
Kedua mata cokelat terang Giovanna berkaca-kaca dan dia mengangguk. Bibirnya tersenyum kecil. "Ya. Aku sudah puas. Terima kasih, Maximus..."
"Kamu mungkin sudah puas, tapi aku tidak."
Kata-kata yang sarat dengan nada marah itu membuat Giovanna berpaling dengan sangat cepat. "Max?"
Giovanna melihat tatapan mata ungu Maximus yang menyala terang, menunjukkan kemarahannya saat ini.
"Aku tidak suka saat kamu mengatakan kalau kamu tidak seksi. Aku tidak suka kamu bilang kalau kamu tidak cantik. Dan aku juga tidak suka ketika kamu bilang kalau kamu tidak berisi. Karena yang tahu pasti mengenai tubuhmu adalah diriku seorang, Dona baby...! Kalian para wanita, sama sekali tidak mengerti cara pandang seorang pria. Ketika pria mencintai seorang wanita, maka yang ada di matanya hanyalah wanita yang cantik jelita! Dan aku akan membuatmu mengerti hal itu! Sekarang juga!"
Dengan kasar, Maximus meraup tubuh Giovanna dalam pelukannya dan langsung membawanya ke kamar utama di rumah itu. Pria itu menendang pintu di depannya dan menutupnya kasar. Ia pun membanting tubuh wanita mungil itu dan langsung membuka sweaternya, memperlihatkan badannya yang liat dan berotot. Perlahan, ia juga membuka celana panjangnya dan akhirnya berdiri polos di depan Giovanna.
"Tony...?"
"Aku akan menunjukan padamu, Dona baby. Aku akan tunjukkan betapa seksinya dirimu di mataku!"
Dan setelah itu, Maximus pun dengan buas menerjang Giovanna. Pria itu melucuti kasar pakaian wanita itu dan dalam waktu singkat, keduanya bergulat panas di tempat tidur. Mulut pria itu meraup yang bisa diraup dan mel*mat yang bisa dil*mat. Ia juga mencium semua yang melewati bibir merahnya saat menelusuri tubuh polos wanita di bawahnya. Beberapa kali hal yang dilakukan oleh mulut dan juga jari-jarinya, membuat Giovanna menjerit nyaring. "Ayo teriaklah, Dona baby! Biarkan aku mendengarkan suaramu sekarang!"
Penuh kebuasan, pria itu pun menyatukan tubuh mereka dan keduanya berdansa dengan sangat liar. Sangat kuat. Sangat kencang. Seolah tiada lagi hari esok. "Ayo, Dona baby! Berteriaklah kencang! Cakar aku! Tunjukkan kalau kamu liar, baby! Kamu adalah wanita yang panas, Dona! Wanita panas yang seksi! Ayo!"
Pinggul keduanya bergerak sangat kuat, saling sambut menyambut untuk meraih sesuatu. Keduanya merasakan ledakan berkali-kali dan luar biasa, mengalahkan ledakan kembang api di malam tahun baru. Dan malam itu, Maximus berhasil menunjukkan pada Giovanna bahwa ia adalah wanita yang seksi dan cantik.
Ketika akhirnya Maximus ambruk di atasnya dan berkeringat sangat banyak, Giovanna memeluk tubuh pria itu sangat erat. Bibirnya tersenyum dan matanya menutup erat. Tampak aliran air di sudut mata wanita itu. "Terima kasih, Tony... Terima kasih telah sangat mencintaiku..."
Maximus yang masih ada di atasnya pun memeluk tubuh mungil itu erat. "Jangan pernah mengatakan itu lagi, Dona baby... Jangan pernah meragukan dirimu... Kalau kamu mengatakannya lagi, maka kamu menyakitiku, Dona... Di saat kamu menyakiti dirimu sendiri, maka ingatlah kalau kamu akan menyakitiku juga... Karena itu jangan pernah mengatakannya lagi..."
Kata-kata indah itu membuat Giovanna semakin menangis. Wanita itu semakin erat memeluk tubuh Maximus yang kali ini berbaring di sampingnya. Ia menenggelamkan kepalanya di d*da pria itu yang hangat. "Aku janji, Tony. Aku janji tidak akan pernah mengatakannya lagi. Aku mencintaimu, sayang..."
"Aku lebih mencintaimu... Dan besok, kita harus menikah. Kamu jangan melawan lagi. Paham?" Dan tidak lama setelah mengatakan itu, Maximus langsung tidak sadar. Pria itu sangat kelelahan dan membuatnya jatuh tertidur di pelukan wanita yang dicintainya.
***
Keesokannya di kantor CBG Italia. Lantai 65. Jam 11.00.
Tampak Michele yang mengomel-ngomel dari tadi. Sangat terlihat pria itu murka dan kesal saat ini.
"Michele. Aku minta maaf, tapi Max yang mengaturnya langsung tadi pagi. Aku tidak bisa menolaknya."
"Pria br*ngsek itu! Seenaknya saja dia mengatakan ingin menikahimu! Dona! Kau itu masih bagian dari keluarga Morrone! Paman dan bibimu harus tahu mengenai pernikahanmu ini. Tidak bisa begitu saja kalian menikah dengan upacara yang sangat sederhana seperti ini. Dan dilakukan di kantornya pula!?"
Giovanna tidak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa. Yang dikatakan Michele semuanya benar. Maximus melakukan semuanya serba mendadak. Tiba-tiba ia menghubungi pendeta dan bahkan sudah mendaftarkan pernikahan mereka ke negara.
Awalnya Giovanna hanya menganggap perkataan Maximus sebelum tertidur hanya igauannya saja, tapi pria itu ternyata sangat serius. Pagi butanya, ia sudah sibuk menghubungi banyak orang dan bahkan berteriak pada seseorang di seberang sana, yang juga tampaknya balas berteriak. Suasana di rumah pagi tadi sangat kacau. Untungnya kehadiran Gabriele mampu membuat suasana panas itu mereda dan akhirnya mereka bisa tampil sebagai keluarga kecil yang bahagia.
Kepala Giovanna sudah mulai pusing menghadapi calon suaminya yang ternyata sangat keras kepala, terutama bila ia sudah fokus ingin melakukan sesuatu. Untungnya wanita itu mencintainya karena kalau tidak, mungkin ia sudah mencukur habis rambut Maximus yang indah itu karena sangat kesal.
"Michele..." Belum juga Giovanna selesai berbicara, pintu ruangan itu terbuka lebar dan menampakkan sosok Maximus yang terlihat sangat bersemangat. Wajah sumringahnya adalah satu-satunya wajah yang terlihat gembira di antara mereka yang memberengut kesal, karena kelakuan absurd pria itu.
"Dona baby! Semua sudah beres! Kita tinggal menunggu kedatangan papa dan juga Alessandro dari Amerika. Seharusnya dia sudah akan sampai jam 15.00 nanti bersama dengan isterinya dan keponakanku, jadi jam 15.30 acaranya bisa dilangsungkan!"
Melihat kegembiraan pria itu, Giovanna tidak tega merusaknya. Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dan lebih mengagetkan, Maximus tiba-tiba memeluk tubuh wanita itu erat dan memutar-mutarnya di udara. "Dona baby! Akhirnya kamu akan menjadi milikku, sayang... Kamu akan menjadi milikku selamanya. Kamu tidak akan pernah bisa pergi lagi dariku...!"
Kegembiraan pria itu terpecah karena suara berat yang sarat dengan kemarahan dari belakangnya. "Aku tidak akan segembira itu, Maximus Berlusconi! Kau telah dengan seenaknya akan menikahi seorang Liebel, yang memiliki hubungan jauh dengan keluarga Morrone! Kau telah tidak menghormati keluarga Morrone dengan menyelenggarakan pernikahan yang tidak layak seperti ini, Maximus! Aku tidak akan pernah menyetujuinya!?"
Putaran Maximus pada wanitanya berhenti tapi ia tidak melepaskan pelukannya. Kedua mata ungunya menatap dingin Michele di depannya. "Kau mungkin lupa, Morrone. Keluarga Liebel adalah keluarga yang terbuang. Satu-satunya yang mengakui mereka sebagai saudara hanyalah dirimu, karena bahkan kedua orang tuamu pun tidak pernah peduli pada Giovanna ketika ia ditimpa kemalangan dulu. Aku sangat menghormatimu dan berterima kasih atas budi baikmu pada Giovanna, karena itu aku mengundangmu."
Pandangan Maximus melembut dan ia mencium kening Giovanna yang ada di pelukannya. "Morrone, kau sendiri sudah tahu seperti apa perjuanganku selama ini dalam mencarinya. Dan aku cukup menghormati keputusanmu yang saat itu menolak untuk memberitahukan keberadaannya. Tapi untuk kali ini. Untuk kali ini, biarkan aku yang mengambil keputusan untuknya. Aku sangat mencintainya dan tidak akan tenang sebelum mengikatnya. Sudah terlalu lama aku terpisah darinya. Tolong mengertilah itu."
Kedua pipi Giovanna merona merah saat mendengarnya. Semakin lama, ia menjadi semakin terbujuk rayu dengan kata-kata indah Maximus. Pantas saja dia adalah mantan seorang playboy. Pria itu sangat pintar berbicara pada seorang wanita.
Akhirnya Michele memegang pelipisnya yang mulai terasa sakit dan pria itu menggerutu. "Baiklah! Baiklah! Aku mengalah! Tapi kau jangan lupakan Giuseppe! Aku yakin ayahmu akan menghukummu karena ini, dan aku tidak sabar untuk melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"
Tampak senyuman lebar yang terbentuk di bibir merah Maximus, tapi senyum itu segera memudar ketika mendengar geraman dari arah pintu.
"Maximus Antonio Berlusconi!? Tidak bisakah kau menjadi anak lelaki yang penurut!? Kau ini sudah tua, tapi kenapa kau selalu membuat kepalaku sakit dan tekanan darahku naik tiap kali melihat kelakuanmu, hah!?"