The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 48 - His biggest regret



Rumah utama keluarga Berlusconi, Italia.


"Tuan-tuan dan Nyonya. Tuan muda ketiga Maximus, dan asistennya Aiden Brasco."


Tampak Alfredo sang kepala rumah tangga, mengumumkan kehadiran Maximus dan juga Brasco di ruang makan itu. Sedikit menelengkan kepalanya, Maximus berkata pelan pada Brasco sambil tersenyum. "Kau tunggulah di luar seperti biasa. Aku akan memanggilmu lagi nanti."


Kedua mata hijau itu masih tampak khawatir, tapi akhirnya ia mengangguk singkat. "Baik, Tuan Bass."


Barulah setelah pintu kayu yang besar itu tertutup pelan, Maximus melangkahkan kakinya dan menuju mejanya. Tampak Alfredo siap sedia berdiri di belakangnya, untuk menarik kursi untuknya. Posisi Maximus berhadapan langsung dengan Nicolette, yang menjadi pasangan dari Amadeo. Kedua alis Maximus sedikit berkerut ketika melihat Alessandro kali ini sendirian, tidak ditemani oleh isterinya.


Sambil duduk, ia menyapa ramah semua orang. "Selamat malam semuanya."


Baik Alessandro maupun Amadeo mengangguk kaku. Hanyalah Nicolette yang membalas sapaannya tadi dengan suara sedikit tercekat. "Max. Selamat malam."


Mata wanita itu mengamati wajah pria di depannya dengan penuh kerinduan. Semakin lama tidak bertemu, ia menjadi semakin menyesali keb*dohannya dulu telah menyia-siakan pria di depannya ini. Kalau saja ia sedikit bersabar, mungkin ia tidak akan berakhir di tangan besi Amadeo yang menjadi suaminya sekarang.


Tidak mau terlalu ketara memandang pria lain, Nicolette menundukkan kepalanya. Wanita itu sangat tahu kalau Amadeo tidak mencintainya. Selama ini mereka berhubungan hanya untuk memenuhi kebutuhan lahiriah mereka sehingga kata-kata pernikahan, sama sekali tidak pernah menjadi opsi untuk keduanya. Dan setelah menjalin pernikahan selama 5 tahun ini, mereka berdua sama sekali tidak pernah berkomunikasi layaknya suami-isteri yang normal. Mereka hanya bertemu singkat, berhubungan s**s dan tidur.


Nicolette bahkan tahu kalau Amdeo telah beberapa kali bermain dengan wanita lain di belakangnya. Tapi, ia sendiri tidak dalam posisi yang kuat untuk memprotes kelakuan b*jat suaminya sendiri.


Demi keluarga Cesare, Nicolette berusaha bertahan dalam pernikahan yang serasa neraka baginya. Amadeo memperlakukannya sangat dingin dan ia pun berhubungan dengan cara yang kasar, bahkan jauh lebih kasar dari sebelum mereka menikah. Tubuh Nicolette seringkali dipenuhi memar bekas pukulan dan cakaran dari suaminya sendiri. Dan semuanya tidak diketahui orang lain, karena tertutup pakaian yang dikenakannya.


Wanita itu mulai putus asa mencari cara agar dapat lepas dari suaminya, tanpa ia harus dibebani dengan kesalahan sebagai seorang isteri yang durhaka pada suaminya. Dan melihat Maximus kembali malam ini, benak Nicolette mulai dibanjiri dengan keinginan untuk memiliki pria itu lagi.


Sementara itu, Maximus yang sedang duduk menoleh pada Alessandro di sebelahnya dan bertanya ramah. "Isabelle tidak datang malam ini?"


Wajah Alessandro tidak bergeming dan pria itu menjawab dingin. "Aku dan Isabelle sudah berpisah."


"Oh? Maaf... Aku belum tahu mengenai berita ini..." Maximus menghidu anggurnya dan menyesapnya pelan.


"Berkas perceraiannya memang baru diproses kemarin. Malam ini, aku juga baru akan mengatakannya pada papa." Kata-katanya dingin, tapi Alessandro tetap memberikan penjelasan. Itulah yang Maximus sukai dari Alessandro. Meski merupakan saudara kembar Amadeo, tapi Alessandro terlihat lebih hati-hati dalam melakukan sesuatu. Kemampuan berbisnisnya pun kuat, membuat Giuseppe mempercayakan CBG cabang Amerika secara penuh pada anak keduanya ini yang kemudian berhasil membuatnya semakin berkembang.


Maximus juga sangat tahu, kalau metode kerja Alessandro dengan Amadeo berbeda jauh. Meski keduanya disebut duo-mafioso, namun mereka tidak pernah bekerja sama dalam melakukan sesuatu. Sudah ada kesepakatan di antara keduanya untuk tidak mencampuri kerajaan bisnis masing-masing. Sehingga Maximus sangat yakin kalau kejadian dengan keluarga Liebel, sama sekali tidak ada kaitannya dengan Alessandro.


Memandang kursi utama yang masih kosong, Maximus mend*sah dan sedikit menyenderkan badannya ke belakang. Suasana ini mengingatkannya pada percakapan yang telah terjadi lebih dari tiga tahun yang lalu.


***


Flashback tiga tahun yang lalu. Dua tahun sejak kejadian penembakan di Liebel Corp.


Tepat sebulan yang lalu, Maximus baru saja berhasil membeli rumah utama keluarga Liebel yang telah dilelang negara. Ia sangat berhati-hati dan mempergunakan nama samaran dalam melakukan transaksi itu. Instingnya mengatakan untuk melakukan hal itu dan hari itu pula terjawab, kalau instingnya memang benar.


Keluarga besar Berlusconi sedang makan siang bersama, tanpa dihadiri oleh Alessandro yang memang bermukim di Amerika. Tampak Amadeo pun hanya sendiri, dan tidak ada kehadiran Nicolette di sampingnya.


"Ke mana isterimu?" Terdengar pertanyaan kasar dari Giuseppe melihat ketidakhadiran menantunya itu.


Mengusap pelan mulutnya, Amadeo menatap ayahnya dan menjawab singkat. "Ada keperluan dengan keluarga Cesare. Mereka meminta Nicolette untuk dapat menjadi model produk kecantikan baru mereka."


Giuseppe mengangguk. Ia kembali bertanya. "Bagaimana dengan RS Liebel dan Liebel Corp.? Ada masalah?"


Topik baru itu membuat Maximus membeku, tapi dengan tenang ia meletakkan peralatan makannya dan mengusap mulutnya. Perlahan, ia mengangkat gelas anggurnya dan menyesapnya pelan. Ia terlihat sangat terkontrol saat ini, meski jantungnya berdentum kencang di balik jas mahalnya. Kedua telinganya pun menajam, berusaha menangkap indikasi apapun dari percakapan ini.


"Berhati-hatilah, Amadeo. Karena aku sangat tahu apa yang telah kau lakukan."


Kata-kata itu membuat Amadeo sedikit gugup karena tanpa sengaja, tangannya menyenggol sendoknya yang akhirnya jatuh ke bawah. Tatapan matanya sedikit nanar. "Ya, papa. Aku mengerti."


Melihat tuduhannya yang ternyata sangat benar, Giuseppe menyesap anggurnya dengan perasaan kesal. Anaknya yang satu ini memang sangat emosional dan akan melakukan tindakan ekstrim saat ia merasa tersinggung. Sepertinya, keluarga Liebel memang telah sangat menyinggungnya. Entah karena apa.


"Omong-omong, apakah kau tahu kalau rumah utama keluarga Liebel dilelang?"


Kedua alis Amadeo terlihat berkerut. "Keluarga Liebel masih memiliki aset?"


"Kau tidak tahu? Ya. Rumah utama itu ternyata masih tercatat sebagai nama keluarga, tapi sekarang hal itu tidak berlaku lagi karena negara telah melelangnya."


Amadeo menggosok-gosok jari-jarinya sendiri. "Siapa yang telah membelinya?"


Tanpa diketahui Amadeo, Giuseppe melirik pada anak lelaki ketiganya yang masih terdiam. Meski Maximus tampak tenang, tapi Giuseppe tahu kalau anak itu sedang dalam keadaan tegang saat ini. Bibir pria tua itu sedikit tersenyum. "Orang asing. Orang Amerika. Sepertinya bukan orang yang terkenal. Mungkin ia hanya tertarik untuk memiliki rumah di Italia dengan harga yang cukup miring."


Dan percakapan mengenai keluarga Liebel pun terhenti, ketika Giuseppe memindahkan topik ke percakapan bisnis mengenai perusahaan CBG di Italia. Kedua orang di depannya berbicara, seolah Maximus tidak ada di sana dan pria itu sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Ia malah sangat menikmatinya karena tanpa harus berusaha keras, ia sudah dapat mengetahui situasi keluarga tanpa banyak bertanya.


Maximus baru saja selesai berpamitan dengan ayahnya dan sedang memakai mantelnya di ruang depan, ketika tiba-tiba Amadeo menghampirinya. "Maximus? Kau mau pulang sekarang?"


Sedikit terheran, Maximus menganggukkan kepalanya. "Ya. Apakah ada yang mau kau bicarakan?"


Terlihat senyuman dingin di bibir Amadeo. "Tidak ada. Biarkan aku mengantarmu ke mobilmu."


Tidak mau mencari masalah, Maximus pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Tentu saja."


Sambil berjalan menuju parkiran, Amadeo berkata santai. "Kudengar, kau cukup dekat dengan anak lelaki keluarga Liebel? Kalau tidak salah namanya Giovanni?"


Mau apa orang ini?


Pria berambut tembaga itu merasakan dering alarm yang sangat kencang di otaknya, tapi ia menanggapinya dengan santai. "Ya. Kami teman main polo. Aku dan Giovanni dulu cukup dekat."


"Dia punya adik perempuan kan? Giovanna?"


Mereka akhirnya berhenti di depan mobil sedan Maximus dan ia menoleh pada Amadeo. "Ya. Namanya Giovanna Liebel. Sebenarnya, kenapa kau menanyakan hal ini padaku, Amadeo?"


Amadeo masih menatap ke depan, sama sekali tidak memandang adiknya. "Aku hanya ingin tahu, apakah kau suka pada wanita itu, Maximus?"


Merasakan aura memb*nuh mulai terpancar dari tubuh Amadeo, Maximus semakin berdiri tegak dan bersikap waspada. "Apa maksudmu?"


"Aku pernah mendengar kata-kata 'jangan pernah melirik rumput tetangga, meski warnanya lebih hijau'. Sepertinya hal itu berlaku untukmu, Maximus. Jangan pernah melakukan apapun yang di luar kuasamu."


Masih tidak mengerti, Maximus hanya menatap Amadeo yang akhirnya berbalik dan menatapnya dengan pandangan sangat dingin. "Aku masih menerima ketika kau melemparkan Nicolette kembali padaku, Maximus. Tapi aku sangat marah ketika kau dan si Liebel Giovanni, ternyata membicarakanku di belakang. Apalagi keluarga Liebel sampai berani memb*dohiku ketika aku bertemu dengan gadis itu."


Menepuk bahu Maximus keras, Amadeo berbisik pelan di telinga Maximus. "Aku masih memandangmu sebagai saudaraku, Maximus. Tapi jangan pernah lakukan apapun yang dapat memancing kemarahanku. Karena kalau kau sampai melakukannya, maka aku akan menghancurkan gadis yang kau cintai itu. Sampai dia berharap untuk m*ti dan menyusul keluarganya ke alam baka. Camkan itu!"


Perkataan Amadeo membuat Maximus membeku. Dan ia masih terpaku dalam berdirinya, lama setelah Amadeo meninggalkannya di parkiran. Maximus menyadari kalau kejadian yang telah menimpa keluarga Liebel, salah satunya adalah karena kata-katanya ketika itu. Ia telah mengungkapkan siasat keluarga Liebel tanpa sengaja dan telah memancing jiwa bengis dari Amadeo.


Benak dan hati Maximus dibanjiri oleh rasa bersalah yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ia sangat merasa bersalah karena pembicaraannya yang ringan dengan Giovanni saat itu, ternyata adalah pemicu yang membawa kemalangan bagi keluarga Liebel. Kemalangan yang akan selalu diingatnya seumur hidupnya.