
Malam itu, Maximus datang ke rumah utama keluarga Liebel dan langsung disambut cukup dingin. Pria itu panas-dingin ketika melihat raut Giovanna yang kaku. Mereka pun makan malam dalam keheningan, karena saat ini hanya ada mereka berdua di meja makan.
Tidak tahan lagi, Maximus akhirnya bertanya. "Gabriele?"
"Dia ada di kamarnya. Baru beberapa menit lalu dia habis makan malam. Kamu akan menemuinya nanti di ruang keluarga setelah dia berganti pakaian."
Kepala Maximus mengangguk dan pria itu tertunduk. Dengan hati-hati, ia bertanya sambil memandang Giovanna yang tampak anteng dengan makanannya. "Gia? Apakah aku melakukan kesalahan?"
Tampak raut wanita itu berubah sangat manis sekarang, yang malah membuat Maximus merinding. "Kesalahan? Memangnya kamu bisa melakukan kesalahan apa, sayang?"
"A- Aku tidak tahu, baby... Tapi sepertinya kamu sedang marah padaku sekarang..."
"Kamu sudah selesai makan malamnya?"
Tergesa, kepala pria itu kembali mengangguk. Ia ikut berdiri ketika wanita di depannya berdiri dari duduknya.
Tampak Giovanna menghampiri Maximus yang masih membeku di posisinya dan sambil lalu, tangan wanita itu melambai dan berhenti pada asetnya. Pria itu terlonjak ketika tangan Giovanna mer*mas cukup kencang asetnya dan membuat pria itu sedikit merintih sakit. "Dona... Aku benar-benar telah berbuat salah ya..."
Gemas, Giovanna semakin mengencangkan cengkramannya dan membuat Maximus menjerit tertahan. Kepalanya tertunduk dalam di bahu Giovanna yang terdengar mendesis di telinganya. "Tampaknya, aku memang harus memberi pelajaran pada burung elangmu yang nakal ini, Max! Aku baru tahu, kalau kamu ternyata pria yang nakal sebelumnya. Kamu senang icip-icip, tapi kamu sama sekali tidak mau membayarnya. Aku akan menjadikan asetmu ini menjadi burung gagak, yang hanya akan setia pada satu pasangan saja!"
Kembali tubuh Maximus terlonjak ke atas saat Giovanna memberikan tekanan pada area bawah tubuhnya. Ketika wanita itu akan ngeloyor pergi dari ruangan itu, sempat-sempatnya pria itu mengucapkan sesuatu yang membuat wanita itu menjadi lebih murka. "Tapi baby, burung elang juga adalah burung yang setia pada satu pasangan saja... Kalau harus memilih, aku lebih memilih menjadi burung elang saja Dona baby, karena kalau kamu tahu, burung gagak terlalu identik dengan yang namanya kesialan..."
"Arghhh...! Kamu benar-benar br*ngsek, Maximus Berlusconi!?" Dan dengan itu, Giovanna pun membanting pintu ruang makan, meninggalkan pria berambut tembaga yang saat ini terkekeh bahagia. Tampaknya, wanitanya mulai cemburu untuknya.
Tidak lama, pria itu pun menyusul Giovanna ke ruang keluarga. Baru saja pria itu masuk dengan senyuman di wajahnya namun pemandangan di depannya, membuat senyumannya mulai memudar. Tampak kedua mata ungunya nanar dan perlahan berkaca-kaca.
Di depannya, terlihat Giovanna sedang menggedong anak lelaki kecil yang berambut merah. Keduanya tampak memandang kedatangan Maximus yang gemetar menghampiri keduanya. Sampai di dekat mereka, mata Maximus langsung bertatapan dengan mata ungu besar yang identik dengan miliknya. Ia juga melihat bibir berwarna merah yang persis seperti bibirnya sendiri. Masih gemetar, pria itu menatap Giovanna yang sedang tersenyum memandangnya. Wanita itu berkata dalam bahasa Jerman.
"Maximus Antonio Berlusconi. Perkenalkan Gabriele Anthony. Puteramu."
Pria itu masih tertegun di depannya, sampai celotehan kecil yang terdengar membuat pria itu meneteskan air matanya pelan. "Pa-pa?"
"Ya... Gabe... Aku papamu, sayang..."
Dengan pelan, Maximus menghela Gabriele dari gendongan Giovanna. Pria itu memeluk anaknya sangat erat dan tampak menangis di pelukan kecil itu. "Aku papamu, sayang... Maafkan papa, Gabe... Maafkan papa yang baru bisa datang sekarang..."
Gabriele yang belum mengerti sama sekali situasi orang dewasa hanya bisa tertawa gembira, membuat Giovana dan Maximus pun akhirnya tertawa juga. "Kamu senang, Gabe?"
Kepala mungil Gabriele mengangguk. Ia menjerit gembira. "Ga-be, se-nang! Pa-pa, ma-ma!"
Keluarga kecil itu pun akhirnya berkumpul di ruang keluarga. Gabriele tampak tidak mau lepas dari ayahnya dan ia tetap berada di pelukan Maximus, sampai anak itu tertidur. Terlihat Maximus mengusap pelan kepala puteranya dan menatap Giovanna yang duduk di sampingnya dengan lembut. "Dona baby, terima kasih telah melahirkan anakku..."
Balas tersenyum, Giovanna berkata. "Kamu bahagia, Tony?"
Tangan Maximus mengelus pipi Giovanna dan mencium bibir wanita di depannya dalam dan cukup lama. Ia kemudian menyatukan kening mereka. "Dona baby... Aku sangat-sangat bahagia saat ini, sayang... Kalian berdua adalah sumber kebahagiaanku sekarang..."
"Biar aku yang menggendongnya, Gia. Aku ingin melihatnya tidur di tempat tidurnya."
Tidak lama, keduanya kembali ke ruang keluarga setelah menidurkan Gabriele di kamarnya. Tampak dua orang itu duduk bersisian sangat rapat di sofa, dengan tangan kanan Maximus yang berada di bahu wanita itu. Pria itu mengusap-usap bahu Giovanna pelan sambil melamun.
"Giovanna?"
"Hem?"
"Kapan kamu mau menikahiku?"
Pertanyaan itu membuat Giovanna menunduk. Ia sama sekali belum menjawab. "Gia?"
"Kenapa kamu mau menikahiku, Max?"
Apa yang ditanyakan Giovanna sangat mengagetkan Maximus, membuat tangan pria itu berhenti mengusap bahu wanita itu secara refleks. Jantung Maximus mulai berdebar kencang saat ini. Ia mulai tidak suka situasi yang sekarang sedang terjadi. "Apa maksudmu, Gia? Kenapa kamu menanyakan itu? Bukannya kamu sudah setuju untuk menikahiku?"
Kedua tangan Giovanna saling tertaut di pangkuannya. Kepala wanita itu mendongak dan memandang Maximus dengan serius. "Tadi siang, aku bertemu dengan mantan tunanganmu di lift. Dia wanita yang sangat cantik, Max. Penampilannya seperti model dan dia juga wanita dari kalangan atas. Aku cukup heran, kenapa kamu bisa putus dari dirinya. Dan yang aku dengar, wanita itu sepertinya masih ingin kembali padamu. Apa yang membuatmu memilihku dibanding dirinya, Maximus?"
Tampak mata ungu Maximus mulai memancar marah saat ini tapi terlihat, kalau pria itu berusaha untuk menahan emosinya. "Kenapa kamu membandingkan dirimu dengannya, Giovanna? Apa kamu sama sekali tidak mempercayai cintaku padamu?"
Sadar kalau pria di depannya mulai terlihat marah, kepala Giovanna menunduk dalam. Meski ia tampil cukup percaya diri, tapi tetap saja mengetahui kalau saingannya lebih superior secara fisik dari dirinya, membuat Giovanna sedikit minder. Apalagi ia adalah tipikal wanita yang mungil dan wajahnya lebih bisa dibilang manis, dibanding cantik jelita seperti mantan tunangan pria itu.
"Bukan begitu, Tony. Kamu tentu tahu, kalau kami para wanita cukup sensitif mengenai masalah fisik. Kamu jangan salah. Aku cukup percaya diri dengan penampilanku. Aku juga punya latar belakang pendidikan yang baik dan juga karir yang pernah aku bangun sendiri dari bawah, dengan tanpa bantuan keluarga Liebel. Tapi aku juga sangat tahu, kalau kalian para pria adalah mahluk visual. Bukannya kalian lebih suka melihat seorang wanita yang seksi dibanding wanita pintar?"
Menyadari suara Giovanna yang sedikit sedih, kemarahan Maximus menyurut dengan sangat cepat. "Kamu pernah disakiti sebelumnya? Membuatmu jadi tidak percaya diri seperti ini?"
"Aku pernah ditolak oleh seorang pria. Dan dia jelas-jelas mengatakan kalau lebih suka dengan wanita yang berisi dan juga cantik, dibanding seorang kutu buku yang kurus seperti diriku."
"Kapan itu terjadi?"
"Saat aku masih SMA. Dan itu tidak hanya sekali Max, tapi terjadi tiga kali lagi semenjak aku masuk kuliah. Aku sudah tidak sedih ketika mengingatnya, tapi aku benar-benar jadi sangat pemilih dan cukup takut ketika keluargaku ingin mejodohkanku. Pengalaman ini membuatku sedikit sulit untuk berkomunikasi dengan pria asing, kecuali kamu. Makanya aku ingin mengetahui alasanmu memilihku karena kamu adalah pria yang sangat tampan." Giovanna terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya lagi.
"Kalau aku boleh tahu, apakah kamu bertemu dengan Nicolette Cesare tadi siang?"
Mend*sah kesal, Maximus menyender di sofanya. "Ya. Aku bertemu dengan Nicolette dan benar, dia masih ingin kembali padaku. Tapi aku menolaknya mentah-mentah dan kali ini, aku sudah memastikan kalau dia tidak akan pernah datang ke CBG lagi untuk sekedar menemuiku."
Tampak Giovanna menoleh pada pria itu dengan pandangan bertanya. "Memangnya, apa yang sudah kamu lakukan padanya, sampai kamu yakin kalau dia tidak akan menemuimu lagi?"
"Karena aku bilang akan menikahi seseorang. Dalam waktu dekat. Dan wanita yang akan kunikahi memiliki otak yang cerdas. Dia juga multilingual dan punya karir cemerlang. Dia juga bukan wanita lemah yang hanya bisa tunduk pada perkatan lelaki, tapi dia memiliki prinsip yang kuat. Sifatnya yang pemarah, tertutupi dengan hatinya yang welas-asih dan pemaaf. Dia juga adalah teman yang setia, dan tidak akan mau untuk membahayakan orang yang dikasihinya. Satu-satunya wanita yang kucintai dan ingin kunikahi. Secepatnya."
Maximus menatap Giovanna dengan pandangan yang sangat tajam. Pandangan yang membuat wanita itu merasa meleleh tubuhnya. "Dan wanita itu bernama Giovanna Donatella Liebel. Dirimu sendiri. Sekarang, apakah kamu sudah puas dengan alasan yang aku berikan, Dona?"