
***Song of the day: Imagine Dragons - Bad Liar***
Maximus mengambil tiga tangkai bunga dari rangkaian yang ada di atas makam Amadeo, dan perlahan meninggalkan area itu. Langkahnya membawanya ke lokasi kuburan yang terletak di salah satu ujungnya. Tampak ia berdiri di depan tiga deretan makam di bawahnya. NIsan yang ada di sana bertuliskan Liebel.
Penuh perasaan, Maximus memberikan masing-masing tempat peristirahatan terakhir itu satu tangkai bunga yang tadi di bawahnya dan ketika sampai ke makam terakhir, pria berambut tembaga itu berjongkok. Pelan, ia meletakkan tangkai bunga yang berwana ungu itu di atasnya dan mengusap nisannya pelan.
"Giovanni... Akhirnya, kau dan keluargamu mendapatkan keadlian. Aku juga akan berusaha mengembalikan semuanya pada tempatnya, Gio... Dan dengan ini, aku harap kau dan keluargamu akhirnya mau memaafkan aku... Tolong maafkan keluargaku, Giovanni..."
Tangan Maximus yang memegang nisan, mer*mas benda itu lebih kencang. Kepala berambut tembaga itu terlihat menunduk dalam. "Kata-katamu dulu sepertinya benar. Keluarga kita seperti api dan air... Tidak bisa bersatu dan tidak akan pernah bersatu... Terlalu banyak luka yang telah dibuat oleh keluarga Berlusconi pada keluargamu... Dan aku juga sangat bersalah pada kalian... Mungkin sudah saatnya aku menyerah..."
Dalam posisinya, terlihat tetesan air yang jatuh di makam Giovanni. Kedua mata ungu Maximus nanar menatap ke bawah. "Seperti katamu, Giovanni... Kau tidak akan pernah merestuiku sebagai iparmu... Dan saat ini, aku juga sudah lelah... Aku lelah telah berusaha mencarinya dengan tanpa hasil seperti ini... Aku sepertinya sudah mencapai batasnya, Gio... Apa yang harus kulakukan sekarang... Katakan, Gio... Apa yang harus aku lakukan sekarang..."
Tangan pria itu yang lain menutup kedua matanya erat dan bahunya berguncang. "Jawab aku, Gio..."
Maximus Antonio Berlusconi saat ini sudah di ambang keputusasaan. Hampir setahun ia mencari kekasihnya, dan tampak belum ada hasil yang berarti. Jiwanya perlahan mulai meredup, terutama saat ini.
Kem*tian Amadeo semakin membuatnya terperosok dalam jurang, karena ia juga merasa bersalah pada kakaknya. Ia telah jatuh semakin lama semakin dalam. Rasa bersalah Maximus pada keluarga Liebel semakin bertambah, dan mulai membuat akal sehatnya terendam dalam kegelapan.
Saat ini, Maximus membutuhkan seseorang. Ia membutuhkan wanitanya. Pria itu sangat membutuhkan kehadiran kekasihnya untuk dapat keluar dari gumpalan rasa putus asa ini.
Tapi saat ini, ia hanya sendirian. Dan dia tidak tahu, sampai kapan ia bisa bertahan.
***
Beberapa minggu kemudian. Kota TX. Amerika.
"Apakah itu memang benar, Michele?"
"Ya. Aku sendiri yang menghadiri pertemuan keluarga besar Morrone dan mendengarkan berita itu langsung dari kepala keluarga sendiri. Amadeo Berlusconi telah dieksekusi m*ti beberapa minggu lalu, tapi beritanya memang tidak disebarluaskan."
Tatapan Giovanna tampak takjub, apalagi saat wanita itu membaca dokumen-dokumen resmi yang tadi di bawa Michele untuk ditandatanganinya. "Dan ini...?"
"Keadilan telah berpihak padamu akhirnya, Dona. Semua perjanjian bisnis Liebel-Berlusconi telah kembali seperti yang seharusnya. Bahkan aset keluargamu telah dikembalikan seperti sedia kala, sebelum kau terpaksa untuk menjualnya dulu."
Tampak wanita itu masih menatap tidak percaya semua hal yang saat ini sedang terjadi. Setelah hampir enam tahun hidup dalam persembunyian dan ketakutan, akhirnya ia dan keluarganya mendapatkan keadilan. Mengingat sesuatu, Giovanna mengerjapkan matanya cepat dan kepalanya mendongak. "Tapi Michele, siapa yang telah mengurus semuanya. Bukannya untuk perjanjian dan aset itu telah tercatat secara resmi? Bagaimana bisa semuanya dikembalikan begitu saja sekarang?"
Michele kali ini menegakkan duduknya. Tatapannya terlihat penuh antisipasi. "Adik Amadeo Berlusconi yang mengurus semuanya. Pria itu mengetahui adanya kecurangan dan ia pun langsung membereskan semuanya, segera setelah kematian Amadeo. Sepertinya, ia memang tidak bisa melakukan apapun saat kakak lelakinya itu masih hidup sebelumnya."
Kepala Michele menggeleng pelan. "Aku yakin mungkin dulu kau pernah mendengarnya dari Giovanni. Keluarga Berlusconi memiliki tiga orang anak lelaki, yang salah satunya berasal dari isteri kedua Giuseppe Berlusconi. Dialah yang telah membantumu mengurus dokumen-dokumen resmi itu."
Kembali kedua alis Giovanna berkerut, tapi kemudian wanita itu menggeleng. "Entahlah. Aku tidak bisa mengingatnya. Mungkin Giovanni memang pernah bercerita dulu, tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Memangnya siapa namanya, Michele? Mungkin kalau kau mengatakan namanya, aku bisa mengingatnya."
Mata Michele yang gelap semakin menatap Giovanna intens. Dengan hati-hati ia menjawab pertanyaan sepupunya itu. "Dia bernama Maximus Antonio Berlusconi. Pria itu adalah adik bungsu dari duo-mafioso."
"Maximus Antonio Berlusconi? Kenapa sepertinya familiar? Mungkin Giovanni pernah menceritakannya dulu padaku, sehingga aku serasa pernah mendengarnya."
Tanpa diketahui Giovanna, Michele sedikit menelan ludahnya. "Dia adalah sahabat dekat Giovanni dulu. Mereka adalah teman main polo dan hubungan keduanya cukup dekat, sampai kejadian penembakan itu."
Max.
Tiba-tiba nama itu terngiang begitu saja di benak Giovanna. "Max! Oh ya. Aku akhirnya ingat! Gio pernah menceritakan dulu. Dia memanggilnya dengan nama Max. Sepertinya dia bertemu dengan temannya itu saat pesta pergantian tahun beberapa waktu lalu. Dan seingatku... Gio mengatakan kalau aku juga bertemu dengan temannya yang bernama Max itu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya lagi."
"Kau benar-benar hanya mengingatnya sebatas itu, Dona? Tidak ada yang lain lagi?"
Pertanyaan itu membuat kedua alis Giovanna terangkat tinggi. Rautnya heran dan bertanya. "Sepertinya ya. Aku hanya sebatas mengingatnya seperti itu. Atau, aku seharusnya mengingat sesuatu yang lain?"
Pria gempal itu sedikit menggigit bibirnya. Tampak ekspresi keraguan tergambar di mukanya dan membuat Giovanna semakin bertanya-tanya. "Michele? Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku? Apa kau tahu sesuatu tentang orang ini yang membuat aku harus mengingat yang lain?"
Menarik nafasnya dalam, akhirnya Michele berkata pelan. "Kau mungkin tidak menyadarinya karena kau mengenal orang itu dengan nama lain, Dona."
"Nama lain? Siapa?"
"Maximus Bass. Dia adalah boss besarmu dulu di MBC. Pria berambut tembaga, yang sama sekali belum pernah kau lihat batang hidungnya selama kau bekerja di sana."
Informasi itu membuat Giovanna tertegun. Benak wanita itu mulai berfikir liar saat ini ketika mulai mereka-reka kejadian yang tampaknya terlalu kebetulan itu. Ia juga mengingat berbagai peristiwa dan kejadian yang pernah berlangsung selama ia bekerja maupun tinggal di kota NY. Dan melihat Michele yang tampaknya masih belum selesai, Giovanna pun akhirnya kembali bertanya dengan suara tercekat.
"Apa lagi yang ingin kau katakan, Miki...?"
"Dia juga adalah orang yang telah membeli rumah utama keluarga Liebel, dan mengembalikannya seperti dulu. Dan sekarang, rumah itu juga telah dibalik nama atas nama dirimu, Dona. Tapi yang ingin kukatakan sekarang adalah, nama yang dia gunakan saat membeli rumah itu bukanlah Maximus Antonio Berlusconi, atau pun Maximus Bass. Dia menggunakan nama lain."
Kedua mata cokelat terang Giovanna tampak mulai berkaca-kaca. Ia sepertinya sudah tahu apa yang akan keluar dari mulut sepupunya itu. "Tidak... Jangan katakan, Miki... Jangan katakan kalau dia adalah..."
"Dia menggunakan nama Anthony Bass saat membelinya. Dia adalah pemilik toko roti AM Bakery dan juga tetangga di sebelah apartemenmu di kota NY. Dan tanpa kau katakan pun Dona, aku yakin kalau dia juga adalah ayah kandung dari puteramu yang akan lahir sebentar lagi."