
Dona baru pulang ke apartemennya sekitar jam 19.00. Hari ternyata masih cukup sore, meski tadi ia sudah menghabiskan seharian menemati Kate yang marah-marah di bengkel dan juga akhirnya mengantarkan wanita itu di apartemennya. Ternyata mobilnya masih bermasalah, dan hal ini baru diinformasikan 5 jam setelah mereka menghabiskan waktu untuk menunggu dengan sia-sia.
Karena kemarahan Kate yang telah sampai di ubun-ubunnya, ia akhirnya memutuskan memindahkan mobilnya ke bengkel lain yang memang merupakan langganannya. Hal ini cukup memakan waktu, karena sempat terjadi pertengkaran disebabkan Kate tidak mau membayar ongkos perbaikan apapun. Untungnya owner si bengkel merupakan kenalan dari bengkel langganan Kate dan mereka pun menyelesaikan masalahnya secara internal.
Setelah akhirnya berhasil mengantarkan Kate ke apartemennya, Dona baru menyadari kalau ia belum makan apapun setelah sarapan terakhir tadi di AM Bakery. Perutnya sangat keroncongan saat ini, padahal ia sudah merasa sangat lelah dan mengantuk.
Berusaha menyeret dirinya memasuki apartemennya, wanita itu langsung menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia baru saja meletakkan pan penggorengan di atas kompornya dengan malas, ketika bel pintunya berdering pelan.
Mend*sah lelah, kaki-kakinya berjalan menuju pintu dengan sedikit diseret. Di balik pintu yang dibukanya, ternyata ia langsung berhadapan dengan Anthony yang terlihat sumringah.
"Anthony?"
Pria itu menyodorkan sesuatu di tangannya. Uap panas dari benda itu terasa menguar dan tercium aroma yang menggiurkan, membuat air liur Dona langsung terbit.
"Aku mendengarmu sudah pulang. Kebetulan aku masak makan malam tadi. Kamu mau?"
Kehadiran pria itu membuat hati Dona merasa hangat. Demi sopan-santun dan juga rasa terima kasih, Dona membuka pintunya lebih lebar dan tersenyum samar.
"Mau masuk?"
Undangan itu membuat senyuman Anthony semakin lebar. Dengan bersemangat, pria itu menganggukkan kepalanya. Ketika mangkuk itu telah berada di tangan Dona, barulah Anthony menutup pintu depan pelan. Tampak kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat pemandangan di apartemen wanita itu.
Suasana di apartemen Dona terasa hangat. Selimut tipis tampak tersampir di sofa dan terlihat beberapa lilin aroma terapi terpasang di meja kopi. Ruangan ini didominasi dengan warna cokelat dan juga krem, berbeda jauh dengan apartemen pria itu yang berwarna terang sehingga terkesan dingin dan juga minimalis.
Sambil mengatur makanannya di meja makan kecil, Dona menoleh pada pria itu. "Kamu belum makan juga?"
Tampak Anthony menggelengkan kepalanya pelan. Mendekati Dona, ia malah membantu wanita itu untuk mengatur piring dan sendoknya di sana. "Aku sudah makan. Kamu makanlah."
Ekspresi Dona terlihat tidak enak. Sangat tidak sopan makan sendiri di depan tamunya. "Tapi..."
Pria itu malah menarik kursi untuk Dona, dan tersenyum. "Duduklah. Anggap saja aku memintamu untuk mereview masakanku, agar lain kali aku membawakanmu makanan yang lebih enak."
Terkekeh pelan, akhirnya Dona menuruti perkataannya. Sambil duduk, ia menatap pria itu dengan lebih bersahabat. "Lain kali, aku yang akan memasak untukmu."
Bertumpu di meja makan kecil itu, Anthony memajukan badannya dan tersenyum. Jarak mereka yang cukup dekat, membuat Dona dapat menghidu aroma mint dari mulut pria itu. "Aku akan menagih janjimu itu."
Sedikit canggung, Dona mundur dan mulai memakan masakan pria itu. Selama beberapa menit, keduanya berbincang ringan dan pria itu lebih banyak membiarkan tetangganya makan dengan tenang. Ia hanya memperhatikan dan sesekali tersenyum saat Dona memuji masakannya.
Keduanya pun akhirnya duduk di sofa sambil menonton film. Baru saja Anthony menjelaskan sesuatu, ketika ia merasakan bahu kanannya menjadi lebih berat. Tampak kepala Dona menyender padanya. Wanita itu sudah tertidur dengan sangat pulas di sampingnya. Sepertinya, ia memang sangat kecapekan hari ini.
Anthony mematikan TV yang tadinya sedang menayangkan film dan dengan hati-hati memangku Dona. Perlahan, ia membawa wanita itu ke kamar tidur utama dan membaringkannya di tempat tidur.
Memastikan tubuh wanita itu terselimuti dengan baik, Anthony duduk di sisi tempat tidurnya dan mengusap anak-anak rambut Dona lembut. Pandangannya terlihat tidak bisa dibaca. Selama beberapa saat, ia hanya mengusap-usap kepala wanita itu dengan pelan sampai terdengar suara lirih dari bibir Dona. "Gio..."
Panggilan itu membuat Anthony membeku. Tidak lama terlihat lelehan bening dari salah satu sudut mata Dona, menuruni pipinya yang mulus.
Terlihat pergolakan batin yang kuat dalam mata gelap pria itu sebelum akhirnya ia semakin menunduk, dan menyentuh bibir Dona dengan bibirnya sendiri. Ia mengawali kecupannya dengan lembut dan menutup matanya. Lidahnya perlahan keluar dan menjilati bibir atas wanita itu pelan. Tanpa mampu menahan dirinya, ia semakin memperdalam ciumannya.
Tangan kanannya berada di atas d*da wanita itu dan mer*masnya lembut. Hampir saja pria itu lepas kontrol, sampai wanita itu melenguh dalam tidurnya dan membuat Anthony langsung melepaskan ciumannya.
Matanya mengerjap cepat dan nafasnya memburu. Kedua pipinya memerah. Apa yang barusan akan kau lakukan! Apa kau akan memp*rkosanya dalam tidurnya, id*ot!?
Sedikit tergesa, ia segera bangkit dari duduknya dan langsung keluar dari ruangan itu. Tanpa menoleh lagi, pria itu meninggalkan apartemen Dona dan memasuki apartemennya sendiri. Ia melepaskan pakaiannya begitu saja di lantai dan menuju kamar mandinya dengan terburu-buru.
Dengan tubuh yang polos, ia menyalakan keran air dingin kencang. Kedua tangannya bertumpu di dinding kamar mandi dan kepalanya menunduk dalam. Ia semakin memperderas kekuatan air shower di atasnya, ketika melihat benda di bawah sana masih tampak tegak berdiri seperti bendera.
Anthony menengadahkan kepalanya tinggi, membiarkan air kencang itu menyirami tubuh bawahnya yang membandel. Pria itu ingin menjerit frustasi tapi ia tidak bisa. Sudah terlalu lama ia menunggu. Sudah sangat lama. Dan ia mulai tidak sabar kalau harus menunggu lagi.
Menyadari usahanya sia-sia, salah satu tangan pria itu akhirnya menggenggam senjatanya. Dengan kasar, kelima jari itu melakukan tugasnya sampai pria itu barulah merasa puas.
***
Flashback 6 tahun yang lalu. Perayaan pesta menjelang tahun baru di salah satu Hotel CBG, Italia.
Dalam salah satu kamar VVIP, tampak sepasang pria dan wanita yang sedang melakukan aktivitas int*m.
Tubuh si pria tampak menghentak-hentak keras pada kepala wanita yang sedang berjongkok di depannya. Tangan pria itu memegang kencang rambut si wanita dan menjambaknya. Hentakan itu semakin lama semakin kencang, sampai akhirnya tubuh si pria bergetar kuat dan ia menekan tubuhnya sendiri ke wajah wanita di bawahnya. Meski si wanita ingin mundur, pria itu baru melepasnya saat ia sudah merasa puas.
Saat pria itu akhirnya mundur, ia langsung membersihkan asetnya dan mengamankan senjatanya dalam sarangnya, meski b*rung itu tampaknya masih sangat perkasa untuk terbang lebih jauh. Hal ini membuat wajah wanita yang masih berjongkok itu berkerut tidak senang.
Dengan kesal, wanita itu bangkit dari posisi berlututnya dan ia membersihkan mulutnya dengan tisu basah dari tas tangannya. Wanita itu menoleh pada pria di sampingnya yang tampak santai membereskan pakaian pestanya sendiri. "Max."
"Hem?"
Semakin kesal dengan jawaban asal pria itu, si wanita sedikit berteriak pada lelaki bernama 'Max' ini. "Max! Sampai kapan kau mau melakukan hal ini padaku? Kita sudah bertunangan, bukannya seharusnya hubungan kita lebih jauh dibanding tadi?"
Perkataan itu membuat Max menoleh padanya. Bibirnya tampak tersenyum samar, tapi kedua matanya dingin. "Bukannya hubungan kita sudah lebih jauh dibanding sebelumnya? Kalau tidak, kita tidak mungkin melakukan kegiatan menyenangkan tadi kan?"
"Tapi aku tidak suka, Max! Aku tidak puas! Selama tiga kali kita bertemu, hanya kaulah yang mendapatkan kepuasan di sini! Sedangkan aku tidak dapat apa-apa!?"
Masih dengan santai, kedua tangan Max merapihkan rambut tembaganya. Gerakan ini membuat pria itu terlihat lebih seksi, dan wanita di depannya menelan ludahnya keras. H*srat wanitanya mulai bangkit.
Mengumpulkan segenap keberaniannya, wanita itu mulai melangkah mendekati Max dan baru akan menyentuh pria itu ketika Max berkata dingin. "Seingatku, aku tidak pernah melarangmu untuk mencari kepuasan dengan cara lain, Nicolette. Dari awal aku sudah mengatakan, kalau aku benci untuk disentuh oleh siapapun. Jadi jangan pernah menyentuh tanpa seizinku, atau keluarga Cesare yang akan menanggungnya."
"Aku akan mencari pria lain untuk memuaskanku, Max!"
Ancaman itu membuat Max terkekeh pelan. "Kau lakukanlah itu. Aku tidak akan pernah mencegahmu."
Setelah mengatakan itu, Max pun langsung meninggalkan ruangan. Kedua tangan Nicolette terkepal keras dan matanya membara api kemarahan saat memandang punggung Max yang menghilang di balik pintu.