The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 39 - I love her



Pertanyaan itu membuat amarah Giovanni mulai menjalar naik ke ubun-ubunnya. Pria di depannya ini berbicara sangat enteng, padahal yang sedang mereka bicarakan itu adalah adiknya! Adik perempuan yang sangat disayanginya dan akan dilindunginya dengan menggunakan nyawanya sendiri!


Berusaha mengontrol rasa marahnya, Giovanni menggeram rendah. "Dan darimana kau bisa yakin kalau kau memang mencintainya, dan bukan terobsesi pada dirinya saja!?"


Meski tahu kalau Maximus bukanlah pria yang gampang untuk menyentuh perempuan, tapi ia termasuk salah satu pria playboy. Ia bergonta-ganti teman kencan seperti berganti c***na d***m saja. Wanita yang katanya menjadi kekasih Maximus bulan kemarin, sudah berganti wajah di bulan berikutnya. Dan itu terjadi secara berulang. Barulah saat pria itu bertunangan dengan Nicolette, tampaknya pria itu tidak mencari mangsa lagi secara agresif di luar. Tapi itu pun hanya bertahan selama 3 bulan saja.


Giovanni sudah mendengar banyak kabar miring dan gosip mengenai bagaimana Maximus memperlakukan teman kencannya. Ia memang selalu memilih wanita dari kalangan atas dan menghadiahi mereka dengan berbagai barang mewah. Tapi tidak satu pun yang menyebutkan mengenai keahlian pria itu di ranjang. Mereka hanya menyebutkan kalau asetnya sangat luar biasa. Itu saja, tidak lebih.


Dan Giovanni baru mengetahui alasannya, ketika ia menjadi lebih akrab dengan pria itu saat pertandingan polo sekitar 2 tahun yang lalu.


Saat Maximus mengalami kecelakaan yang parah, Giovanni merasa sedikit bersalah karena menyangka ia penyebabnya. Peristiwa itu terjadi saat mereka berebut bola kayu dan akhirnya kuda mereka bertabrakan. Maximus jatuh dan kaki kudanya menendang keras bahu pria itu, menyebabkannya sedikit retak. Ketika mengunjungi pria itu di rumah sakit, Giovanni memberikannya baoding balls yang tergrafir untuk membantu terapinya. Sebagai permintaan maafnya. Setelah itu, mereka berdua pun menjadi teman akrab.


Teman akrab, tapi bukan berarti Giovanni akan menerima pria ini dengan mudah untuk menjadi iparnya!


Ia tahu kalau Maximus tidak pernah melakukan hubungan int*m dengan para teman wanitanya, karena ia terlalu paranoid akan dimintai pertanggungjawaban. Dan ia juga terlalu jijik dengan para wanita itu yang sudah seringkali disentuh oleh pria lain. Maximus pernah mencoba beberapa kali melakukannya dengan wanita yang benar-benar dipilihnya, dan semuanya gagal di tengah jalan. Baru saja para wanita itu menyentuh lehernya dan mulai akan mencium bibirnya, ia sudah mual dan muntah-muntah di kamar mandi.


Hal yang menjadi masalah bagi Giovanni, meski tidak pernah melakukan hubungan bebas tapi Maximus telah menjajakan asetnya ke mulut seluruh teman kencannya. Siapa yang akan mau menjodohkan pria seperti itu pada adik perempuannya sendiri. Ia juga tidak tahu apakah Maximus bisa merubah kebiasaannya, karena bisa jadi ia justru akan menjadikan adiknya hanya menjadi wadah service bagi pria itu saja.


Giovanni bukannya alergi dengan para pria yang melakukan hubungan s**s sebelum menikah karena ia juga telah melakukannya beberapa kali bahkan terakhir dengan Elena, tunangannya saat ini. Tapi jiwa petualangan Maximus menurutnya terlalu liar untuk dapat diatasi oleh adiknya yang masih sangat polos.


Sampai kapanpun, Giovanni tidak akan mengizinkan pria ini untuk menjadi iparnya.


Melihat Maximus belum menjawab pertanyaannya tadi, Giovanni kembali mengulangnya dengan nada yang jauh lebih menantang. "Bagaimana, Maximus? Bagaimana kau tahu kalau kau memang mencintainya, dan bukan hanya obsesi karena perasaan sesaat saja?"


Apa yang dijawab oleh Maximus di hari itu, akan selalu diingat Giovanni seumur hidupnya. Sampai ia m*ti.


"Karena hanya dengan dialah aku mau coba melakukannya, Giovanni. Hanya dengan adik perempuanmulah, aku rela tubuhku ini disentuhnya. Kalau itu bukan cinta, maka aku tidak tahu lagi namanya."


***


Kembali ke masa sekarang.


Terdengar ketukan pelan di pintu yang bertuliskan Michelle Green, Finance & Accounting Assistant Manager.


"Masuk!"


Setelah mendengar jawaban ketus itu, barulah pintu terbuka dengan pelan. Tampak kepala Dona menongol dari arah luar pintu. "Michelle? Saya ingin bertemu sebentar, bisa?"


Melihat siapa yang datang, bibir Michelle yang berlipstik merah cemberut. "Mau apa kau?"


Sambil tersenyum, Dona masuk ke ruangan dan menutup pintunya pelan. Ia menyerahkan sebuah amplop putih panjang dan menyorongkannya ke atas meja atasannya itu.


Kedua alis Michelle berkerut dan matanya naik untuk menatap Dona. "Apa ini?"


Masih tersenyum, Dona menjawab enteng. "Surat pengunduran diriku."


"Tidak ada. Saya hanya ingin mencari suasana baru saja."


Jawaban itu terlihat membuat Michelle marah. "Kau benci padaku."


Sedikit kaget, Dona mengerjapkan kedua matanya dan menggeleng. "Tidak."


"Kau pasti benci padaku. Kau tidak suka padaku. Karena itu kau ingin pergi dari sini, bukan?"


Bingung dengan respon Michelle yang tidak disangkanya, Dona mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Tidak, Michelle. Meski kita mungkin tidak cocok sebagai partner, tapi saya tidak pernah membencimu. Kalau saya memang membencimu, sudah sejak 4 tahun lalu saya mengundurkan diri dari sini."


Mendengar hal itu, kedua mata Michelle menunduk dan menatap amplop tertutup di depannya. "Kalau begitu, kenapa kau mau pergi?"


"Seperti yang saya bilang tadi, saya ingin mencari suasana baru."


Salah satu tangan Michelle terkepal di atas meja. "Kau ingin promosi? Kenaikan gaji?"


Pertanyaan Michelle yang bertubi-tubi dari tadi mulai membuat Dona Jengkel. "Michelle, sudah kukatakan dari tadi kalau saya hanya ingin mencari suasana baru. Hal ini tidak ada hubungannya denganmu, maupun dengan gaji atau posisiku saat ini. Bagaimana lagi saya harus menjelaskan agar kau paham?"


Nada suara Dona yang meninggi membuat Michelle terdiam. Ia kemudian bertanya dengan pelan. "Kapan kau akan pergi?"


"Hari ini adalah hari terakhirku."


"Hari ini!?"


Perkataan Dona membuat Michelle mulai panik. Semenjak Dona menjadi bawahannya, Michelle sangat mempercayai wanita itu untuk mengerjakan tugas-tugas yang tadinya banting-tulang dikerjakannya sendirian. Ia merasa sangat terbantu dengan kehadiran Dona, tapi sekaligus takut kalau Dona akan merebut posisinya. Karena bekerja selama 4 tahun bersamanya, Michelle sangat tahu kapasitas Dona yang sangat jauh melebihi level jabatannya dan bahkan melebihi kemampuan dirinya saat ini.


Dan wanita itu sama sekali tidak pernah protes mengenai apapun selama bekerja di bawahnya.


Adanya pemberitahuan yang mendadak seperti ini membuat Michelle sama sekali belum mempersiapkan apapun. "Tidak bisa! Ini terlalu mendadak, Dona. Masih terlalu banyak laporan yang harus diselesaikan untuk diserahkan pada Pak Aiden akhir bulan ini. Maaf saja, Dona. Tapi aku tidak bisa-"


"Saya sudah menyelesaikan sebagian besarnya dan telah mengirimkannya pada Anda tadi. Tapi bila Anda masih membutuhkan tenaga saya, saya masih bisa dihubungi lewat email selama satu bulan ke depan. Anda tidak perlu khawatir, karena saya tidak akan meninggalkan beban untuk Anda saat saya pergi nanti."


Kembali Michelle terdiam. Ia sadar, kalau Dona sudah merencanakan kepergiannya ini sebelumnya. "Ke mana kau akan pergi setelah dari sini?"


"Entahlah. Saya belum memikirkannya. Apakah ada lagi yang ingin Anda tanyakan? Karena kalau tidak, saya akan pamit pulang sekarang."


Kepala Michelle menggeleng dan wanita itu bangkit dari duduknya. Tanpa diduga, wanita ketus itu mengulurkan tangan kanannya pada Dona. "Aku hanya bisa mengatakan semoga sukses untuk dirimu. Walau aku tidak pernah mengatakannya, tapi aku sangat terbantu dengan adanya dirimu selama bekerja di sini. Terima kasih, Dona."


Kata-kata wanita di depannya ini membuat hati Dona menghangat. Ternyata, kehadirannya masih bisa memberikan arti bagi orang lain. Tersenyum samar, Dona menyambut uluran tangan itu. "Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi sekarang Michelle. Dan senang telah bekerja sama dengan dirimu."


Selama beberapa saat, lama setelah Dona keluar dari ruangan itu, Michelle masih terpaku dalam duduknya dan pandangannya nanar menatap pintu. Menelan ludahnya, ia kembali berdiri dan meraih amplop putih di atas meja. Langkah-langkah kakinya mantap ketika ia menuju lift, dan menekan angka 53.


Sepertinya, ia harus siap menghadapi lagi omelan bosnya nanti. S*al!