
Sedikit geli, Giovanna mengusap kepala suaminya dengan penuh sayang. "Kamu ini ternyata adalah pria yang dominan, Tony. Dominan dan sangat m*sum! Aku sepertinya mulai rindu dengan sosok Anthony yang lebih pasrah dan lebih lembut. Lagipula, persyaratanmu tadi bukan cuma satu tapi ada tiga, Max. Apa mungkin kamu sudah mulai pelupa?"
Sejenak, raut pria itu tampak seperti berfikir tapi ekspresinya berubah menjadi tidak peduli dengan cepat. "Terserahlah, mau satu, dua atau tiga, bagiku tidak masalah. Yang penting intinya seperti itu. Bagaimana, kamu mau menerima atau tidak?"
Terkekeh, Giovanna mengecup suaminya. "Apa aku punya pilihan untuk menolak?"
Tangan Maximus yang berada di punggung isterinya mulai menurunkan resliting gaun Giovanna. Jari-jarinya pun membuka kaitan bra wanita itu dan mulai memberikan usapan penuh rayuan di kulit halus isterinya. "Ah, Dona baby... Kamu sama sekali tidak punya hak untuk menolak dan kamu tidak akan pernah bisa menolakku. Karena saat ini, aku adalah suamimu dan juga bosmu di kantor."
Mengangkat kedua alisnya, Giovanna menahan d*da Maximus yang mulai menunduk untuk memberikan ciuman padanya. Bibirnya tersenyum miring. "Oh ya? Kamu kira, aku tidak bisa menolakmu? Seingatku, aku telah menolakmu berkali-kali, Tony. Tapi kamunya saja yang terlalu murahan untuk minta disentuh olehku."
Mengambil tangan mungil isterinya, Maximus mengarahkannya ke bawah. Ke area pribadinya yang saat ini sudah mulai meronta untuk bebas. Kedua mata ungu pria itu sudah sangat sayu dan pipinya merona merah, memperlihatkan n*fsunya yang sudah di ubun-ubun. "Aku memang murahan, Dona... Aku menjadi pria yang murahan, hanya untuk dirimu... Sekarang sentuh aku... baby... Sentuh aku dengan tanganmu ini... Ayo...!"
Sambil terkekeh lagi, Giovanna mengikuti keinginan suaminya. Ia membuka resliting celana Maximus dan mulai merogoh ke dalam. Begitu tangannya menyentuh sesuatu yang panas dan berdenyut di sana, kepala suaminya mendongak tinggi dan pria itu menggeram. "Ah...! Dona baby...!"
Menarik rambut suaminya ke bawah untuk mendekati wajahnya, Giovanna mendesis di telinganya, masih sambil memberikan tekanan yang konstan pada milik pria itu dan membuat Maximus mengerang lirih. "Kamu mau aku menyentuh semua tubuhmu, Tony? Apakah kamu menginginkannya?"
Tampak kepala Maximus mengangguk. Nafasnya terdengar sangat berat dan mulai terengah. "Yes, Dona... Sentuh aku... sesukamu, baby... Aku rela... Aku sangat rela... Kalau itu kamu..."
Kata-kata itu malah membuat Giovanna tertawa kecil. "Kamu hanya ingin berbuat m*sum saja! Dasar! Kalau begitu, bawa aku ke kamar mandi sekarang, Tony. Badanku sudah sangat lengket dan lebih baik kita melakukannya di sana, karena aku tidak mau Gabriele mendengar kita dari ruanganmu!"
Balas tertawa, Maximus langsung meraup tubuh isterinya dengan gembira. "Aye-aye, captain!"
Dan malam itu, keduanya menghabiskan malam pertama mereka setelah menikah dalam kamar mandi. Barulah sekitar dua jam kemudian, mereka membawa Gabriele untuk pulang ke rumah Giovanna.
***
Keesokan harinya. Di rumah utama keluarga Berlusconi.
Saat ini, keluarga Berlusconi sedang berkumpul di ruang makan untuk santap siang. Tampak mereka santai menyantap makanan sambil mengobrol. Meletakkan gelas anggurnya di meja, Giuseppe menatap seluruh keluarganya yang ada di sana. Bibirnya tampak tersenyum melihat anak-anak dan juga menantunya saling bercengkrama dengan akrab. Ia juga bahagia melihat cucu-cucunya yang sedang duduk di kursi tinggi dan sibuk dengan makannya sendiri sambil berceloteh riang. Pria tua itu merasa sangat lengkap saat ini.
Namun kebahagiaan yang dirasakannya perlahan memudar, ketika ia teringat anak lelakinya yang telah tiada. Berkali-kali Giuseppe selalu berandai-andai. Seandainya ia lebih peka dengan keadaan Amadeo, mungkin ia akan lebih bijaksana menghadapi masalah anaknya itu. Selama ini, ia menganggap permasalahan itu akan selesai dengan sendirinya, yang sebetulnya malah membuat anak-anaknya menjadi korban karena ketidakpeduliannya selama ini.
Ia menyesali telah lebih mementingkan kepentingan perusahaan dibandingkan keluarganya. Giuseppe mungkin dapat mempertahankan bisnis raksasa Berlusconi, tapi apakah harganya sepadan dengan harus kehilangan darah dagingnya sendiri? Dan dengan cara yang sangat tragis seperti itu?
Kedua mata tua Giuseppe perlahan berair dan ia menatap nanar gelas anggur yang masih digenggamnya erat. Sampai ia mati nanti, ia akan selalu menyesali ketidakmampuannya ini. Penyesalannya tidak akan pernah hilang, karena tidak ada satu pun orang tua yang ingin menguburkan anaknya.
"Papa?"
Panggilan pelan itu menyadarkan Giuseppe dan ia mendongak. Tampak pandangan anak dan menantunya mengarah padanya. Semua mata menatapnya dengan sedih, karena mereka sangat tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang tua itu.
Semua orang tersenyum dan saling bersulang. "Cheers...!"
Malamnya, Alessandro dan Isabelle memutuskan jalan-jalan sebentar ke taman kota, menikmati suasana melam. Mereka berjanji untuk kembali beberapa jam kemudian, dan menitipkan bayi mereka pada seorang suster yang berada dalam pengawasan Maximus dan juga Giovanni.
Dan sambil menunggu kedatangan Alessandro juga isterinya, Maximus memutuskan untuk menunggu di ruangan keluarga di lantai dua dan menonton. Pria itu sedang memilih-milih film yang akan ditontonnya, ketika ia merasakan tusukan di bahu kirinya dan membuat kaset yang sedang dipegangnya terjatuh dengan suara sedikit nyaring. Ia juga refleks mencengkram lengan atasnya dengan kuat.
Menahan nyerinya, ia baru saja berjongkok untuk mengambil kaset itu ketika tampak sebuah tangan mungil yang mendahuluinya. "Bahumu sakit, Max?"
Cukup kaget dengan kedatangan Giovanna, Maximus melepaskan pegangannya dan menggeleng. "Tidak-"
"Jangan bohong, Maximus. Tolong, jangan pernah berbohong padaku. Terutama bila hal itu menyangkut kesehatanmu sendiri." Pandangan Giovanna tampak memohon dan kedua matanya sedikit berair. Melihatnya, akhirnya Maximus menganggukkan kepalanya pelan.
"Maaf... Kamu benar, Gia. Bahuku memang sedikit sakit. Tapi biasanya akan hilang sebentar lagi."
"Duduklah di sofa dulu, aku akan mengambilkan sesuatu untukmu." Dengan lembut, Giovanna mengarahkan suaminya ke sofa. Ia tahu pria itu sangat kesakitan, melihat mukanya yang pucat dan sedikit berkeringat.
Setelah Maximus duduk dan mendongakkan kepalanya di sofa, bibir Giovanna mengecup kening suaminya penuh sayang. "Tunggu sebentar di sini, Tony. Aku akan segera kembali."
Tergesa, Giovanna segera turun ke lantai dasar dan menyiapkan kompres panas untuk suaminya. Baru saja ia akan membawa benda itu ke atas, pintu depan terbuka dan memperlihatkan pasangan yang baru berkencan itu. Tampak muka keduanya memerah dan sumringah. Sudah jelas apa saja yang telah dilakukan keduanya saat mereka berjalan-jalan tadi.
Melihat benda yang ada di tangan Giovanna, Alessandro mengerutkan keningnya. "Maximus sakit lagi?"
"Ya. Aku akan memberikan kompres ini padanya. Aku kira tadinya kalian akan pulang tengah malam."
Pasangan itu menggeleng dan saling memeluk erat. "Tidak. Kami tadi hanya ingin berduaan sebentar. Itu saja. Lagipula kasihan Alana kalau ditinggal terlalu lama. Dia baik-baik saja kan?"
Kepala Giovanna mengangguk dan ia tersenyum kecil. "Aku baru melihatnya sekitar 10 menit yang lalu dan sepertinya ia cukup kenyang, sehingga langsung tertidur tadi. Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku harus mengkompres Maximus saat ini. Selamat malam."
Alessandro mengangguk dan pasangan itu menjawab serentak. "Selamat malam."
Sama seperti saat ia turun tadi, Giovanna pun sedikit berlari-lari kecil ketika naik ke lantai dua. Sesampainya di ruangan keluarga, wanita itu tertegun dan rautnya menjadi pucat. Terlihat sosok Maximus yang tidak bergerak, duduk di sofa. Kepala pria itu masih bersender seperti tadi, tapi kedua matanya tertutup sangat rapat. Tangannya pun terlihat lunglai di sisi tubuhnya.
Perlahan bayangan mengerikan dari beberapa minggu yang lalu berkelebat di matanya. Bayangan tubuh pria yang sangat dicintainya tidak bergerak. Kaku dan terlihat mati. Bayangan Maximus telah meninggal saat itu.
Kedua kaki Giovanna gemetar ketika perlahan ia mendekat, dan akhirnya berhenti di depan suaminya.
"Max...?"