The Man In The Shadow

The Man In The Shadow
Chapter 28 - I miss you



Setelah kejadian ciuman dulu, hubungan antara Dona dan Anthony menjadi sedikit canggung. Tapi tidak lama, pria itu berusaha untuk mencairkannya kembali. Meski demikian, Dona dapat merasakan kalau pria itu sedapat mungkin menghindari kontak fisik dengannya. Ia bahkan tidak pernah memberikan pelukan hangatnya lagi, dan hal ini membuat Dona menjadi sangat rindu pada wangi tubuh Anthony.


"Kamu mau pergi lagi?"


Terdengar Dona bertanya pada Anthony. Kali ini mereka sedang berada di apartemen pria itu, dan Dona sedang mempelajari teknik membuat roti dari dirinya.


"Ya. Aku harus pergi ke suatu tempat."


"Italia?"


"Hem... Cina."


Kedua alis Dona berkerut dalam. "Cina? Kamu mau mempelajari teknik membuat pangsit di sana?"


Kata-kata itu membuat Anthony tertawa keras. "Idemu boleh juga, Dona. Mungkin aku akan memikirkannya selama berada di sana."


Sadar kalau Anthony memang sengaja menghindar untuk menjawabnya, Dona pun tidak mau terlalu memaksanya. "Sampai kapan kamu di sana? Kamu akan cepat pulang kan?"


Pertanyaan itu membuat Anthony menghentikan kegiatannya sejenak. Ia memandang intens pada Dona. "Memangnya kenapa? Apakah kamu akan merindukanku nanti?"


Kali ini, Dona yang terdiam karena pertanyaan Anthony. Keduanya saling bertatapan dalam dan penuh arti. Masih manatap pria itu, akhirnya Dona menjawab dengan nada datar. "Ya. Aku pasti akan merindukanmu saat kamu tidak ada. Apakah kamu tidak begitu padaku, Tony?"


Hal yang ditanya oleh Dona membuat Anthony menelan ludahnya keras. Hubungan pertemanan mereka sudah berjalan selama 4 bulan dan selama itu pula, Anthony berusaha untuk menjaga agar hubungan mereka besifat platonis. Ia tidak mau sampai mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti kemarin, terutama karena Dona jelas-jelas lebih membutuhkan sosok kakak dibanding sosok seorang pria dari dirinya.


Kepala Anthony sedikit menunduk ketika ia berkata pelan. "Tentu saja aku akan merindukanmu. Kamu adalah temanku di sini, Dona."


Tanpa disadari Anthony, kata-kata itu sedikit menyakiti Dona. Tadinya ia berharap pria itu akan lebih jujur dengan perasaannya, namun tampaknya Anthony semakin lama malah terlihat semakin takut untuk bersikap terbuka padanya. Tidak seperti pertama kali, ketika Dona bertemu dengan dirinya. Ataukah, pria itu justru telah menemukan wanita pengganti dirinya?


Pemikiran ini membuat Dona merasa marah. Ia pun menunduk dan memukul adonan rotinya dengan kasar.


Perilaku Dona membuat tepung-tepung yang ada di sekitar mereka berterbangan. Anthony dapat melihat wanita itu kesal, tapi ia tidak mengerti penyebab kekesalannya.


"Dona? Kamu baik-baik saja?"


Suara serak Anthony yang bertanya lebih lembut membuat Dona mengerjapkan matanya. Ia belum menyadari kelakuan anehnya tadi. "Eh? Kenapa?"


Jari-jemari Anthony yang terselimuti tepung menunjuk adonan milik Dona. "Adonanmu akan hancur kalau kamu terlalu keras menguleninya. Kamu harus kencang tapi lembut dalam memperlakukannya, Dona. Atau dia akan hancur saat dipanggang nanti."


Entah kenapa, tapi Dona merasa kata-kata Anthony sedikit bersayap. Kencang tapi lembut...


Berusaha untuk mengendalikan dirinya, Dona menatap Anthony kembali. "Jadi, kapan kamu berangkat dan berapa hari di sana?"


Melihat kalau Dona sudah lebih tenang, pria itu pun menjawabnya dengan santai. "Hari ini aku berangkat, dengan menggunakan pesawat malam. Mungkin tiga hari lagi, aku akan kembali."


Dan hati Dona pun terasa mencelos di d*danya mendengar berita yang mendadak ini. Sekali lagi tanpa sebab yang jelas, ia merasa sangat marah pada pria di depannya ini.


Tanpa mempedulikan tatapan horor Anthony, Dona meninju adonan malangnya dengan sangat kasar. Dan benar saja, rotinya langsung hancur dan melempem ketika ia panggang kemudian.


***


Di salah satu klinik akupuntur di kota SH, Cina.


"Apakah masih sakit kalau digerakkan seperti ini?"


Tampak seorang pria paruh baya sedang memegang lengan kiri seorang pria dan menggerak-gerakkannya pelan. Posisinya memutar ke depan dan ke belakang secara konstan.


"Sudah tidak terlalu, Sinshe..."


Kepala pria tua itu mengangguk. Ia pun melepaskan pegangannya dan menuliskan sesuatu di kertas yang ada di mejanya. Sambil menulis, ia bertanya pada pasiennya itu lagi. "Apakah kau masih menggunakan baoding balls dari temanmu yang waktu itu?"


Pasien yang tampak mengenakan kembali kemejanya itu mengangguk. "Ya. Saya masih menggunakannya."


"Kau juga masih membuat roti?"


Kembali kepala Maximus mengangguk. "Ya. Saya masih melakukannya."


"Bagus. Teruslah lakukan itu. Kegiatan menguleni dapat melatih otot-otot bahumu dengan cara yang alami dan tidak terlalu diforsir."


Sang Sinshe akhirnya selesai menulis dan memandang pasiennya lagi. "Bagaimana perasaanmu saat menulis atau beraktivitas menggunakan tangan kirimu?"


"Awalnya masih sulit, tapi saat ini sudah mulai normal lagi. Saya juga sudah bisa melakukan olahraga yang cukup berat dari sekitar 2 tahun yang lalu."


Tampak sang Sinshe mengangguk-angguk pelan. "Untungnya kau seorang ambidextrous, Maximus. Kalau tidak, kecelakaan itu membuatmu akan sangat sulit beraktivitas secara normal."


Sekitar 7 tahun yang lalu, Maximus pernah terjatuh dari kudanya ketika bermain polo. Dan diketahui bahwa ada yang telah menaruh jarum halus di pelana kudanya dengan tersembunyi. Dan semakin kuda itu bergerak, maka jarum itu pun otomatis akan keluar dan menusuknya. Hal ini membuat kudanya mengamuk saat pertandingan dan Maximus pun terjatuh dari kuda jagoannya itu.


Dalam kecelakaan itu, Maximus sempat gegar otak karena benturan dengan tanah. Dan bahunya diketahui retak karena terkena tendangan serta injakan kudanya yang sedang marah. Untungnya ia masih sempat menghindar ketika kudanya akan menginjak d*danya. Kalau tidak, mungkin ia tinggal nama saja saat ini.


Kejadian ini membuat Maximus menyadari kalau ada yang ingin mencelakainya. Oleh karena itu, ia lebih memilih pengobatan alternatif sebagai sarana terapinya. Dan Sinshe Li Wu adalah pilihannya, karena lelaki tua itu juga adalah mentornya sejak ia kecil dulu dan yang mengajarinya bahasa Mandarin hingga fasih.


Perlahan, Maximus mengenakan jasnya kembali. Meski luka luarnya telah lama sembuh tapi terkadang, masih terasa tusukan rasa nyeri di bahu kirinya sampai sekarang. Hal ini membuatnya merasakan rasa sakit yang tidak tertahan, membuatnya beberapa kali harus meminum obat. Hal ini terjadi terutama bila ia terlalu memforsir aktivitas di tangan kirinya.


Duduk di seberang sang Sinshe, Maximus bertanya pelan. "Apakah Anda tidak mau kembali ke Amerika? Posisi Anda yang terlalu jauh seperti ini mulai merepotkan saya."


Dengan malas, sang Sinshe hanya memandang Maximus dari balik kacamata bacanya yang melorot. "Memangnya siapa orang yang butuh pengobatan di sini, Maximus? Kau atau aku?"


Mendengar hal itu, Maximus mendengus pelan dan membuang mukanya. Tampak pria itu duduk dengan menyilangkan kakinya yang jenjang. "Kalau mau, Sinshe dapat menjadi dokter pribadi saya di sana."


"Dan terikat dengan keluarga Berlusconi selama hidupku? Aku belum terlalu g*la harta, Maximus. Tujuanku melakukan pengobatan adalah untuk menyembuhkan orang dan bukan uang."


Perkataan itu membuat Maximus tersenyum miring. "Tapi Anda tetap akan butuh uang untuk hidup..."


"Jangan membolak-balikkan kata-kataku yang dulu, Maximus. Aku memang butuh uang untuk hidup tapi bukan berarti, aku hidup untuk uang. Kau harus ingat itu."