The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 23 - Happy hug



Panggilan itu membuat Maximus berbalik dan bibirnya langsung tersenyum miring ketika melihat orang yang menyapanya itu. "Nicolette."


Kedua mata Nicolette sedikit membola ketika melihat pria di hadapannya ini. Sudah lima tahun mereka tidak bertemu dan sungguh jauh perubahan yang dialami oleh Maximus.


Pria berambut tembaga itu terlihat semakin tampan dengan jambang tipisnya yang berwarna gelap. Dulu, ia selalu mencukur habis jenggotnya dan membuat penampilannya sangat bersih dan rapih. Ia menampilkan kesan sebagai seorang pengusaha muda yang sukses dan juga tampan. Saat itu, Nicolette sudah sangat tertarik padanya. Tapi melihat penampilan pria itu sekarang, wanita itu menjadi semakin ter*ngsang terutama ketika mengingat aset luar biasanya.


Imajinasi liarnya terputus dengan suara halus di belakangnya. "Maximus."


Pandangan Maximus beralih pada pria yang sedang berdiri di belakang Nicolette. Pria berambut hitam, dengan hidung mancung dan bibir tipis. Pria itu tampan dan juga cukup tinggi, meski tidak setinggi Maximus.


Dengan ramah, Maximus menyapanya. "Amadeo."


Meski Amadeo dan Alessandro anak kembar, tapi mereka tidak identik. Sekilas, mereka mungkin mirip tapi sebenarnya struktur wajah keduanya berbeda jauh. Alessandro berwajah sangat maskulin dengan suara yang kasar. Sedangkan Amadeo memiliki wajah yang lebih halus dan feminin, disertai dengan suaranya yang juga sangat lembut. Hampir seperti suara wanita, namun dengan nada yang lebih berat. Tubuhnya juga lebih kecil dari Alessandro yang memiliki perawakan besar dan berotot, seperti Maximus.


"Tidak seperti biasanya, kau datang berkunjung hari ini?"


Pertanyaan itu diucapkan dengan halus, namun sangat terasa sindiran di dalamnya. Dan hal ini membuat Maximus tersenyum lebar. "Ya. Ada keperluan sebentar dengan papa, tadi."


Informasi itu sedikit membuat Amadeo terkejut. "Keperluan dengan papa?"


Mendeteksi adanya aura persaingan dari tubuh Amadeo, Maximus kembali tersenyum samar. "Kau jangan terlalu khawatir, brother. Ini murni bisnis antara aku dengan papa, tidak ada hubungannya dengan keluarga besar Berlusconi."


Mata ungu Amadeo yang identik dengan Maximus tampak menyorot tajam. "Sebaiknya seperti itu, kawan."


Tersenyum maklum, Maximus memutuskan untuk undur diri. Ia sangat malas untuk berhubungan dengan dua orang yang ada di depannya ini. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Arrivederci."


Pasangan suami-isteri itu masih terdiam di tempatnya dan setia memandang sampai punggung Maximus menghilang di balik pintu.


Punggung Nicolette bergetar dingin ketika suara halus suaminya terdengar lagi di belakangnya. "Kau masih menyukainya, hem...?"


Kedua mata indah wanita itu mengerjap cepat dan ia sedikit gugup saat menoleh pada suaminya. "Ti- Tidak. Apa yang kau katakan, Amadeo? Suamiku adalah dirimu."


Pancaran mata ungu Amadeo terlihat sangat dingin saat ini. "Masuk ke kamar!"


Perintah itu membuat punggung Nicolette berkeringat dingin. Ia sudah bisa membayangkan hukuman yang akan diterimanya dari Amadeo. Hukuman yang sama sekali tidak disukainya.


Dengan langkah gemetar, ia menyusul Amadeo untuk memasuki kamar mereka yang terletak di bagian belakang rumah utama ini. Sampai di dalam kamar, Amadeo langsung mengunci pintunya. Apapun yang terjadi di dalam kamar, tidak dapat terdengar ke luar. Karena Amadeo telah melakukan segalanya, untuk mencegah orang lain mengetahui kebobrokan dalam hubungan rumah tangga mereka.


Hal ini membuat Nicolette selalu menyesali keb*dohan yang dilakukannya dulu. Keb*dohan yang pada akhirnya membuatnya terjerat dalam lingkaran s*tan Amadeo Berlusconi.


***


Flashback 6 tahun lalu. Di hotel CBG Italia. Saat perayaan pesta tahun baru, jam 00.00.


"Selamat tahun baru, Gio... I love you, brother..."


Selesai mengatakan itu, si mungil memeluk tubuh besar Maximus dengan sangat erat. Suara dengingan dari petasan dan pancaran cahaya warna-warni yang membutakan, sejenak membuat pria itu membeku dalam tempatnya. Semakin terpengaruh dengan suasana ini, Maximus baru saja akan membalas pelukan itu ketika terdengar teriakan kencang seorang pria di depannya. "GIA!?"


Perhatiannya yang terpecah membuat Maximus mendongak. Tampak temannya, Giovanni tergopoh-gopoh menghampiri keduanya. Kedua mata cokelat gelap Giovanni yang tadinya nanar dan khawatir, berubah menjadi lega ketika mengenali orang yang ada di depannya. "Maximus! Oh, syukurlah!?"


Kedua tangan Maximus memeluk erat tubuh mungil di depannya. Ia sedikit tidak rela kalau wanita di pelukannya ini sudah ada yang punya, meski itu adalah sahabatnya sendiri.


Tidak menjawab pertanyaan Maximus, tangan Giovanni malah menarik lengan atas wanita yang tampak nyaman dalam pelukannya dengan paksa. "Gia! Lepaskan orang ini. Ayo kita pulang!"


Wanita yang dipanggil 'Gia' malah memberontak cekalan Giovanni dan mulai mengomel-ngomel dengan beragam bahasa dari berbagai negara yang membuat Maximus semakin terpesona, terutama karena wanita mungil ini melontarkan berbagai kata makian yang justru terdengar konyol dari mulutnya.


Maximus cukup bingung saat ini, antara mau melepas pelukannya atau semakin mempereratnya karena wanita mungil itu sama sekali tidak mau lepas darinya. Ia menempel seperti lintah di tubuhnya. Sedangkan Giovanni semakin menarik paksa wanita itu, membuat tubuh Maximus terdorong ke kiri dan ke kanan, dengan tanpa arah yang jelas. Ia juga melihat lengan atas wanita itu memerah karena tarikan Giovanni.


Merasa bahwa hal ini harus dihentikan, akhirnya Maximus mencekal pergelangan Giovanni dan menahannya kencang. "Hentikan, Gio! Kau menyakitinya!"


Tampak cuping hidung Giovanni terkembang. Pria itu merasa marah dan kesal saat ini. Kedua mata cokelat gelapnya bersinar dingin memandang Maximus, dan ia mengibaskan tangannya untuk lepas dengan kasar.


Kedua pria tinggi itu saling bertatapan dengan rasa permusuhan. Tangan kanan Maximus semakin erat memeluk wanita di pelukannya dan tangan kirinya bersiap untuk memberikan bogem terkerasnya, bila pria yang menjadi lawannya ini berani untuk bertindak macam-macam.


Jari telunjuk Giovanni mengarah padanya dan suaranya bergetar menahan amarah. "Lepaskan dia sekarang, Maximus. Atau aku tidak akan segan untuk memb*nuhmu, meski kau adalah temanku sendiri!"


Ancaman itu semakin membuat Maximus bingung. Memangnya siapa wanita ini sampai Giovanni semarah itu padanya? Bukannya pria itu telah memiliki Elena? Apakah ia sedang berselingkuh sekarang ini?


Dengan tenang, Maximus mempererat pelukannya pada wanita ini. Naluri alaminya untuk melindungi mulai terbentuk tanpa ia sadari. "Siapa wanita ini, Giovanni? Aku baru akan melepasnya, setelah kau memberikan penjelasan padaku."


Berusaha mengontrol rasa marahnya, bahu Giovanni naik-turun ketika ia menghela nafasnya. Akhirnya, pria itu menurunkan tangannya. Ia sedikit lebih tenang saat berbicara sekarang. "Dia adalah adik perempuanku. Namanya Giovanna Liebel. Sekarang lepaskan dia, Maximus. Aku akan membawanya pulang."


Tadinya Maximus tidak percaya, karena wanita di pelukannya ini tidak mirip sama sekali dengan temannya. Keduanya seperti berasal dari dua negara yang berbeda. Ia baru saja akan membantah permintaan itu, ketika terdengar gumaman pelan berbahasa Inggris dari si mungil di pelukannya.


"Hem... Hem... Gio, kau jahat... Kau mengambil permenku... Dasar kau kakak durhaka..."


Gumaman tidak jelas itu membuat kedua alis Maximus terangkat tinggi. Masih dengan ekspresi seperti itu, ia memandang temannya yang mukanya terlihat memerah. Dagu Giovanni terangkat angkuh. "Sekarang, kau sudah percaya kalau dia adikku?"


Mengulum senyumnya, Maximus mengangguk. "Di mana mobilmu?"


Dagu Giovanni menunjuk ke pelataran parkir, tepat di bawah balkon. "Kenapa?"


Tanpa basa-basi, Maximus langsung menggendong si mungil dalam dekapannya. Hal ini membuat mata Giovanni membulat. "Hey...!?"


"Adikmu ini seperti lintah. Aku tidak bisa melepasnya. Daripada harus kuseret nanti, lebih baik aku langsung menggendongnya. Ayo kita ke parkiran sekarang."


Meski tidak suka, tapi akhirnya Giovanni mengangguk. Keduanya tampak berjalan sedikit cepat menuju ke arah parkiran, ketika dari arah semak-semak terdengar suara yang cukup aneh. Dua sahabat itu berhenti dan saling berpandangan. Tampak cengiran usil dari keduanya saat ini.


Melihat semak-semak di depannya, Maximus teringat pemandangan yang ia lihat tadi dari atas balkon. Sepertinya pasangan m*sum tadi masih belum selesai menyalurkan h*sratnya.


Kedua orang usil itu mengendap-endap dan mulai mengitari semak-semak m*sum tadi. Ketika melihat pemandangan di depannya, tampak keduanya sangat terkejut dan demikian pula pasangan m*sum yang tertangkap basah di depan mereka.


Giovanni segera menoleh pada temannya dan melihat ekspresi Maximus yang justru terlihat takjub, dibanding merasa marah atau malu. Tampak bibir merah pria itu tersenyum kecil.


"Well... Well... Aku tidak menyangka kalau secepat ini kau akan membutuhkan penyaluran, Nicolette."