Dominic Allard. Ibuku adalah Bass dari Skotlandia, tapi ayahku adalah keturunan bangsawan Allard dari Perancis."
Menyambut uluran tangan Dominic, pandangan Maximus masih terlihat skeptis saat ini. "Tapi nama Bass adalah nama yang sangat umum. Bagaimana kau yakin kalau kita satu garis keturunan?"
Masih tertawa, Dominic menunjuk hidungnya sendiri yang mancung. "Kau bisa mempercayai hidungku ini, kawan. Karena aku bisa mencium sesuatu dari tubuhmu, yang hanya dimiliki oleh keluarga Bass dari Skotlandia. Tidak ada Bass lain yang memiliki bau seperti itu."
Dominic sedikit mundur dan mengamati Maximus dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Ia kembali menyilangkan tangannya di depan d*danya. "Ah... Baru kali ini aku berjumpa dengan garis keturunan dari ibuku. Sangat menarik sekali."
Umpan itu langsung ditangkap Maximus dengan gesit. "Jadi, karena kita satu garis keturunan, apakah kau mau mempertimbangkan untuk menjual toko rotimu ini?"