The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 79 - Descendant



Suara yang terdengar sangat marah itu membuat semua kepala yang ada di ruangan menoleh ke sumber suara. Terlihat sosok seorang pria tua di atas kursi roda, yang sedang didorong oleh Raffaele.


"Papa! Papa sudah datang...?" Sama sekali tidak ada tampang merasa bersalah, Maximus membuka kedua lengannya lebar dan mendekati sosok ayahnya. Senyuman sangat lebar kembali terpatri di wajahnya.


Pria berambut tembaga itu baru akan memeluk ayahnya, ketika telinga kirinya ditarik dengan sangat kuat dan membuatnya menjerit kesakitan. "Ahhh...!? Papa! Papa...! Lepaskan...!"


Tubuh Maximus semakin menunduk ketika Giuseppe dengan penuh rasa amarah semakin menekan jewerannya pada telinga anak ketiganya itu, yang tanpa sadar menimbulkan kekehan pelan dari asisten Maximus. Akhirnya Raffaele merasa puas bisa melihat bos besarnya yang menyebalkan ini mendapatkan hukuman dari ayahnya. Dari seberang ruangan pun, terlihat Michele yang berusaha menahan tawanya.


Giovanna sendiri yang melihat pemandangan ini hanya bisa menutup mulut dengan tangannya. Perilaku ayah dan anak di depannya ini benar-benar mengingatkannya pada ayahnya sendiri dan juga kakak lelakinya, Giovanni. Kedua mata cokelatnya terlihat berkerut geli.


"Ah! Ah! Papa...! Lepaskan telingaku...! Ah...!" Meski menang secara fisik, tapi tentu saja Maximus tidak akan berani untuk melawan ayahnya sendiri. Ia hanya bisa mengerang dan mengeluh ketika ayahnya terlihat menjewernya sambil menyeret anaknya ke tengah ruangan.


"Aku sama sekali tidak pernah semarah ini padamu, Maximus Antonio!? Meski kau melakukan sesuatu yang sangat t*lol dulu, aku selalu membiarkanmu! Tapi kini, kelakuanmu sangat-sangat keterlaluan! Kau kira pernikahan itu main-main, hah!? Seenaknya saja kau mengumumkan kalau akan menikah hari ini, tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya!" D*da Giuseppe tampak naik-turun dengan geram saat ini.


"Dan apakah otakmu yang katanya jenius itu pernah berfikir, kalau kakakmu Alessandro harus pontang-panting me-reschedule semua jadwalnya dan isterinya hari ini hanya untuk memenuhi undangan gilamu itu? Kau kira jarak dari Amerika ke Italia itu hanya selebar daun kelor? Mereka butuh hampir setengah hari untuk terbang ke sini, kau anak durhaka!? Belum lagi untuk persiapan lainnya! Kau ini memalukan keluarga saja!?"


Akhirnya Giuseppe melepaskan jewerannya dengan menghempaskan kepala anak lelakinya yang langsung beringsut menjauh. Terlihat pria itu mengusap-usap telinga kirinya yang sangat merah dan langsung mundur untuk menempel pada calon isterinya, sedikit meminta perlindungan darinya. Ia berbisik pada wanita itu. "Dona baby... Tolong aku..."


Giovanna yang terlihat sangat menghormati orang yang lebih tua hanya memberontak pelan dari pelukan Maximus di bahunya. Wanita itu balas berbisik yang terdengar mendesis. "Ini urusanmu, Max...! Jangan bawa-bawa aku! Dan sepertinya, ayahmu itu sangat marah sekarang..."


"Kalian berdua kira aku tidak mengerti bahasa Inggris, hah!? Tidak sopan sekali berbisik-bisik di depan-"


Melihat kemarahan ayahnya yang semakin menjadi, Maximus langsung maju untuk melindungi Giovanna. Tapi bukannya menenangkan ayahnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya malah membuat emosi pria tua itu makin meninggi. "Papa... Semuanya sudah beres. Pendeta sudah dihubungi. Surat-surat resmi sudah disiapkan. Alessandro juga mau untuk datang kemari, meski tadi sempat mengumpat padaku. Seharusnya tidak ada masalah lagi kan? I'm happy. You're happy. Everybody happy! Because i'm getting married today!"


Gigi-gigi Giuseppe terdengar bergemeretak saat ini. Anak lelakinya ini entah mendapat keturunan sifat dari siapa! Yang jelas bukan dari dirinya! "Maximus Antonio Berlusconi...!? Kau itu memang..."


"Pa-pa...?"


Suara kecil yang terdengar takut itu membuat ruangan tiba-tiba hening. Kepala Giuseppe langsung menoleh ke sumber suara dan kedua mata ungunya melebar. Ia serasa berhadapan dengan sosok Maximus kecil dulu, dengan rambut yang sama dan mata yang sama. Anak kecil yang tampak ketakutan itu sedikit bersembunyi di balik pintu yang mengarah ke ruangan pribadi Maximus. Tampaknya keributan tadi membuatnya yang sedang tidur siang menjadi terganggu.


Tahu kalau anaknya ketakutan, Maximus langsung menghampiri anaknya dan memangkunya. Tampak tangan besarnya mengusap-usap lembut punggung anak lelaki yang ada di gendongannya. Ia berbisik dalam bahasa Jerman. "Sstt... Gabriele boy, tidak apa-apa sayang... Papa hanya dimarahi oleh kakek tadi..."


Anaknya yang sedang menyender di bahunya terlihat mengemut ujung jempolnya. Meski takut, tapi anak itu penasaran dengan orang baru yang ada di ruangan itu. Kedua mata ungunya yang besar memandang intens pada pria tua yang sedang menatapnya nanar. "Ka-kek...?"


Masih sambil mengusap-usap punggung anaknya, Maximus membenarkan letak gendongannya sehingga keduanya dapat menghadap Giuseppe. Pria tua yang sedang duduk di kursi rodanya itu terlihat gemetar. "Maximus... Ini...?"


Sangat terlihat kebanggaan dan kebahagiaan yang memancar dari kedua mata ungu Maximus. Perasaan pria itu benar-benar meluap saat ini. Dengan lembut, ia menarik tubuh Giovanna untuk mendekat dan menempel padanya. "Papa, ini adalah wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi isteriku satu-satunya, Giovanna Donatella dan ini adalah anak kami berdua, Gabriele Anthony."


"Ini... cucu... papa...?"


Tahu arti tatapan mata ayahnya yang terlihat sedikit meremehkan ketika memandang Giovanna, Maximus mengeratkan pelukannya di bahu wanitanya. Kali ini, rautnya terlihat tegang meski bibirnya tersenyum. Amarah mulai berkobar dalam d*da pria yang cukup jarang mengeluarkan emosinya terang-terangan itu.


Merasakan tubuh Maximus yang kaku, Giovanna mengusap perut pria itu lembut. "Max... Sabar..."


Hanya geraman pelan yang mampu keluar dari bibir merah yang terkatup rapat itu. "Hem..."


Michele yang masih berdiri pun mulai tegang, ketika pria itu menyadari kalau Maximus ternyata belum menceritakan apapun pada ayahnya. Pria tua itu sama sekali belum mengetahui siapa calon menantunya ini. Kedua tangan Michele mengepal erat. Pria gempal yang saat ini berbusana rapih itu tidak yakin, kalau ia nanti akan dapat menahan emosinya jika Giuseppe mengucapkan sesuatu yang dapat menyakiti Giovanna. Sudah cukup selama beberapa tahun ini, sepupunya itu hidup dalam penuh penderitaan dan kesedihan!


Tidak sadar sama sekali ketegangan yang mulai menguar kuat di sekitarnya, Giuseppe mengulurkan kedua tangannya lebar pada sosok kecil yang masih di pangkuan Maximus.


"Gabriele... Ini kakek... Kemarilah sayang..."


Kepala kecil yang berambut merah itu menoleh pada ibunya. Bibirnya masih setia mengemut jempolnya. Tatapannya tampak bertanya-tanya saat ini dan secara bergantian, memandang pada ayah dan juga ibunya.


Menyadari kecemasan anaknya, Giovanna tersenyum sambil menelengkan kepalanya. "Gabe, dia adalah papa dari papamu. Berarti, dia adalah kakekmu. Kamu jangan takut ya, sayang... Dia bukan orang jahat..."


Mendengar kata-kata Giovanna, kedua alis tua Giuseppe berkerut cukup dalam. Tampak tidak suka. Ia mulai menurunkan tangannya. Pria tua itu bertanya yang lebih ditujukkan untuk anak lelakinya dan bukan calon isterinya. "Bahasa Jerman? Kau tidak mengajarinya untuk berbahasa Italia?"


Pertanyaan itu sedikit membuat Giovanna terkejut, tapi ia langsung menjawabnya dengan senyuman manis. "Saya mengajarinya bilingual, dan ke depannya multilingual. Untuk saat ini, Gabriele sudah mengerti bahasa Italia dan juga Jerman. Tapi ia lebih nyaman berbicara bahasa Jerman, terutama kalau dia merasa takut. Seperti sekarang ini, Tuan Berlusconi."


Jawaban Giovanna yang seperti seorang native speaker membuat Giuseppe dan juga Raffaele sangat kaget. Keduanya tidak menyangka kalau wanita itu mengerti bahasa Italia dan sangat fasih, mengingat dia diam saja saat terjadi pertengkaran tadi. Raffaele juga menjadi sedikit malu, ketika beberapa hari lalu ia memarahi atasannya di depan wanita itu. Tadinya ia mengira Giovanna hanya berkomunikasi dengan bahasa Inggris saja dengan atasannya itu.


Sebagai seorang kepala keluarga Berlusconi, Giuseppe bukanlah orang b*doh. Karena jika iya, maka ia tidak akan memiliki keturunan dengan otak brilian seperti anak-anaknya. Pria tua itu tampak menghubungkan beberapa benang merah yang mulai terbentuk sejak beberapa tahun yang lalu. Terutama sejak Maximus terlihat tertarik pada sesuatu, yang sebenarnya bukan merupakan urusannya sama sekali.


Minipiskan bibirnya, kedua mata ungu Giuseppe perlahan memandang anaknya dengan tajam. Kedua tangan tuanya terlihat mencengkram pegangan kursi rodanya.


"Maximus Antonio Berlusconi. Jawablah dengan jujur, apakah yang sedang aku pikirkan sekarang benar?"


Tanpa ragu sama sekali, Maximus menganggukkan kepalanya tegas. Tangannya semakin erat memeluk bahu wanitanya. Dagu pria itu terangkat tinggi, menantang ayahnya saat ini. Karena untuk pertama kalinya, ia akan melawan ayahnya dengan terang-terangan. Tidak ada pura-pura dan permainan kata lagi.


"Ya. Yang papa pikirkan memang benar. Kenalkan papa, wanita yang sangat kucintai. Namanya Giovanna Donatella Liebel, anak kedua dari keluarga Liebel dan adik dari Giovanni. Dia adalah CEO dan pemegang saham di Liebel Corp. dan juga RS Liebel. Dan wanita ini akan aku nikahi, hari ini juga. Apapun yang terjadi!"