The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 66 - Her wrath



Masih tertegun, bibir Giovanna gemetar. Telinganya sangat rindu mendengar suara khas itu. "To..."


Tersadar, mata wanita itu mulai membesar ketika ia mengamati penampilan pria di depannya. Lelaki yang sedang berdiri di depannya ini seperti pria yang dicintainya, sekaligus berbeda. Ia berpenampilan sangat necis dan rapih, berbeda jauh dengan Anthony yang biasanya hanya memakai kaos lengan panjang, kemeja kotak-kotak dan bercelana jins yang lusuh.


Pria di depannya ini juga memiliki rambut tembaga yang tampak bersinar indah diterpa cahaya matahari sore. Rautnya masih sama seperti yang diingatnya dulu dan ia juga memiliki jambang yang persis seperti terakhir kali Giovanna menjumpainya. Hanya saja kedua matanya yang berbeda. Mata teduh yang berwarna gelap itu sekarang memiliki warna ungu dengan setitik amber di permukaannya.


Mata seorang Berlusconi!


"Kau... Berlusconi...!"


Segera menyadari raut Dona yang berubah bengis, Maximus langsung mengambil tindakan cepat. Kedua tangannya mendorong bahu mungil Dona dan memaksanya untuk langsung masuk ke rumah itu lagi. Segera, ia juga menutup pintu depan dan menguncinya pelan. Wanita ini tidak akan bisa lari darinya lagi!


Terkejut dengan kelakuan pria itu, Giovanna hanya bisa mundur ke belakang. Tatapannya sangat marah saat ini. "Apa yang kau lakukan! Ini rumahku br*ngsek!? Pergi sekarang, sebelum aku melapor polisi!?"


Mendengar perkataan itu, hati Maximus ter*mas sakit. Dona sangat membencinya, hanya karena ia seorang Berlusconi. "Dona... Aku mohon, dengar penjelasanku dulu..."


"Penjelasan...!? Penjelasan macam apa lagi yang mau kau katakan sekarang, Tony!? Atau aku sekarang harus memanggilmu Maximus Antonio Berlusconi? Atau Maximus Bass? Atau Anthony Bass? Kau telah menipuku selama ini, baj*ngan!?"


"Dona..." Tangan Maximus terulur untuk menyentuh wanita yang sangat dicintainya, tapi langsung ditepis kasar oleh Giovanna yang semakin mundur ke belakang.


"Jangan pernah menyentuhku...! Jangan pernah kau berani untuk menyentuhku, Berlusconi! Meski kau telah mengembalikan semua milik keluarga Liebel, tapi karena keluargamulah aku telah kehilangan semuanya!? Aku tidak membutuhkan semua harta yang kau berikan itu! Aku menginginkan keluargaku kembali lagi!? Kembalikan keluargaku yang telah kalian b*nuh, br*ngsek...!?"


Dengan sangat marah, Giovanna menerjang Maximus dan memukulinya dengan membabi-buta. Tangan-tangannya mencakar wajah pria di depannya dan ia juga menampar pria itu dengan histeris.


Maximus berusaha untuk menahan tangan Giovanna tapi dia juga tidak mampu untuk menghentikan kemarahan wanita itu. Dia tidak bisa, karena sangat tahu kalau dirinya dan juga keluarganya memang pantas mendapatkan perlakuan yang sangat kasar ini. Dalam kericuhan ini, kaki Giovanna yang bersepatu kets akhirnya berhasil menendang bahu kiri Maximus dan membuat pria itu jatuh ke lantai.


Belum juga Maximus mengambil nafas, tubuh Giovanna langsung menimpanya dan kedua tangan mungil itu berada di leher Maximus. Tampak kedua mata cokelat terang Giovanna memancar sadis dan terselimuti kabut merah, ketika dengan sekuat tenaga ia mencekik leher pria di bawahnya.


"Kau... harus membayar semuanya, Berlusconi...! Kau harus m*ti sekarang, br*ngsek...!?"


Kedua tangan Maximus mencekal pergelangan Giovanna, tapi ia sama sekali tidak melawannya. Ia tidak mau melawan wanita yang dicintainya ini. Ia memang pantas untuk m*ti. Jika ia memang harus m*ti di tangan wanita ini, maka Maximus akan merelakan nyawanya dengan senang hati, kalau itu memang bisa membayar hutang-hutang keluarganya selama ini.


Cekikan Giovanna yang menguat membuat Maximus mulai tidak bisa bernafas lagi. Mukanya memerah dan perlahan berubah menjadi ungu. Pria itu berusaha untuk mendongakkan kepalanya dan bibirnya terbuka. Ia hanya bisa mengeluarkan suara erangan lirih dari tenggorokannya, yang saat ini sedang dalam proses dihancurkan oleh wanita di atasnya. Mungkin memang hari ini ajalnya. Di tangan wanita yang dicintainya.


Tangan yang tadinya ada di pergelangan Giovanna perlahan melemah, dan akhirnya jatuh ke sisi tubuhnya. Kedua mata ungu Maximus nanar menatap ke atas dan perlahan memerah. Dan ia pun akhirnya tidak sadar karena kegelapan sudah melingkupinya. Dalam kesadarannya yang tipis Maximus masih mendengar samar-samar suara wanita itu tapi ia sudah tidak bisa mencernanya lagi.


Saat ini, Maximus sudah sangat rela untuk menjemput ajalnya. Ia sangat rela untuk m*ti di tangan Giovanna Donatella Liebel. Satu-satunya wanita yang pernah dicintainya dalam hidupnya.


Di atas tubuh Maximus, warna merah yang tadinya menyelimuti mata Giovanna perlahan memudar, ketika ia menyadari pria di bawahnya sudah tidak bergerak lagi. Saat kesadarannya mulai kembali, raut wanita itu memucat melihat kedua tangannya yang masih di leher Maximus dan tubuhnya yang menimpa pria itu.


Dengan panik, Giovanna menarik tangannya dan melihat bekas cekikan berwarna sangat merah di leher jenjang Maximus. Tampak rona pria itu sudah berubah menjadi ungu dan kedua matanya menutup rapat.


"Anthony...!" Tangan Giovanna menepuk keras pipi Maximus dan menggoyangkan kedua bahunya, tapi pria itu tidak bergerak sama sekali.


Wanita itu akhirnya turun dari tubuh Maximus dan menempelkan telinganya di d*da pria itu. Rautnya semakin pucat menyadari kalau lelaki ini tidak bernafas sama sekali. Sekuat tenaga, Giovanna memberikan pompa CPR di d*da pria di bawahnya. Ia juga beberapa kali memberikan nafas buatan melalui mulutnya.


Sambil tetap memompa d*da pria itu, kedua mata Giovanna mengalirkan air yang deras. Meski membenci keluarga Berlusconi, tapi ia sangat mencintai pria ini. Rasa penyesalan mulai merambati hati wanita itu, ketika menyadari kalau ia hampir memb*nuh pria yang sangat dicintainya. Kalau sampai itu terjadi, maka ia tidak ada bedanya dengan Amadeo Berlusconi yang menghalalkan segala cara demi tujuannya.


"Anthony! Jangan mati! Bangunlah, Tony! Tony...!?"


Beberapa kali Giovanna memberikan pompaan CPR dan tangisannya semakin menderas ketika Maximus masih belum juga bisa bernafas.


"Tony...! Please... Jangan begini, Tony! Please...! Tony! Tony! Bangunlah...!"


Giovanna sama sekali tidak peduli dirinya kelelahan dan berkeringat banyak. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menyelamatkan pria di bawahnya ini. Konstan, ia berusaha memberikan bantuan pernafasan dan menepuk-nepuk keras pipi Maximus yang penuh bekas cakaran. Ia bahkan beberapa kali menghantam d*da keras pria itu dengan kencang, untuk memompa jantungnya.


"Tony...! Bangun...! Tony..."


Entah sudah berapa lama Giovanna memberikan pompaan CPR itu dan ia hampir saja menyerah, ketika pada suatu waktu upayanya memberikan hasil.


Maximus akhirnya tersadar dari jerat kem*tian yang hampir menjemputnya. Tampak pria itu terbatuk-batuk dengan sangat keras dan kepalanya meneleng ke samping. Rona wajahnya yang tadinya ungu, perlahan berubah menjadi merah.


Merasa lega, tangan Giovanna memegang lengan atas Maximus dan membantu pria itu untuk berbaring menyamping, memudahkannya untuk bernafas. Wanita itu sangat lega saat ini.


"Tony! Kamu tidak apa-apa? Maafkan aku... Aku tidak sadar tadi... Maafkan aku...!"


Berusaha membantu pria itu, tanpa sadar Giovanna memegang bahu kiri Maximus dan mer*masnya kuat. Wanita itu terkaget ketika Maximus malah berteriak kencang karena tekanan itu dan Giovanna refleks langsung melepaskan pegangannya.


"Tony...! Maafkan aku!"


Tampak wajah Maximus yang meneleng ke samping semakin berkeringat, dan pria itu semakin memucat. Nafasnya pun mulai terdengar berat kembali. Pria itu tampak sangat kesakitan dan tangan kanannya terlihat memegang lengan kiri atasnya dengan kuat, sampai buku-buku jarinya memutih.


"Tony...? Kamu tidak apa-apa?"


"Egh..." Maximus hanya mampu menjawab pertanyaan itu dengan erangan, sebelum akhirnya ia tidak sadar.


"Anthony!?"